Prisma

Pengantar Redaksi

KEBIASAAN merantau ternyata bukan hanya milik etnis Minangkabau melainkan menjadi kebiasaan banyak etnis di Indonesia. Tengoklah masyarakat kota-kota besar di negeri ini, pastilah terdapat etnis-etnis nusantara seperti Tapanuli, Sunda, Bugis, Banjar dan lain-lain tinggal di situ. Pada umumnya dorongan utama mereka merantau adalah desakan ekonomi. Para perantau menilai kota adalah gula yang menarik minat. Ada banyak kesempatan kerja yang menggiurkan di kota. Asalkan mau bekerja apa saja, pastilah bisa hidup, bahkan memperoleh pendapatan lebih besar daripada di desa. Daya pikat ekonomi juga diikuti dan dilengkapi oleh tarikan status sosial. Ada kebanggaan tersendiri menjadi orang kota. Sebutan orang kota lebih bergengsi daripada orang desa.

Kebanggaan para perantau tampak sekali bila mereka mudik pada hari-hari raya. Keberhasilannya di kota dipertontonkan kepada warga kampung halamannya dengan berbagai simbol. Mulai dari pakaian, penampilan, tutur kata sampai gaya hidup yang melekat pada diri perantau. Pokoknya mereka menjadi orang lain. Alhasil lahirlah panggilan yang baru, Johnny, padahal namanya dulu Djono, atau Ronny yang sebelumnya adalah Sarono; berubahlah menjadi Mince yang semula adalah Mimin, dan seterusnya. Dandanan mereka makin seronok; wajahnya kian cantik karena di-make up; celana blue jeans makin ketat melekat di badan atau T-shirt merah menyala membungkus tubuhnya yang kian sintal dan lain-lain. Kini mereka telah naik ke tingkat kehidupan yang lebih baik. Orang-orang desa beranggapan, bahwa dari kotalah tetesan pendapatan dan kemakmuran itu mengucur. Belajar dari pengalaman kawan-kawan dan sanak saudaranya, akhirnya banyak orang desa membanjiri kota-kota kabupaten, provinsi dan ibukota negara.

Ada hal positif dan ada pula hal negatif yang dibawa pulang kampung oleh para perantau. Namun plus-minus hal itu tergantung dari sudut pandang mana persoalan tersebut akan ditilik. Memang, kedatangan orang-orang desa ke kota senantiasa dipersoalkan. Pemda DKI Jakarta bahkan berusaha keras membendung banjiran migran-migran yang tidak memiliki keterampilan yang memadai bermukim di kota metropolitan Jakarta. Para pendatang yang tinggal di kawasan kumuh, pinggir rel kereta api, bantaran atau tepi sungai dianggap sebagai beban pemerintah kota. Mereka digusur lalu dipulangkan ke desa asal. Berkali-kali tindakan itu dilakukan, namun tetap saja arus pendatang kian deras menyerbu kota. Selain mencari sumber penghidupan, mereka juga berusaha meningkatkan status sosialnya. Kalau belum mungkin bagi dirinya, barangkali impian mereka baru akan terwujud bagi keturunannya kelak, entah kapan. Lalu apakah memang harus seburuk itukah sikap dan perlakuan terhadap para pendatang? Redaksi

__________________________________________________

Penerbit: PT Pustaka LP3ES Indonesia, Anggota SPS. ISSN 0301-6269 SIUPP: No. 072/SK/MENPEN/SIUPP/ D.I/1986, 4 Maret 1986

Pemimpin Umum: Arselan Harahap Pemimpin Perusahaan: Maruto MD. Pemimpin Redaksi: Ismid Hadad Dewan Redaksi: Daniel Dhakidae (Ketua), Taufik Abdullah, M. Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin, Rizal Ramli, Didik J. Rachbini, Vedi R. Hadiz Redaktur Pelaksana: Paulus Widiyanto Staf Redaksi: E. Dwi Arya Wisesa Sekretaris Redaksi: Eriko Sustia

Produksi: Arys Sutarman (Manajer), Awan Dewangga (Wakil Manajer), Yahya Sukaria, Idjas Saham, Teguh Supriyanto Pemasaran: Maruto MD. (Pjs. Mar.ajer), M. Sholeh (Wakil Manajer) Iklan: Arys Sutarman Tata Usaha: Sudartoto (Kepala), Achmad Rifai, Masita Alamat: Jl. S. Parman 81, Jakarta 11420 Kotak Pos 6275/11062 Telefon Redaksi: 5663525 Pemasaran/Iklan: 5663527 Tata Usaha: 5667139, 5667141, 5674211 Fax.: (021) 5683785 Bank: BUKOPIN Cabang S. Parman Jakarta No. Rekening 14.0010. 2.003 BNI Cabang Senayan Jakarta No. Rekening 001.284.001 Pencetak: PT. Temprint (isi di luar tanggungjawab percetakan).

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan