Ketika seorang pemerhati Islam dari Perancis menanyakan apakah ada pemikiran baru yang layak diterbitkan untuk pembaca internasional, saya jadi tertegun. Memang banyak pemikiran baru, yang terkadang terasa mengejutkan. Tetapi umumnya lebih merupakan lontaran situasional. Karena itu, relevansinya memang agak terbatas pada situasi Islam di sini. Sedemikian rupa, sehingga seorang anak muda lebih suka menyebut cetusan-cetusan pemikiran itu sebagai bagian dari kajian “santriologi,” bukan kajian Islam.
Ungkapan rekan muda itu mungkin hanya bermaksud melucu, tetapi terasa mengandung pengamatan yang cermat. Gagasan-gagasan yang muncul umumnya memang menyatakan semacam pendirian baru sebagai tanggapan terhadap perkembangan keadaan, terutama sekali situasi politik. Dengan susah payah para pengamat berusaha membikin peta, untuk tak lama kemudian ditinjau kembali. Peta-peta itu tentunya kecil saja, sebab lingkup yang diamati juga terbatas. Dalam peta-peta semacam itulah para pengamat berbicara tentang santri-abangan, modernis dan tradisionalis, atau yang lebih mutakhir lagi, aliran pembaharuan.
Peta santri-abangan sedang mengalami perubahan dengan derasnya proses peneguhan kembali keislaman, dengan makin akrabnya kalangan santri bergumul dalam lingkungan birokrasi, yang semula dianggap sebagai ‘domain’ priyayi. Isyarat-isyarat politik seperti pembentukan ICMI, BMI, dan naiknya tokoh yang dianggap santri ke posisi kunci, lalu dianggap sebagai pertanda melebarnya jalur hijau itu. Ini menyebabkan perbincangan mengenai Islam dan negara dalam gaya lama lalu kehilangan pemicu. Beramai-ramai orang mengatakan tak ada soal antara Islam dan nasionalisme, atau antara Islam dan negara. Semua itu hanyalah “isyu,” atau bagian dari politik masa lalu.
Demikian juga soal modernis dan tradisionalis, yang sebelumnya seolah-olah merupakan semacam demarkasi komunal, telah mulai memudar sebagai bahan perbincangan. Kelembagaan dan organisasi yang semula berdiri menurut demarkasi itu memang masih ada, tetapi masalah yang menjadi dasar perdebatan sudah menghilang. Yang tinggal adalah bagaimana lembaga-lembaga itu menanggapi dan menentukan posisi terhadap isyarat-isyarat dari sentrum politik. Soal-soal khilafiah memang masih ada, tetapi karena tidak menjadi agenda besar lagi, seolah-olah sudah hilang dari peredaran. Secara keagamaan ada semacam kerukanan kembali, dengan menghargai pilihan masing-masing tanpa ribut-ribut.
Soal gagasan pembaharuan kadang-kadang masih diperbincangkan orang, ditambahkan seperti berlalu begitu saja. Secara umum, suasana terasa adem-ayem, suatu suasana yang enggan mengundang cetusan gagasan yang bukan-bukan. Maka kepada tamu dari Paris itu pun saya hanya mengabarkan hal yang adem-ayem itu.
Memang timbul kecemasan, apakah suasana yang tenang itu bukan hanya sementara. Bukankah suasana itu timbul karena ada semacam kebutuhan politik, yang mungkin sementara sifatnya? Bulan madu politik, seperti bulan madu umumnya, biasanya pendek saja.
Sayang sekali, banyak gagasan baru yang muncul justeru untuk menanggapi perubahan situasi yang sementara itu. Hingga ketika situasi berubah, gagasan itu seperti kehilangan relevansinya.
Barangkali semua ini hanyalah resiko dari mencuatnya ruang diskursus yang sejak berakhirnya zaman imperial lalu tersekap dalam keasyikan negara-bangsa. Dan dalam negara-bangsa, wacana yang dipancarkan dari sentrum politik yang dianggap mewakili satuan itu lantas menjadi acuan. Semua wacana mau tak mau harus beredar di sekitar acuan itu, atau kehilangan relevansinya. Dan karena naluri sentrum itu makin hari makin memusat, maka lingkaran wacana itu juga makin lama makin mencut. Akibatnya, gagasan-gagasan yang muncul juga tersekap dalam universum yang menyusut itu. Tak heran bila orang tak akan bertemu dengan semacam dentuman besar dalam wacana ini.
Tetapi proses demikian tak hanya terjadi di sini. Di mana-mana kita makin sulit menemukan Iqbal yang lain, atau Abduh yang baru. Kadang-kadang masih ada beberapa cetusan dari Timur Tengah, Afrika Utara, atau anak benua India, tetapi seringkali hal itu hanya menjawab persoalan setempat dan sesaat. Di kalangan terpelajar memang masih ada perbincangan kecil tentang Arkoun, Ali Shariati, Al-Farouki, Hasan Hanafi, Fazlur Rahman, Husein Nasr, atau Ahmad An-Na’im, tetapi lingkaran ini kecil saja. Bahkan untuk merangsang gagasan-gagasan baru pun tidak-cam perbincangan umum yang menggerakkan. Memang lingkaran-lingkaran kecil itu mulai tumbuh di beberapa sentrum pemikiran Islami, tetapi sulit menyebutnya sebagai jaringan, apalagi untuk memadukannya menjadi lingkaran besar. Di satu pihak, hal itu mungkin menunjukkan awal penaburan benih, tetapi sulit mengharapkan pertumbuhananya lebih lanjut.
Apakah itu terjadi karena isolasi, karena semakin asyiknya masing-masing dengan urusan setempat, hingga tak terjadi perbincangan yang berskala besar? Apakah itu terjadi karena tak ada lagi semacam sentrum di dunia Islam, sehingga tak lagi titik untuk menjadi poros peredarang gagasan-gagasan? Atauakah karena gagasan tentang universalitas Islam makin terdesak oleh universum moderen yang konon sedang membanjiri globalisasi? Entahlah!
Mungkin saja apa yang disebut sebagai “Dunia Islam” kini lebih menyerupai generalisasi dari satuan-satuan kecil, yang umumnya dibatasi oleh negara-bangsa, dan masing-masing sibuk berdialog dengan agenda negara-bangsa masing-masing. Barangkali juga “Dunia Islam” itu sudah merupakan mitos dari dulu, yang tetap hidup karena sekali-sekali ada kebutuhan untuk menyatakan solidaritas, rasa kesetiaan bersaudara. Di bidang ritual, hal ini memang diperteguhkan oleh ibadah haji, tatapi di luar pertemuan sesaat itu, tak ada jalan untuk saling mengenal lebih dalam lagi. Di luar berita-berita tentang kejadian di Palestina, Bosnia, Asia Tengah, kita tak tahu banyak tentang apa yang sebenarnya sedang bergolak di dalam.
Walhasil, masalah-masalah dalam negeri rupanya telah amat merepotkan masing-masing umat. Sehingga gagasan dan pemikiran pun banyak berputar di sini. Maka, kalau pun ada pemikiran baru yang melampaui kesempitan ruang dan waktu itu, siapa yang akan peduli?