SIAPAKAH para Perintis Kemerdekaan Indonesia yang dijadikan tema edisi Prisma kali ini? Apakah peranan khusus mereka dalam sejarah panjang kita untuk memperoleh kemerdekaan?
Mereka yang dikenal sebagai Perintis Kemerdekaan Indonesia adalah orang-orang yang terlibat dalam pergerakan anti-kolonial di Indonesia antara periode kebangkitan nasional hingga 1945. Kurun waktu yang panjang tersebut tentunya menandakan bahwa aktor-aktor yang berperan, besar ataupun kecil, dalam berbagai episode dari cerita panjang pergerakan nasional kita, sekarang mendapatkan kehormatan untuk disebut sebagai Perintis Kemerdekaan. Sekadar sebagai gambaran, mereka yang terlibat dalam pendirian Budi Utomo, organisasi kemasyarakatan moderen pertama di Indonesia, para awak kapal Zeven provincien yang melakukan pembangkangan di atas kapal pada 1933, sampai kepada tentara PETA yang terlibat dalam pemberontakan di Blitar terhadap Jepang pada 1945, dianggap pantas menerima sebutan ini. Mungkin kata kuncinya di sini adalah Perintis sebab para pejuang ini dianggap berjasa dalam merintis kemerdekaan kita – untuk membedakan dari para pejuang yang terlibat dalam periode perjuangan fisik ketika mempertahankan kemerdekaan itu, setelah 1945.
Lepas dari persoalan yang agak formal tadi, bagaimanakah kisah para Perintis Kemerdekaan tersebut? Untuk melihat hal ini, Prisma menampilkan sejumlah artikel dan hasil Dialog yang mencoba mengungkapkan pahit getirnya perjuangan masa itu yang mungkin kini agak terlupakan. Memang tidak semua episode dalam cerita panjang ini bisa direkam, karena keterbatasan tempat dan sumber – misalnya pemberontakan PETA, atau masa Budi Utomo, tak terwakili. Tapi edisi Prisma kali ini agak berbeda dari edisi sejarah lainnya, karena banyak memanfaatkan kesaksian orang-orang yang terlibat dalam peristiwa-peristiwa tersebut. Akhirnya, yang memang lebih disoroti di sini adalah sejarah perjuangan para Perintis Kemerdekaan yang mulai aktif dalam politik di sekitar 1920-an dan 1930-an, dan di antaranya banyak yang menerima hukuman dari pemerintahan kolonial karena kegiatan mereka itu, khususnya dalam bentuk pembuangan ke Boven Digul, di tengah-tengah hutan rimba pulau Irian. Bahkan salah seorang yang mengalami hal ini, Jusuf Mawengkang, yang kini menjadi Ketua Umum organisasi bernama Persatuan Perintis Kemerdekaan Indonesia, turut menyumbangkan artikel yang menceritakan ikhwal kamp pembuangan Boven Digul, dan situasi kehidupan orang buangan di tempat itu. Dengan sudut pandang seorang sejawaran, Abdurrachman Suryomihardjo dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, berusaha mengaji signifikasi pemberontakan 1926 terhadap Belanda, serta menempatkan posisi kamp pembuangan Boven Digul, dalam sejarah perjuangan nasional yang lebih luas. Suyatno Kartodirdjo dari UNS Solo, membahas suatu episode yang jarang diingat kembali, pemberontakan awak kapal Zeven provincien, dan berusaha menempatkannya dalam konteks perkembangan politik dan sosial masa itu. Yang agak unik dalam Prisma kali ini adalah rubrik Dialog yang berisikan remembered history dengan segala kekurangan dan kelebihan penuturan sejarah sejenis itu, dari orang-orang yang terlibat langsung dalam berbagai peristiwa bersejarah ini.
Akhirnya, sebagai tambahan, juga diturunkan sebuah laporan yang merangkum pembicaraan dalam seminar Dengan Menghayati Sejarah Revolusi Kemerdekaan Mempertebal Semangat Patriotisme, yang berlangsung di Yogyakarta pada 22-23 Agustus 1988, yang menangani peristiwa-peristiwa yang mengikuti masa perjuangan para Perintis Kemerdekaan itu sendiri. Redaksi
_______________________________________________________________________________________________________________________
Pemimpin Umum: Arselan Harahap • Pemimpin Redaksi: Ismid Hadad • Wakil Pemimpin Redaksi: Masmimar Mangiang • Pemimpin Perusahaan: Maruto MD • Sidang Redaksi: Aswab Mahasin, Ismid Hadad, Masmimar Mangiang, M. Dawam Rahardjo, Vedi Renandi Hadiz • Sekretaris Redaksi: Poppy Soeyono • Tata Usaha/Sirkulasi: Sudartoto, M. Sholeh, Jinan Mohammad • Iklan/Promosi: Anda Z. Noerzy • Produksi: Awan Dewangga, Idjas Shaham, Suradi Suprapto.
Penerbit: PT Pustaka LP3ES Indonesia. SIUPP: No. 072/SK/MENPEN/SIUPP/D.I/1986, 4 Maret 1986. Alamat: Jl. S. Parman 81, Jakarta 11420. Telepon, 597211. Tromol pos 493, Jakarta 10002 Indonesia. Bank: BUKOPIN, Cabang S. Parman, Jakarta, Nomor Rekening 004.0010.5 Pencetak: PT Temprint. IBM Setting: Bagian Penerbitan LP3ES Jakarta; Anggota SPS. ISSN 0301 – 6269.