KEBERHASILAN Indonesia menurunkan tingkat pertumbuhan jumlah penduduk telah memperoleh pujian masyarakat internasional. Program Keluarga Berencana (KB) yang selama ini mengkampanyekan semboyan “Dua Anak Cukup”, laki-laki atau perempuan sama saja, secara kuantitatif memang mampu mengendalikan laju pertambahan penduduk. Kini jumlah penduduk Indonesia berkisar pada angka 200 juta.
Dalam perjalanan waktu program KB ternyata tidak cuma bertujuan mengurangi kenaikan jumlah penduduk, melainkan juga ingin mensejahterakan keluarga, sehingga kini programnya telah berkembang ke arah Norma Keluarga Kecil, Bahagia dan Sejahtera. Lebih singkat lagi bendera yang dikibarkan adalah program Keluarga Sejahtera (KS). Banyak kriteria diangkat sebagai tolok ukur penentuan tingkat kesejahteraan keluarga.
Setelah secara kuantitatif kenaikan jumlah penduduk Indonesia mengecil, lalu bagaimanakah kesejahteraan keluarga Indonesia secara kualitatif? Bagaimana pula tingkat kesejahteraan anak-anak Indonesia? Ternyata masalahnya menjadi sangat kompleks. Keberhasilan pembangunan pada tahap selanjutnya telah melahirkan masalah baru, terutama karena munculnya keinginan dan harapan baru bagi peningkatan kesejahteraan keluarga.
Di tengah kemajuan ekonomi nasional, anak-anak Indonesia juga ikut menikmati kemajuan bangsanya. Kondisi anak-anak Indonesia terangkat bersama-sama kenaikan tingkat kesejahteraan keluarga-keluarga Indonesia. Kini mereka dapat mengenyam pendidikan lebih baik daripada masa ayah dan ibu sebelumnya. Mereka menikmati berbagai hiburan yang lebih bervariatif dibandingkan dengan pengalaman orangtuanya. Anak-anak Indonesia mampu berkomunikasi dengan anak-anak di berbagai belahan dunia melalui internet. Anak-anak Indonesia kini sudah masuk dalam ruang global. Perkembangan masyarakat dunia yang begitu cepat ternyata telah ikut mempengaruhi dan mengubah budaya anak-anak Indonesia ke dalam budaya global.
Kita memang sulit menghindari globalisasi budaya, termasuk budaya konsumtif. Orangtua kini memiliki berbagai pilihan terhadap barang-barang, begitu pula anak-anak mempunyai banyak kesempatan untuk berbuat. Tidak saja barang-barang konsumsi yang dicari, namun kini kualitas intelegensi juga dikejar. Mengantisipasi bahwa masa depan akan dipenuhi oleh persaingan tajam dalam bidang apa pun, peningkatan kualitas anak-anak juga telah menjadi komitmen orangtua. Orangtua bekerja keras untuk mengumpulkan dana bagi pembiayaan pendidikan anak-anak. Kalau persaingan meningkatkan kualitas diri lebih besar daripada budaya konsumtif, memang hal itu adalah positif. Tetapi seberapa besar kemampuan kita untuk bersikap seimbang? Redaksi
__________________________________________________________
Penerbit: PT Pustaka LP3ES Indonesia, Anggota SPS. ISSN 0301-6269 SIUPP: No. 072/SK/MENPEN/ SIUPP/D.I/1986, 4 Maret 1986
Pemimpin Umum: Arselan Harahap Pemimpin Perusahaan: Maruto MD. Pemimpin Redaksi: Ismid Hadad Dewan Redaksi: Daniel Dhakidae (Ketua), Taufik Abdullah, M. Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin, Rizal Ramli, Didik J. Rachbini, Vedi R. Hadiz Redaktur Pelaksana: Paulus Widiyanto Staf Redaksi: E. Dwi Arya Wisesa Sekretaris Redaksi: Eriko Sustia
Produksi: Arys Sutarman (Manajer), Awan Dewangga (Wakil Manajer), Yahya Sukaria, Idjas Saham, Teguh Supriyanto Pemasaran: Maruto MD. (Pjs. Manajer), M. Sholeh (Wakil Manajer) Iklan: Arys Sutarman Tata Usaha: Sudartoto (Kepala), Achmad Rifai, Masita Alamat: Jl. S. Parman 81, Jakarta 11420 Kotak Pos 6275/11062 Telefon Redaksi: 5663525 Pemasaran/Iklan: 5663527 Tata Usaha: 5667139, 5667141, 5674211 Fax.: (021) 5683785 Bank: BUKOPIN Cabang S. Parman Jakarta No. Rekening 14.0010. 2.003 BNI Cabang Senayan Jakarta No. Rekening 001.284.001 Pencetak: PT. Temprint (isi di luar tanggungjawab percetakan)