PADA tiap akhir tahun ajaran, kita selalu mendengar cerita mengenai melimpah-ruahnya tamatan SLTA; mengenai tidak cukupnya tempat di perguruan tinggi untuk menampung tamatan SLTA dan mengenai harapan-harapan agar tamatan SLTA tidak membanjiri perguruan-perguruan tinggi. Lagu lama itu selalu terulang tiap tahun. Namun tiap tahun pula kita kembali berhadapan dengan persoalan-persoalan yang sama.
Perguruan tinggi, terutama universitas, sudah menjadi sangat populer, karena ia mengandung simbol-simbol kesuksesan. Darinya orang berharap sangat banyak: gaji yang besar, kedudukan yang lebih baik dan juga perubahan status sosial. Namun tidak jarang pula kita mendengar keluhan bahwa ternyata lulusan perguruan tinggi kita “tidak siap pakai”, tidak siap bekerja dan akhirnya para sarjana ini harus dilatih oleh lembaga-lembaga dan perusahaan-perusahaan yang mempekerjakannya.
Hal-hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah masyarakat berharap terlalu banyak dari universitas, ataukah mereka telah gagal memahami hakekat universitas dalam masyarakat yang sedang menjalani transisi, ataukah justru universitas sendiri yang gagal memahami persoalan zaman dan kemudian tidak mampu menjawab tantangan zaman; dan syarat-syarat apakah yang diperlukan universitas guna memenuhi fungsi ini?
PRISMA no 1 tahun 1990 ini mencoba membicarakan persoalan-persoalan di atas. Edisi kali ini dibuka dengan artikel yang ditulis oleh J. Drost, Rektor Seminari Wacana Bakti, Jakarta yang mempertanyakan kembali fungsi dan arti perguruan tinggi bagi masyarakat. Drost berpendapat bahwa pragmatisme telah mendominasi perguruan tinggi kita. Perguruan tinggi, khususnya universitas, mempunyai orientasi untuk hidup untuk masa kini, dan tidak berorientasi untuk menyiapkan manusia-manusia di masa depan. Dengan kata lain, universitas tidak bersifat antisipatoris, padahal seharusnya universitas merupakan lembaga pendidikan tinggi yang menghasilkan kaum intelektual yang bisa menjawab tantangan zaman.
Mochtar Buchori, ahli peneliti utama LIPI mengemukakan persoalan pentingnya kebebasan akademik di universitas dan perguruan tinggi lainnya, dan kesulitan-kesulitan kultural yang dihadapi untuk menerapkan asas kebebasan akademik ini. Asa ini sangat penting karena ia menjamin adanya perbenturan ide dengan masyarakat, yang merupakan syarat utama bagi kemajuan ilmu. Pengalaman menunjukkan bahwa asas ini sukar diterapkan karena perbenturan ide ini sering dianggap membahayakan.
Artikel ketiga ditulis oleh Tony Widiastono, wartawan pendidikan Harian KOMPAS. Tony mengemukakan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh perguruan-perguruan tinggi, khususnya universitas, dalam memenuhi fungsinya sebagai lembaga yang mencetak kaum intelektual. Dana yang terbatas, biaya yang tinggi untuk mengelola pendidikan tinggi, tenaga pengajar yang terbatas, yang harus membagi waktunya antara kampus dan “proyek,” adalah sebagian persoalan yang dihadapi perguruan tinggi.
Untuk melengkapi tema Perguruan Tinggi, PRISMA kali ini juga menampilkan Nugroho Notosusanto, dalam rubrik tokoh yang sampai akhir hayatnya menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Rektor Universitas Indonesia. Rubrik ini ditulis oleh Peter Kasenda.
Dalam rubrik dialog kami sajikan hasil wawancara dengan Koesnadi Hardjasoemantri, mantan rektor Universitas Gadjah Mada, yang membicarakan hubungan antara perguruan tinggi dengan pemerintah, Harsya W. Bachtiar, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yang mengemukakan mengenai kedudukan pendidikan tinggi dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, dana otonomi perguruan tinggi. Tokoh lain yang berhasil kami wawancarai adalah Masri Singarimbun, peneliti senior pada Pusat Penelitian Kependudukan, Universitas Gadjah Mada, yang menceritakan kesulitan-kesulitan yang dihadapi perguruan tinggi untuk menjalankan penelitian; dan Wijaya Adi, peneliti pada Puslitbang Ekonomi dan Pembangunan — LIPI, yang membicarakan masalah sarjana dan pasar tenaga kerja.
Selain itu masih ada artikel mengenai pendidikan dan pembangunan di negara-negara Asia yang ditulis oleh Umar Juoro, peneliti pada SPES-LP3ES; satu artikel bebas mengenai pemikiran Marcos dan Sukarno tentang revolusi oleh Hermawan Sulistyo, dan sebagai pelengkap PRISMA kali ini ditutup dengan dua tulisan tinjauan buku.
___________________________________________________________________________
Pemimpin Umum: Arselan Harahap • Pemimpin Redaksi: Ismid Hadad • Pemimpin Perusahaan: Maruto MD • Dewan Redaksi: Aswab Mahasin, Ismid Hadad, Masmimar Mangiang, M. Dawam Rahardjo, Vedi Rendi Hadiz • Staf Redaksi: Ade Armando, Nur Iman Subono • Sekretaris Redaksi: Tri Erni Lestari • Tata Usaha/Sirkulasi: Sudarto, M. Sholeh, Irjan Mohammad • Iklan/Promosi: Andaz Noerzy • Produksi: Awan Dewangga, Idas Shahana, Suradi Suprapto.
Penerbit: PT Pustaka LP3ES Indonesia, SIUPP: No. 072/SK/MENPEN/SIUPP/D.I/1986, 4 Maret 1986. Alamat: Jl. S. Parman 81, Jakarta 11420, Telepon 597211. Tromol pos 493, Jakarta 10002 Indonesia. Bank: BUKOPIN, Cabang S. Parman, Jakarta, Nomor Rekening 004.00105 Percetakan: PT Temprint, IBM Setting, Bagian Penerbitan LP3ES Jakarta; Anggota SPS. ISSN 0301 – 6269.