Prisma

PENGANTAR REDAKSI

DINAMIKA internasional acapkali melahirkan peristiwa-peristiwa empiris yang tidak pernah diantisipasi sebelumnya, baik oleh kalangan intelektual maupun juga para pengambil keputusan. Kejadian-kejadian seperti itu semakin terasa dalam 20 tahun terakhir ini, ketika situasi internasional semakin kompleks dan sukar diraba kemana arahnya akan bergerak. Peristiwa-peristiwa di satu negara di ujung barat, bisa bergulir dampaknya ke negara-negara belahan timur. Persoalan-persoalan ekonomi dan sosial-politik di negara-negara utara, secara langsung atau tidak, akan terasa denyut nadinya di negara-negara selatan. Dan ini semua tidak hanya bergerak dalam arena yang global, tetapi juga bergetar pada masalah-masalah nasional, dan bahkan kepada urusan-urusan lokal.

Semuanya bergerak begitu cepat, drastis dan seringkali radikal. Sehingga untuk menjawab itu semua, tidak mengherankan bila dalam dunia ilmu pengetahuan kita menyaksikan kebutuhan akan reevaluasi, reinterpretasi dan juga pendekatan antar-disiplin dari teori-teori pembangunan yang ada. Ini terjadi baik di kalangan pendekatan liberal maupun tradisi radikal, antara para penganut aliran kultural maupun aliran struktural. Dan ini juga meliputi disiplin-disiplin ekonomi, sosial, politik dan budaya.

Salah satu fenomena internasional yang cukup mengagumkan adalah, munculnya negara-negara di belahan Asia Timur dengan prestasi pembangunan ekonomi dan kesejahteraan sosialnya yang spektakuler. Label yang diterapkan kepada mereka adalah, negara-negara industri baru (Newly Industrializing Countries). Setelah berakhirnya Perang Dunia II, terjadi pertumbuhan ekonomi yang pesat di wilayah tersebut. Dimulai dengan keperkasaan Jepang, yang praktis hancur setelah kekalahannya dalam perang, kemudian disusul dengan Korea Selatan, Taiwan, Hongkong dan Singapura, yang selanjutnya dikenal dengan sebutan “4 Naga Kecil”.

Kemunculan mereka ini semua, pada tahun 1970an dan awal 1980an, harus diakui telah menimbulkan dampak teoritis dan praktis. Secara teoritis, kehadirannya telah meruntuhkan pemikiran-pemikiran tentang pembagian dunia yang klasik, yakni antara dunia I dengan dunia III. Jelas mereka bukan lagi negara-negara agraris sebagaimana masa lalu, tetapi telah melangkah secara cepat menuju negara industri dengan segala atribut prestasinya. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi, peranan sektor pengolahan yang dominan, penguasaan teknologi, skill, modal dan juga pasar, serta atribut-atribut lainnya yang sejenis, telah dimiliki oleh mereka. Sementara itu, prestasi ekonominya juga dibarengi dengan kesejahteraan masyarakatnya secara umum. Penyerapan tenaga kerja, perumahan yang memadai, pendidikan yang baik dan juga fasilitas kesehatan, sandang dan pangan adalah contoh-contoh yang sering diajukan ke depan sebagai lambang keberhasilan mereka. Secara praktis, model Asia Timur ini pada gilirannya telah menjadi obsesi bagi negara-negara berkembang lainnya untuk mengikutinya. Keajaiban Asia Timur telah menjadi cermin masa mendatang bagi mereka. Dan ketika dalam implementasinya, terjadi jarak antara keinginan dengan kenyataan, antara target pembangunan yang dicanangkan dengan hasil pelaksanaannya di lapangan, maka sampai di sini muncullah sejuta pertanyaan di balik itu semua. Sedikitnya ada dua pertanyaan yang saling berkaitan untuk itu. Pertama, bagaimana sebenarnya kita mendefinisikan negara-negara industri baru tersebut? Kedua, apakah faktor-faktor yang harus dipenuhi oleh satu negara agar ia bisa disebut sebagai negara industri baru?

Beranjak dari alur cerita di atas, edisi Prisma kali ini mencoba menampilkan gerak-langkah di balik kesuksesan negara-negara industri baru tersebut. Hero U. Kuntjoro-Jakti, staf pengajar FISIP-UI, mengawali edisi ini dengan mencoba bercerita tentang kehadiran Jepang dan pengaruhnya di Asia-Pasifik; kemudian, kami sajikan dua tulisan tentang Korea Selatan dengan warna yang berbeda ditampilkan oleh Alex Irwan dengan Emmanuel Subangun. Jika Alex melihat keberhasilan Korea Selatan dalam kasus kenaikan upah riil di sektor pengolahan, Emmanuel bercerita tentang Krisis Teknokrasi yang dihadapi Korea Selatan saat ini. Didik J. Rachbini, peneliti LP3ES, memperlihatkan keberhasilan Taiwan saat ini dengan melacak kebelakang ketika transformasi sektor agraris digerakkan sebelum melangkah ke proses industrialisasi. Cerita tentang Thailand yang sering dianggap sebagai “the next tiger”, ditulis oleh W. Atthakor. Edisi ini juga dilengkapi dengan Dialog bersama J. Soedradjad Djiwandono dan Thee Kian Wie. Sebagaimana no. 4, atas kerjasama Prisma dengan BIES, maka ditampilkan juga Survai Pembangunan yang ditulis oleh Anne Booth. Redaksi

__________________________________________________________________________

Pemimpin Umum: Arselan Harahap • Pemimpin Redaksi: Ismid Hadad • Pemimpin Perusahaan: Maruto MD • Dewan Redaksi: Aswab Mahasin, Ismid Hadad, Masmimar Mangiang, M. Dawam Rahardjo, Vedi R. Hadiz • Staf Redaksi: Ade Armando, Nur Iman Subono • Sekretaris Redaksi: Tri Emi Lestari • Tata Usaha/Sirkulasi: Sudartoto, M. Sholeh, Jinan Mohammad • Iklan/Promosi: Anda Z. Noer • Produksi: Awan Dewangga, Idjas Shaham, Suradi Suprapto.

Penerbit: PT Pustaka LP3ES Indonesia, SIUPP No. 072/SK/MENPEN/SIUPP/D.I/1986, 4 Maret 1986. Alamat: Jl. S. Parman 81, Jakarta 11420, Telepon, 597211. Tromol pos 493, Jakarta 10002 Indonesia. Bank: BUKOPIN, Cabang S. Parman, Jakarta, Nomor Rekening 004.00105 Pencetak: PT Temprint IBM Setting Bagian Penerbitan LP3ES Jakarta; Anggota SPS. ISSN 0301 – 6269.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan