PADA akhir April 1996 rakyat, bangsa dan negara Indonesia kehilangan seorang puterinya — Ibu Siti Hartinah Soeharto. First Lady Indonesia ini secara mendadak meninggal dunia tatkala masa jabatan Presiden Soeharto baru berjalan separo dan akan rampung pada Maret 1998 mendatang. Karena First Lady tidak tergantikan, maka penampilan Presiden Soeharto sehari-hari kini senantiasa sendiri. Hal ini sungguh merupakan suatu pemandangan yang lain dari penampilan hampir 30 tahun terakhir dalam wajah perpolitikan nasional. Masa berkabung selama 40 hari merupakan ungkapan rasa bela sungkawa yang paling dalam dari seluruh rakyat, bangsa dan negara Indonesia kepada Ibu Tien Soeharto.
Selain peristiwa menyedihkan itu, wajah perpolitikan Indonesia ternyata juga sedang diselimuti awan mendung. Kedukaan ini terpancar pada kontroversi tajam di seputar tubuh Partai Demokrasi Indonesia (PDI) terutama karena Megawati Soekarnoputeri sedang digoyang oleh kekuatan internal dan eksternal partai. Politisi wanita ini memang ditantang dan kepemimpinannya sedang diuji. Bagaimanapun juga, terlepas dari sikap pro dan kontra terhadap kepemimpinannya, nama Megawati makin mencuat secara nasional dan internasional, apalagi baik media cetak maupun media elektronik seluruh dunia memberitakan kemelut PDI dalam berbagai versi mereka.
Banyak alasan dikemukakan untuk menjegal dan mendongkelnya, namun banyak pula argumen untuk membela mati-matian agar dia tetap memimpin partainya. Fenomena Megawati secara politik memang menarik karena dia menjadi simbul wanita politisi Indonesia yang secara tegar dan kukuh membela dan mempertahankan kepemimpinan, eksistensi partainya dan dukungan banyak rakyat Indonesia.
Wanita dan Politik yang menjadi tema edisi ini sungguh tepat untuk digarap, terutama karena isu di seputar masalah gender kini makin menjadi minat dan perhatian banyak orang. Pemberdayaan dan kesetaraan perempuan Indonesia dalam segala aspek kehidupan sedang dikembangkan. Kendati banyak kendala dan tantangannya, gerakan ini menggelinding dalam bentuk yang kian besar. Partisipasi wanita dalam politik tidak harus disamakan dengan jumlah tertentu mereka dalam badan-badan perwakilan rakyat atau pun memimpin sebuah partai politik, namun keterlibatan mereka dalam setiap pengambilan keputusan politik nasional sangat diperlukan. Hak-hak wanita Indonesia dalam politik sudah lebih maju dibandingkan dengan beberapa negara di dunia. Tantangannya adalah sejauh mana kualitas keterlibatan itu ditingkatkan dan bagaimana peran gerakan perempuan di Indonesia makin mendukungnya. Redaksi
_____________________________________________________
Penerbit: PT Pustaka LP3ES Indonesia, Anggota SPS. ISSN 0301-6269 SIUPP: No. 072/SK/MENPEN/ SIUPP/D.I/1986, 4 Maret 1986
Pemimpin Umum: Arselan Harahap Pemimpin Perusahaan: Maruto MD. Pemimpin Redaksi: Ismid Hadad Dewan Redaksi: Daniel Dhakidae (Ketua), Taufik Abdullah, M. Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin, Rizal Ramli, Didik J. Rachbini, Vedi R. Hadiz Redaktur Pelaksana: Paulus Widiyanto Staf Redaksi: E. Dwi Arya Wisesa Sekretaris Redaksi: Eriko Sustia
Produksi: Arys Sutarman (Manajer), Awan Dewangga (Wakil Manajer), Yahya Sukaria, Idjas Saham, Teguh Supriyanto Pemasaran: Maruto MD. (Pjs. Manajer), M. Sholeh (Wakil Manajer) Iklan: Arys Sutarman Tata Usaha: Sudartoto (Kepala), Achmad Rifai, Masita Alamat: Jl. S. Parman 81, Jakarta 11420 Kotak Pos 6275/11062 Telefon Redaksi: 5663525 Pemasaran/Iklan: 5663527 Tata Usaha: 5667139, 5667141, 5674211 Fax.: (021) 5683785 Bank: BUKOPIN Cabang. S. Parman Jakarta No. Rekening 14.0010. 2.003 BNI Cabang Senayan Jakarta No. Rekening 001.284.001 Pencetak: PT. Temprint (isi di luar tanggungjawab percetakan)