KRISIS kertas pada saat kita sedang menyambut pesta emas kemerdekaan Indonesia memang merupakan peristiwa buruk yang cukup memprihatinkan. Harga koran, majalah dan buku naik. Beberapa penerbit media massa terutama di daerah-daerah mulai mengurangi jumlah halaman, bahkan ada yang menghentikan penerbitannya. Terbatasnya jumlah kertas koran – mungkin lebih tepat hilangnya kertas koran dari perdagangan umum – konon adalah faktor penyebab petaka buruk tersebut.
Ini adalah serangkaian krisis atau kemelut setelah kita mengalami krisis semen dan krisis lain sebelumnya. Menteri Perindustrian kabarnya heran kenapa kertas hilang dari pasaran. Kita pun lebih tercengang lagi kenapa pejabat tinggi pemerintah itu sampai heran begitu. Bagaimana koordinasi antara Departemen Perindustrian, Departemen Perdagangan, Departemen Penerangan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan instansi terkait lainnya dalam hal pasokan bahan baku penerbitan di Indonesia? Memang kita tidak perlu mencari “kambing hitam” dalam menelusuri lingkaran setan ini. Namun dalam kasus ini semestinya ada pihak yang bertanggungjawab. Tanpa tanggungjawab – dalam hal ini kepada kepentingan masyarakat umum – tugas mereka patut kita gugat.
Tidak bisa dipungkiri bahwa kebutuhan akan bahan baku kertas senantiasa meningkat sebagai konsekuensi logis dari perkembangan masyarakat. Tingkat “melek huruf” rakyat Indonesia meningkat pesat selama ini dan di masa mendatang, apalagi pemerintah telah mencanangkan Wajib Belajar 9 tahun sejak 1994 yang lalu. Kebutuhan buku-buku pelajaran meningkat, baik dalam segi jenis-jenis buku dan kuantitas oplahnya. Tuntutan itu tidak bisa dicegah apalagi direm. Kesadaran masyarakat untuk meningkatkan kualitas rakyat lewat membaca buku dan media massa harus tetap dipelihara dan dikembangkan. Mereka dan tentu saja kita sekalian sadar betul akan amanat konstitusi negara yaitu “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa.”
Penerbit Prisma dan buku di lingkungan LP3ES sadar betul terhadap petuah tersebut. Kita tentu tidak mengharapkan Anda menghentikan diri sebagai pelanggan produk-produk dari LP3ES bila kelak ada kenaikan harga. Itu tidak bisa dihindari mengingat adanya kenaikan harga kertas dan biaya cetak. Memang masyarakat terpaksa harus membayar mahal menghadapi krisis kertas. Ini adalah “pil pahit” yang mesti kita telan. Namun pil itu kiranya dapat menjadikan obat mujarab bagi penyegaran diri kita. Tentu saja kita sekalian tidak mengharapkan kenaikan harga tersebut akan membawa Anda dan penerbit masuk ke jurang kehancuran. Anda dan kami adalah satu dalam kebersamaan dan kesatuan. Redaksi
__________________________________________________________
Penerbit: PT Pustaka LP3ES Indonesia, Anggota SPS. ISSN 0301-6269. SIUPP: No. 072/SK/MENPEN/SIUPP/ D.I/1986, 4 Maret 1986.
Pemimpin Umum: Arselan Harahap. Pemimpin Perusahaan: Maruto MD. Pemimpin Redaksi: Ismid Hadad. Dewan Redaksi: Daniel Dhakidae (Ketua), Taufik Abdullah, M. Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin, Rizal Ramli, Didik J. Rachbini, Vedi R. Hadiz. Redaksi Pelaksana: Paulus Widiyanto Staf Redaksi: E. Dwi Arya Wisesa, Harry Wibowo Sekretaris Redaksi: Eriko Sustia.
Produksi: Bambang Soetedjo (Manajer), Awan Dewangga, Yahya Sukaria, Idjas Saham, Teguh Supriyanto. Pemasaran: Arys Sutarman (Manajer), Anda Z. Noerzy, M. Sholeh, Jinan Muhammad. Iklan: Maruto MD. Tata Usaha: Soetadi Rahardjo (Kepala), Sudartoto, M. Jayani SA, Achmad Rifai. Alamat: Jl. S. Parman 81, Jakarta 11420 Kotak Pos 6275/11062 Telefon Redaksi: 5663525 Pemasaran/Iklan: 5663527 Tata Usaha: 5667139, 5667141, 5674211. Fax.: (021) 5683785. Bank: BUKOPIN Cabang S. Parman Jakarta No. Rekening 14.0010. 2.003 BNI Cabang Senayan Jakarta No. Rekening 001.284.001. Pencetak: PT. Temprint (isi di luar tanggungjawab percetakan)