Prisma

Pengantar Redaksi

SEKRETARIS sebuah perusahaan menengah pernah iseng-iseng putar telefon “Kuis Jari-Jari”. Terhadap pertanyaan yang diajukan pemandu acara, ternyata jawabannya benar, dia ketiban rezeki nomplok Rp. 4 juta. Bukan main gembiranya! Hanya karena keisengannya, cewek ini berhasil memperoleh sejumlah uang yang nilainya sebesar gajinya dalam setahun. Tanpa kerja keras, hanya bernasib baik, putaran telefon jari-jarinya yang lentik berhasil menembus antrian panjang orang-orang dari seluruh penjuru nusantara yang berlomba mengadu untung untuk menjawab pertanyaan Pepeng, pembawa acara “Kuis Jari-Jari” di televisi. Dia adalah seorang pemenang dari puluhan juta penonton televisi yang terkesima namun kalah dalam perebutan uang.

Banyak orang dengan mudah mendapatkan uang, tetapi sangat banyak manusia Indonesia amat sulit memperoleh duit. Banyak orang kaya di Indonesia, namun sebaliknya sangat banyak orang yang miskin. Beberapa majalah menulis laporan peringkat orang kaya di dunia, daftar urutan terbesar gaji manajer profesional di Indonesia, namun belum ada peringkat orang miskin di dunia, juga daftar gaji terkecil buruh miskin di negeri ini. Pemerintah telah menetapkan Upah Minimum Regional (UMR) bagi buruh, namun tidak ada ketentuan berapa upah tertinggi seorang manajer di Indonesia. Tragis! Seorang manajer profesional bercerita, bahwa dia pernah mengajak dua kolega bisnis untuk makan siang di sebuah restoran mewah untuk lobby bisnis. Biaya lunch mereka bertiga Rp 450 ribu atas beban perusahaan. Sedangkan buruh-buruh di perusahaan mereka dengan uang makan Rp 1000,- harus berdiri, berjongkok dan berpanas-panasan di luar pagar hanya untuk makan semangkok bakso. Ironis!

Yang besar semakin besar, yang kecil tetap kecil, karena kenaikan penghasilan kelompok menengah dan kelompok atas lepas bebas tanpa kendali, sedangkan yang kecil diatur-atur dan ditekan serendah-rendahnya. Yang enak makin keenakan dengan tunjangan fasilitas yang wah, tetapi yang terhimpit kian tercekik dan tertindih di titik nadir kesusahan. Potret kesenjangan sosial ekonomi terpampang di hadapan kita, baik praktisi bisnis, pemerhati sosial, cendekiawan dan para pengambil keputusan negara. Apakah ketidakadilan dan kesenjangan tersebut merupakan ekses pembangunan yang sedap sebagai tontonan? Ataukah sekedar obyek penelitian bagi orang yang mengejar gelar-gelar kehormatan? Panorama ini memang menyesakkan sekaligus menyakitkan. Tetapi masyarakat kini terlanjur dididik untuk menonton kemudahan orang memperoleh rezeki tiban lewat TV, atau kegampangan pengusaha memperoleh kredit trilyunan rupiah.

Nilai-nilai kemanusiaan tampaknya terabaikan; tenggang rasa atau tepo seliro tersisih. Keadilan, nun jauh di awang-awang. Redaksi

_________________________________________________________

Penerbit: PT Pustaka LP3ES Indonesia, Anggota SPS. ISSN 0301-6269 SIUPP: No. 072/SK/MENPEN/SIUPP/ D.I/1986, 4 Maret 1986

Pemimpin Umum: Arselan Harahap Pemimpin Perusahaan: Maruto MD. Pemimpin Redaksi: Ismid Hadad Dewan Redaksi: Daniel Dhakidae (Ketua), Taufik Abdullah, M. Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin, Rizal Ramli, Didik J. Rachbini, Vedi R. Hadiz Redaktur Pelaksana: Paulus Widiyanto Staf Redaksi: E. Dwi Arya Wisesa

Sekretaris Redaksi: Eriko Sustia Produksi: Arys Sutarman (Manajer), Awan Dewangga (Wakil Manajer), Yahya Sukaria, Idjas Saham, Teguh Supriyanto Pemasaran: Maruto MD. (Pjs. Manajer), M. Sholeh (Wakil Manajer) Iklan: Arys Sutarman Tata Usaha: Sudartoto (Kepala), Achmad Rifai, Masita Alamat: Jl. S. Parman 81, Jakarta 11420 Kotak Pos 6275/11062 Telefon Redaksi: 5663525 Pemasaran/Iklan: 5663527 Tata Usaha: 5667139, 5667141, 5674211 Fax.: (021) 5683785 Bank: BUKOPIN Cabang S. Parman Jakarta No. Rekening 14.0010. 2.003 BNI Cabang Senayan Jakarta No. Rekening 001.284.001 Pencetak: PT. Temprint (isi di luar tanggungjawab percetakan)

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan