KERAWANAN kehidupan masyarakat pedesaan masih seringkali mencuat meskipun modernisasi pertanian di Indonesia telah digalakkan secara besar-besaran. Revolusi hijau sebagai jawaban terhadap masalah-masalah pertanian di Indonesia, misalnya kelangkaan pangan pada awal Orde Baru, memang cukup berhasil dilaksanakan, paling tidak bila diukur dengan prestasi swasembada beras sejak 1994 yang lalu. Namun di tengah kesuksesan penyediaan pangan pada tingkat nasional, yang ditulangpunggungi oleh kerja keras dan pengorbanan kaum tani, kita tidak bisa menutup mata terhadap kenyataan masih banyak petani dan warga desa di beberapa daerah yang hidupnya kini terus terancam oleh berbagai masalah. Kegagalan panen akibat serangan hawa, kekeringan atau pun faktor struktural yang lain dapat menjadi penyebab kekurangan makanan, wabah penyakit, kesulitan pekerjaan dan lain-lain.
Tumpuan dan sumber kehidupan keluarga petani nyaris tunggal yaitu dari hasil mengolah tanah yang ditanami berbagai jenis tanaman. Karena ketunggalannya maka kehidupan mereka amat rentan terhadap faktor-faktor struktural, ekologis dan monokultur. Perbedaan kepentingan di antara lapisan-lapisan masyarakat, apalagi petani kurang memiliki posisi tawar-menawar yang memadai, bisa menyebabkan tanah sebagai sumber utama kehidupan petani beralih tangan. Banyak kelompok masyarakat yang telah berkecukupan, terutama di kota, menyerbu desa untuk membujuk dan merayu petani agar melepaskan tanah miliknya. Atau lewat tangan elit-elit desa para pemodal berusaha menguasai tanah-tanah masyarakat desa yang kelak akan dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan bisnis. Kecenderungan peralihan fungsi peruntukan dan pemilikan tanah sudah begitu mengkhawatirkan di jalur Pantura Jawa yang dampaknya pasti akan lebih merugikan kehidupan masyarakat desa.
Ancaman faktor ekologis juga makin merugikan pertanian dan kehidupan pedesaan. Perubahan cuaca akhir-akhir ini, yang sebenarnya juga karena ulah keserakahan manusia, ikut menambah kesulitan petani dalam mengolah lahan mereka. Sawah kering kerontang dan air waduk surut tampak mewarnai wajah kerawanan kehidupan pedesaan. Meskipun kerawanan monokultur sudah mulai menurun, apalagi petani telah belajar banyak dari pengalaman, sehingga mereka menanam berbagai jenis tanaman, namun nilai tukar produk pertanian sangat rendah dibandingkan dengan produk industri dan jasa, yang berakibat penghasilan petani nyaris tidak bergeming dari ketidakcukupan.
Tentu saja perbaikan kehidupan petani tidak boleh diselesaikan hanya dengan pendekatan tunggal — lewat modernisasi fisik pertanian — tetapi mungkin lebih melalui pendekatan total, terutama perbaikan perilaku dan peningkatan kualitas mereka. Redaksi.
______________________________________________________
Penerbit: PT Pustaka LP3ES Indonesia, Anggota SPS. ISSN 0301-6269 SIUPP: No. 072/SK/MENPEN/SIUPP/D.I/1986, 4 Maret 1986
Pemimpin Umum: Arselan Harahap Pemimpin Perusahaan: Maruto MD. Pemimpin Redaksi: Ismid Hadad Dewan Redaksi: Daniel Dhakidae (Ketua), Taufik Abdullah, M. Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin, Rizal Ramli, Didik J. Rachbini, Vedi R. Hadiz Redaktur Pelaksana: Paulus Widiyanto Staf Redaksi: E. Dwi Arya Wisesa Sekretaris Redaksi: Eriko Sustia
Produksi: Arys Sutarman (Manajer), Awan Dewangga (Wakil Manajer), Yahya Sukaria, Idjas Saham, Teguh Supriyanto Pemasaran: Maruto MD. (Pjs. Manajer), M. Sholeh (Wakil Manajer) Iklan: Arys Sutarman Tata Usaha: Sudartoto (Kepala), Achmad Rifai, Masita Alamat: Jl. S. Parman 81, Jakarta 11420 Kotak Pos 6275/11062 Telefon Redaksi: 5663525 Pemasaran/Iklan: 5663527 Tata Usaha: 5667139, 5667141, 5674211 Fax.: (021) 5683785 Bank: BUKOPIN Cabang S. Parman Jakarta No. Rekening 14.0010, 2.003 BNI Cabang Senayan Jakarta No. Rekening 001.284.001 Pencetak: PT. Temprint (isi di luar tanggungjawab percetakan)