CUKUP banyak ungkapan keprihatinan dari relasi-relasi – baik melalui surat, telepon maupun tatap muka langsung – yang mempertanyakan nasib Prisma di tengah krisis ekonomi Indonesia selama ini. Apakah Prisma sudah gulung tikar, bangkrut, berhenti terbit, atau nasibnya tidak jelas? Bagi kami, pertanyaan-pertanyaan ini merupakan ungkapan wajar, mengingat secara faktual Prisma memang “hilang” di pasaran dalam tempo yang relatif cukup lama. Sejak penerbitan edisi Nomor 7 Tahun 1997 Prisma belum pernah nongol lagi, karena kami memutuskan untuk berhenti sementara menunggu keadaan ekonomi nasional berangsur-angsur normal. Dalam istilah klise, kami sedang melakukan konsolidasi internal atau pembenahan ke dalam, terutama berkaitan dengan restrukturisasi pembiayaan dan pengorganisasian perusahaan.
Setelah Prisma “hilang” dalam tempo yang relatif panjang, pada akhirnya kami memutuskan untuk kembali hadir, meskipun situasi perekonomian Indonesia belum pulih seratus persen. Prisma kembali terbit pada semester kedua 1998. Tentu saja keputusan untuk kembali terbit disertai berbagai penyesuaian, terutama kenaikan harga jual Prisma mengikuti lonjakan harga kertas dan kenaikan ongkos percetakan. Keputusan ini memang penuh keterpaksaan untuk dilakukan dan mungkin sulit diterima oleh kalangan pembaca luas yang memang menghadapi beban hidup yang makin berat.
Merupakan fakta tidak terbantahkan, bahwa banyak media cetak gulung tikar akibat krisis moneter, tetapi ada pula beberapa media baru lahir di era reformasi sekarang. Bagi teman-teman yang memutuskan untuk berhenti, kami sungguh prihatin dan dapat memaklumi keputusan yang menyakitkan tersebut. Sebaliknya kepada teman-teman baru, tidak ada kata yang tepat selain mengucapkan selamat datang di dunia penerbitan pers Indonesia. Semoga kehadiran sahabat-sahabat baru mampu memfungsikan diri sebagai pilar-pilar demokrasi, penyambung lidah rakyat, pembawa keadilan dan kebenaran, serta pendidik bagi peningkatan kecerdasan dan kedewasaan bangsa Indonesia.
Meskipun Prisma kembali terbit, tetapi rasanya Prisma tetap menghadapi masalah pilihan tema dan isu. Perubahan keadaan dan perkembangan isu yang begitu cepat menyebabkan tema-tema Prisma tidak lagi akan terlalu tergantung pada aktualita. Masalah kerusuhan sosial, misalnya, terus menerus terjadi di beberapa daerah. Persoalan ini telah dipilih Prisma sebagai tema sejak setahun yang lalu, tetapi hingga kini hal ini tetap aktual. Entah sampai kapan kerusuhan sosial dan penjarahan sandang-pangan akan berhenti. Mungkinkah kalau keadaan ekonomi membaik, atau apalah bila pemerintahan harus berganti lagi? Redaksi
___________________________________________________________________
Penerbit: PT Pustaka LP3ES Indonesia, Anggota SPS. ISSN 0301-6269 SIUPP: No. 072/SK/MENPEN/SIUP/D.I/1986, 4 Maret 1986
Pemimpin Umum: Arselan Harahap Pemimpin Perusahaan: Maruto MD. Pemimpin Redaksi: Ismid Hadad Dewan Redaksi: Daniel Dhakidae (Ketua), Taufik Abdullah, M. Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin, Rizal Ramli, Didik J. Rachbini, Vedi R. Hadiz Redaktur Pelaksana: Paulus Widiyanto Staf Redaksi: E. Dwi Arya Wisesa Sekretaris Redaksi: Eriko Sustia
Produksi: Awan Dewangga, Yahya Sukaria, Idjas Saham, Teguh Supriyanto Pemasaran: Moehammad Sholeh, Yuniarti Kumala, Suradi Suprapto Iklan: Maruto MD Tata Usaha:Sudartoto, Achmad Rifai, Masita, Tri Wahyuni Alamat: Jl. S. Parman 81, Jakarta 11420 Kotak Pos 6275/11062 Telefon Redaksi: 5663525 Pemasaran/Iklan: 5663527 Tata Usaha: 5667139, 5667141, 5674211 Fax.: (021) 5683785 Bank: BUKOPIN Cabang. S. Parman Jakarta No. Rekening 1.00.514.1016 BNI Cabang Senayan Jakarta No. Rekening 001.284.001 Pencetak: PT. Temprint (isi di luar tanggungjawab percetakan)