Prisma

Pendidikan Keragaman: Meretas Sekat Prasangka

Sebagai negara-bangsa majemuk dengan ratusan etnis, puluhan agama dan kepercayaan lokal, keragaman budaya, adat-istiadat, bahkan beragam ras, Indonesia pasca-Reformasi menghadapi persoalan integrasi sebagai sebuah bangsa. Pokok soal utama terletak pada menguatnya politik identitas dari Islam sebagai agama mayoritas, serta kecenderungan intoleransi berdasarkan sentimen bahkan prasangka keagamaan. Dalam konteks tersebut, pendidikan formal maupun informal untuk mengedepankan keberagaman menumbuhkan kembali asa kebangsaan, menghargai perbedaan serta menghormati hak dan kebebasan beragama/berkeyakinan orang lain menjadi sentral persoalan.

Sebagai organisasi masyarakat sipil, Yayasan Cahaya Guru (YCG) selama lebih dari satu dasawarsa sangat memperhatikan upaya pengembangan tema keragaman dan kebangsaan dalam pendidikan. Bagaimana pergulatannya menemukan format yang tepat dan efektif untuk membuka dialog—mereka menyebutnya “‘ruang perjumpaan”—di antara para pendidik, guru, dan siswa, serta para aktivis di tingkat komunitas dan sekolah formal untuk terlibat membangun kerja sama dan mengidentifikasi masalah di lingkungan terdekat. Untuk menemukan kunci dan menggali praktik-praktik terbaik dari proses pembelajaran memajukan keragaman itu, Harry Wibowo dari Prisma mewawancarai Henny Supolo Sitepu, pendiri dan Ketua Dewan Pengurus YCG, akhir Desember 2019 di Jakarta. Berikut petikan wawancaranya.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan