Prisma

Pengantar Redaksi

MESKIPUN kemiskinan sudah terlampau sering diulas dan dikaji oleh berbagai kalangan luas, namun masalah kemiskinan ternyata tidak usang dan lekang dimakan zaman. Kemiskinan tetap aktual. Karena itu kita tidak perlu bersikap munafik, apalagi menampik dan menutup mata terhadap kemiskinan. Di tengah masyarakat Indonesia kemiskinan itu masih tetap ada.

Secara kasat mata seorang awam pasti akan melihat kemiskinan sebagai segala sesuatu yang serba fisik. Kualitas rumah dan segala perlengkapan rumah tangga yang lusuh dianggap sebagai simbol kemiskinan. Pakaian lusuh yang melekat pada tubuh seseorang dinilai sebagai ciri kemiskinan. Jenis makanan dan frekuensi makan sehari seseorang pun dapat mencerminkan miskin tidaknya orang tersebut. Para ahli kemudian menggunakan berbagai indikator untuk menemukenali masalah kemiskinan dan selanjutnya menentukan garis kemiskinan. Tolok ukurnya dapat berupa jumlah konsumsi kalori per hari — misalnya 2.100 kalori per hari — jumlah konsumsi dalam unit uang atau pun jumlah pendapatan dalam unit uang. Karena secara faktual tingkat pertumbuhan penduduk kaya lebih cepat daripada penduduk miskin maka tingkat kesenjangan pendapatan antarkelompok masyarakat di Indonesia makin lebar. Akhirnya perdebatan masalah kemiskinan berkembang menjadi pergunjingan soal kesenjangan ekonomi.

Adanya kesadaran berbagai pihak untuk ikut serta memberikan andil bagi program pengentasan kemiskinan tidak perlu disangsikan lagi. Pemerintah selama beberapa tahun telah menerapkan konsep pengentasan kemiskinan melalui program IDT. Berikutnya, melalui pendekatan pembangunan Keluarga Sejahtera, pemerintah juga memberikan bantuan modal usaha KUKESRA kepada para keluarga Pra-Sejahtera dan Sejahtera-1. Mengingat keterbatasan dana, pemerintah menghimbau agar para pengusaha menyisihkan sekian persen dari keuntungan bersihnya. Dari sudut pandang mana pun keterlibatan banyak pihak untuk mengentaskan kemiskinan patut disambut baik.

Namun kenapa masih ada cukup banyak orang miskin di tengah masyarakat, terutama di perdesaan yang identik dengan kehidupan agraris? Secara kuantitatif sebagian terbesar jumlah orang miskin terdapat di pulau Jawa. Di hamparan lahan pertanian yang kian menyempit inilah jutaan orang masih menggantungkan hidupnya. Peralihan lahan pertanian ke kegiatan nonpertanian, tanpa disadari, tampaknya ikut memiskinkan masyarakat desa. Sektor industri dan jasa yang diharapkan mampu lebih berperan meningkatkan derajat hidup rakyat ternyata belum mampu menampung serbuan tenagakerja yang sebelumnya hanyalah berkualifikasi petani. Lantas kapankah sektor moderen mampu berperan bagi kesejahteraan hidup rakyat yang masih berbasiskan tradisi pertanian? Redaksi

____________________________________________________________

Penerbit: PT Pustaka LP3ES Indonesia, Anggota SPS. ISSN 0301-6269 SIUPP: No. 072/SK/MENPEN/SIUPP/D.I/1986, 4 Maret 1986

Pemimpin Umum: Arselan Harahap Pemimpin Perusahaan: Maruto MD. Pemimpin Redaksi: Ismid Hadad Dewan Redaksi: Daniel Dhakidae (Ketua), Taufik *Abdullah, M. Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin, Rizal Ramli, Didik J. Rachbini, Vedi R. Hadiz Redaktur Pelaksana: Paulus Widiyanto Staf Redaksi: E. Dwi Arya Wisesa Sekretaris Redaksi: Eriko Sustia

Produksi: Arys Sutarman (Manajer), Awan Dewangga (Wakil Manajer), Yahya Sukaria, Idjas Saham, Teguh Supriyanto Pemasaran: Maruto MD. (Pjs. Manajer), M. Sholeh (Wakil Manajer) Iklan: Arys Sutarman Tata Usaha: Sudartoto (Kepala), Achmad Rifai, Masita. Alamat: Jl. S. Parman 81, Jakarta 11420 Kotak Pos 6275/11062 Telefon Redaksi: 5663525 Pemasaran/Iklan: 5663527 Tata Usaha: 5667139, 5667141, 5674211 Fax.: (021) 5683785 Bank: BUKOPIN Cabang S. Parman Jakarta No. Rekening 14.0010. 2.003 BNI Cabang Senayan Jakarta No. Rekening 001.284.001 Pencetak: PT. Temprint (isi di luar tanggungjawab percetakan)

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan