Kasus Kotamadya Surabaya*
Pertambahan penduduk dan peningkatan pembangunan di perkotaan telah mempersempit ruang gerak warga kota. Kebutuhan lahan untuk permukiman, industri, perdagangan, pemerintahan, dan prasarana perkotaan meningkat tajam. Benturan berbagai kepentingan tersebut menimbulkan persengketaan tanah baik antar warga kota sendiri, antara warga dengan pihak swasta maupun dengan pemerintah daerah. Sungguh tragis dalam konflik kepentingan itu justeru rakyat kecil selalu berada pada pihak yang kalah. Kepentingan pemodal ternyata lebih diuntungkan dalam pertarungan memperebutkan ruang dan lahan perkotaan.
Kecenderungan yang terjadi ketika kota-kota di Negara Dunia Ketiga makin metropolis adalah bahwa laju pertumbuhan penduduk yang begitu pesat tidak bisa lagi diantisipasi oleh daya dukung kota secara layak. Hal ini membawa berbagai akibat seperti terungkap dalam banyak kajian para ahli.1 Park dan Burgess,2 sejak dini telah mengkaji bahwa tekanan arus urbanisasi yang melonjak begitu cepat membawa akibat terhadap pengaturan tata ruang kota yang pada umumnya kurang menguntungkan kelompok masyarakat marjinal. Pola pengembangan kota yang cenderung konsentrik dan memusat, tidak saja menyebabkan kelompok masyarakat marginal makin terdesak ke daerah pinggiran kota atau permukiman kumuh, tetapi acapkali kelompok masyarakat miskin kota harus berpuas diri dengan berbagai fasilitas publik yang sangat minim, jauh berbeda dari warga kota yang ekonominya tergolong mampu.
* Tulisan ini dicuplik dari sebagian hasil penelitian yang dilakukan penulis berjudul “Prosedur dan Sengketa Masalah Pertanahan di Kotamadya Surabaya” (1994). Penulis mengucapkan terimakasih kepada Pusat Antar Universitas Ilmu-Ilmu Sosial UI yang telah memberi kesempatan kepada penulis untuk melaksanakan penelitian ini.
1 Pandangan berbagai ahli tentang dampak sosial-ekonomi yang timbul akibat perkembangan kota yang terlalu cepat bisa dibaca dalam: Truman Asa Hartshorn, Interpreting The City, An Urban Geography (New York: John Wiley & Son, 1980) dan PJM Nas, Kota di Dunia Ketiga, Pengantar Sosiologi Kota (Jakarta: Bhratara Karya Aksara, 1979 dan 1984).
2 Lihat Park dan Burgess, PJM Nas, ibid.