Prisma

Pembangunan: Mengapa Harus Urusan Rakyat Kecil?

I

Tiba-tiba, dunia modern dilanda krisis. Serangkaian krisis berkecamuk dan datang melanda sekaligus: krisis moneter, krisis energi, krisis sumber alam, dan paling dahsyat, krisis pangan. Semuanya itu membawa pula akibat pada bentuk dan bidang krisis lainnya: krisis teknologi, krisis moril, krisis kedaulatan bangsa, dan sebagainya. Ia tidak hanya mencemaskan negara-negara miskin dan belum sempat berkembang, tapi lebih membawa kebingungan dan mengancam negara-negara kaya yang telah tinggi tingkat industri dan perkembangan masyarakatnya. Tidak mengherankan, bila semua cerdik-cendekia dari dunia belahan Utara dikerahkan untuk menyelidiki sumber dan sebab krisis tersebut. Hampir semua pemerintah negara-negara kaya jadi pusing, repot mengerahkan segala dana, daya dan upaya untuk mencari jalan bagaimana bisa ke luar dari berbagai krisis itu. Organisasi-organisasi internasional, badan-badan khusus Perserikatan Bangsa-bangsa sibuk mengadakan konferensi dan simposium, menyusun rencana dan program yang beraneka ragam banyaknya guna mencoba mengatasi krisis dunia yang begitu dahsyat mengancam umat manusia, menantang eksistensi demikian banyak bangsa dan negara.

Sebegitu jauh, belum terlihat tanda-tanda bahwa krisis tadi akan teratasi. Kegoncangan moneter belum lagi reda, tingkat inflasi di negara-negara maju masih mengancam ekonomi negara sedang berkembang. Beberapa tanda pengurangan konsumsi listrik, diplomasi minyak serta peredaan keadaan di Timur Tengah belum menjamin teratasinya krisis energi. Sumber-sumber daya alam, apalagi yang tak bisa diperbaharui lagi, masih terus saja dikuras tanpa kenal batas, guna melayani kebutuhan industri yang kian hebat mengotori alam. dan mencemarkan makhluk hidup di bumi yang makin sempit ini. Sementara itu lebih dari 25 negara anggota PBB tetap saja melaporkan ratusan ribu penduduk yang setiap hari menderita kelaparan di Bangladesh, Angola, India, Somalia, ataupun kekurangan pangan yang mencekam rakyat Tanzania, Etiopia, Afganistan, El Salvador, dan juga sebagian penduduk Indonesia. Secara kasar, paling kurang ada sejumlah 460 juta umat manusia (tidak termasuk RRC) di negara-negara sedang berkembang dewasa ini yang menderita kekurangan gizi dan makanan. Mengapa semuanya ini? Bukankah kita telah memasuki Dasawarsa Pembangunan ke II? Di mana komitmen semua bangsa warga PBB yang dicanangkan sejak lebih dari 10 tahun yang lalu untuk memerangi kelaparan, kemiskinan dan keterbelakangan dari bagian terbesar penghuni bumi ini di belahan Selatan? Dengan segala program pembangunan untuk membantu negara-negara sedang berkembang, mengapa bukan saja jurang perbedaannya makin menganga, tapi mereka yang melarat justru makin tergantung pada yang kaya?

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan