Prisma

PENGANTAR REDAKSI

PERSOALAN-PERSOALAN ekonomi yang dihadapi oleh para pengambil kebijakan harus diakui memang sangat rumit. Hal ini semakin terasa berat jika kita berbicara di dalam konteks negara-negara berkembang. Masalah kurangnya modal, rendahnya produktivitas, skill dan teknologi yang masih tertinggal dibandingkan dengan tuntutan-tuntutan pembangunan, serta lemahnya penguasaan pasar, adalah persoalan-persoalan ekonomi yang sering ditampilkan ke permukaan. Dan pasti hal ini akan menjadi lebih rumit apabila bersentuhan dengan faktor-faktor non-ekonomi seperti masalah stabilitas sosial-politik, partisipasi masyarakat atau juga soal integrasi nasional. Melihat gambaran yang seperti itu, maka tidak mengherankan apabila kita melihat berbagai rekomendasi untuk menangani agenda-agenda persoalan tersebut.

Secara sederhana sebetulnya ada 3 dataran persoalan yang bisa diketengahkan untuk memotret pembangunan ekonomi di Indonesia. Pertama, ada keterkaitan antara teori-teori ekonomi dengan realitas empiris. Teori-teori tersebut diangkat atau dihasilkan atas dasar masalah-masalah riel yang diamati, dan selanjutnya teori-teori tersebut memberikan penegasan-penegasan atau penafsiran-penafsiran baru atas kondisi-kondisi empiris. Di sini jelas, bahwa bukan ketajaman teori yang dibutuhkan, tetapi relevansi teori yang lebih diharapkan. Persoalannya kemudian, teori domestik belum maksimal menerobos ke depan, sementara ketajaman teori-teori Barat seringkali lemah dalam soal relevansinya. Kedua, ada keterkaitan antara paham keseluruhan dengan paham kekhususan. Paham keseluruhan selalu melihat persoalan-persoalan sub-sistem ekonomi dalam figura besar yang tampil dalam sistem ekonomi. Sementara itu, paham kekhususan justru hanya mengambil satu atau bagian dari sistem untuk ditangani secara mendalam dan lebih terfokus. Jika yang pertama lebih akrab dengan upaya generalisasi, maka yang terakhir lebih bersentuhan dengan rekayasa partikularistik. Diucapkan dalam bahasa ekonomi, paham keseluruhan dianalogikan dengan ekonomi makro, dan paham kekhususan disejajarkan dengan ekonomi mikro. Dan jelas, secara terpisah maupun secara relasional, keduanya sangat dibutuhkan untuk menjawab soal-soal ekonomi Indonesia. Ketiga, ada keterkaitan antara masalah-masalah internasional (pengaruh eksternal) dengan soal-soal nasional (domestik). Di satu sisi, masalah internasional, baik itu mengambil bentuk peranan negara-negara adidaya maupun dinamika ekonomi-politik internasional, secara langsung atau tidak, mempengaruhi gerak langkah domestik satu negara. Dan ini sangat terasa bagi negara-negara sedang berkembang sebagaimana yang dialami Indonesia. Di sisi lain, bagaimana langkah-langkah domestik diambil untuk merespon dinamika internasional yang begitu perkasa. Ini bisa mengambil bentuk upaya-upaya mengurangi ekses negatif yang muncul akibat faktor eksternal tersebut, atau justru bisa mensiasati atau mengambil manfaat-manfaat positif dari dinamika yang sedang berjalan. Dalam panggung internasional dewasa ini interaksi diantara keduanya semakin kompleks dan juga sering kurang bisa diantisipasi hentakan-hentakan gerakannya.

Prisma menampilkan kembali Ekonomi Indonesia dengan segala persoalannya. Mengingat terbatasnya tempat, maka tidak semua dataran persoalan dapat diketengahkan dalam kesempatan ini. Diawali oleh Nurimansyah Hasibuan, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya, yang mencoba memeriksa teori-teori ekonomi yang berkaitan dengan persoalan pemerataan, pertumbuhan dan konsentrasi ekonomi dalam proses industrialisasi. Kemudian, ia menelaahnya dengan menyajikan kasus-kasus empiris dunia secara umum, dan Indonesia secara khususnya. Sirajuddin Ahmad, Pengajar FE Universitas Indonesia, melihat pentingnya pemerintah memperkaya perangkat kebijaksanaan moneter-fiskal dalam merespon dinamika ekonomi akibat semakin terbukanya sektor riel dan moneter Indonesia. Sementara itu, Mudrajad Kuncoro, alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, secara kritis melihat peranan modal asing dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi maupun memacu laju tabungan domestik. Tulus Tambunan, kandidat Ph.D di Belanda mempertanyakan kembali kebijaksanaan-kebijaksanaan yang diambil pemerintah selama periode Oil-Boom. Adapun sebagai tulisan lepas, akan ditampilkan masalah organisasi kebun yang diungkapkan oleh Tumpal Siregar, seorang sarjana Pertanian dari Universitas Sumatera Utara.

Prisma kali ini, dalam rubrik Dialog, menyajikan hasil diskusi Samuel Popkin, pengarang buku The Rational Peasant, dengan beberapa tokoh intelektual serta aktivis LSM Indonesia. Akhirnya sebagai pelengkap, ditampilkan juga sebuah tulisan tentang tinjauan buku. Redaksi

___________________________________________________________________________

Pemimpin Umum: Arselan Harahap • Pemimpin Redaksi: Ismid Hadad • Pemimpin Perusahaan: Maruto MD • Dewan Redaksi: Aswab Mahasin, Ismid Hadad, Masmimar Manglang, M. Dawam Rahardjo, Vedi Renandi Hadiz • Staf Redaksi: Ade Armando, Nur Iman Subono • Sekretaris Redaksi: Tri Emi Lestari • Tata Usaha/Sirkulasi: Sudartoto, M. Sholeh, Jinan Mohammad • Iklan/Promosi: Anda Z. Noerzy • Produksi: Awan Dewangga, Idjas Shaham, Suradi Suprapto.

Penerbit: PT Pustaka LP3ES Indonesia, SIUPP: No. 072/SK/MENPEN/SIUPP/D.I/1986, 4 Maret 1986. Alamat: Jl. S. Parman 81, Jakarta 11420, Telepon, 597211. Tromol pos 493, Jakarta 10002 Indonesia. Bank: BUKOPIN, Cabang S. Parman, Jakarta Nomor Rekening 004.00105 Pencetak: PT Temprint; Pengaturan IBM; Bagian Penerbitan LP3ES Jakarta; Anggota SPS. ISSN 0301 – 6269.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan