Prisma

Pengantar Redaksi

BARANGKALI hanya sedikit orang Indonesia yang mengaku dirinya tidak berasal dari desa. Dari antara yang sedikit itu mereka adalah warga kelahiran kota-kota besar. Ketertarikannya terhadap kehidupan dan persoalan desa mungkin kecil sekali untuk tidak mengatakan nihil. Bagi mereka desa bagaikan sesuatu yang abstrak, gelap dan tertutup. Mungkin mereka memahami desa adalah lahan pertanian, berisikan perumahan yang kumal, diwarnai kejorokan penduduk dan hal-hal buruk lainnya. Desa adalah keterbelakangan dan keserbakurangan.

Berbeda halnya dengan orang-orang yang memang merasa sebagai “produk desa” yang masih tetap memiliki komitmen terhadap kehidupan dan persoalan yang dihadapi orang-orang desa. Mereka memandang desa adalah sumber dan benteng kehidupan. Desa adalah pensuplai bahan makanan dan sumber devisa negara. Meskipun desa adalah masa lalu, tetapi juga masa kini dan masa mendatang. Dari desa mereka berasal dan dilahirkan, untuk kepentingan desa mereka berfikir dan berbuat, serta mau kembali ke daerah asal dan ingin dikebumikan di desa bila mereka meninggal kelak. Desa adalah titik awal sekaligus titik akhir.

Meskipun desa berkonotasi terkebelakang – kota berkesan kemajuan – namun ia tetap subjek dan obyek. Bagi kalangan akademisi desa adalah obyek penelitian. Banyak ilmuwan memperoleh gelar kesarjanaannya dengan pilihan tema desa. Sebutlah para pakar di perguruan tinggi yang ahli dalam soal desa. Misalnya Prof. Sayogyo, Prof. Mubyarto, Prof. Lukman Soetrisno dan lain-lain. Jumlah pemerhati desa mungkin dinilai kurang populer, tetapi bukan berarti mereka dapat disepelekan. Tatkala pemerintah menggencarkan pengentasan kemiskinan dan pelaksanaan program IDT, seorang pakar yaitu Prof. Dr. Mubyarto diminta untuk masuk dalam struktur pemerintahan dan ikut merancang penuntasan kemiskinan di desa. Dalam dua tahun berjalan program itu telah membuahkan hasil. Orang dapat menilai program ini kalah cepat berkembang dibandingkan dengan program industrialisasi. Penilaian dari kalangan pakar demikian itu sah dan wajar saja. Namun penilaian penduduk miskin di pedesaan terhadap program IDT yang menyentuh kebutuhan hidupnya barangkali adalah suatu hal yang patut diutamakan.

Direktorat Jenderal Pembangunan Masyarakat Desa, dengan pimpinannya Drs. H.H. Siagian, telah berbuat banyak bagi pengembangan desa. Tetesan dana pembangunan desa yang mengucur dari instansi ini juga berjumlah besar. Namun puluhan juta dari 60 ribu lebih desa di Indonesia masih terus membutuhkan permodalan, pendidikan dan keterampilan. Perhatian dan komitmen seluruh instansi pemerintah, baik Pusat maupun Daerah, harus ditingkatkan. Kalau pun Prisma kembali mengangkat persoalan desa dalam edisi ini, itulah komitmen kita bersama yang tiada akhir. Redaksi

_______________________________________________________

Penerbit: PT Pustaka LP3ES Indonesia, Anggota SPS. ISSN 0301-6269 SIUPP: No. 072/SK/MENPEN/SIUPP/ D.I/1986, 4 Maret 1986

Pemimpin Umum: Arselan Harahap Pemimpin Perusahaan: Maruto MD. Pemimpin Redaksi: Ismid Hadad Dewan Redaksi: Daniel Dhakidae (Ketua), Taufik Abdullah, M. Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin, Rizal Ramli, Didik J. Rachbini, Vedi R. Hadiz Redaktur Pelaksana: Paulus Widiyanto Staf Redaksi: E. Dwi Arya Wisesa Sekretaris Redaksi: Eriko Sustia

Produksi: Arys Sutarman (Manajer), Awan Dewangga (Wakil Manajer), Yahya Sukaria, Idjas Saham, Teguh Supriyanto Pemasaran: Maruto MD. (Pjs. Manajer), M. Sholeh (Wakil Manajer) Iklan: Arys Sutarman Tata Usaha: Sudartoto (Kepala), Achmad Rifal, Masita Alamat: Jl. S. Parman 81, Jakarta 11420 Kotak Pos 6275/11062 Telefon Redaksi: 5663525 Pemasaran/Iklan: 5663527 Tata Usaha: 5667139, 5667141, 5674211 Fax.: (021) 5683785 Bank: BUKOPIN Cabang S. Parman Jakarta No. Rekening 14.0010, 2.003 BNI Cabang Senayan Jakarta No. Rekening 001.284.001 Pencetak: PT. Temprint (isi di luar tanggungjawab percetakan)

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan