“Adalah pertanian yang merupakan arena perang berkepanjangan di dalam pembangunan ekonomi, karena di sinilah akan ditentukannya persoalan kalah atau menang.” Itulah kira-kira petuah Gunnar Myrdal yang tampaknya layak diangkat ke permukaan, dan yang esensinya adalah anjuran mengenai kebijaksanaan yang proporsional terhadap dilema di bidang ini.
Peta kritis pembangunan pertanian di negara-negara sedang berkembang merupakan persoalan internal sektor ini, dan sekaligus posisinya di dalam struktur ekonomi secara keseluruhan. Peta ini penting untuk dilihat agar proses transformasi ekonomi yang terjadi tidak akan melahirkan stagnasi yang mengorbankan sektor pertanian. John Mellor, pakar ilmu ekonomi pertanian, mengemukakan bahwa bagi negara-negara sedang berkembang diperlukan strategi pembangunan yang berorientasi kepada pertanian dan kesempatan kerja. Adapun alasan yang diajukan, pertama, sektor pertanian berperanan sangat penting sebagai penyedia tenaga kerja bagi sektor-sektor lainnya. Kedua, sektor pertanian dengan teknologi yang tersedia masih memungkinkan untuk memberi pengaruh yang besar terhadap perekonomian secara menyeluruh di dalam proses transisi ekonomi selanjutnya.
Proses transformasi ketenagakerjaan masih akan sangat tergantung pada kesiapan sektor pertanian. Sementara itu, hasil penemuan teknologi dalam masa revolusi hijau dinilai sangat besar pengaruhnya terhadap kawasan pertanian dan pedesaan pada umumnya. Atas dasar ini, peranan sektor pertanian akan menjadi penting artinya sehingga negara-negara sedang berkembang akan memanfaatkannya sebagai sektor penyangga bagi proses transisi yang sedang berlangsung. Walaupun demikian, juga harus diakui sebagaimana diungkapkan Sediono Tjondronegoro dalam seminar Perubahan Sosial dan Demokrasi Pedesaan di Yogyakarta, yang melihat kasus Indonesia di mana revolusi hijau pada sisi yang lain juga telah melahirkan persoalan-persoalan sosial yang berdimensi negatif dalam proses transisi tersebut.
Optimisme akan sektor pertanian sebagai sektor penyangga ini muncul, didasarkan juga pada alasan bahwa sektor ini tetap akan memberi peluang bagi suatu usaha alokasi modal. Ini bisa dilakukan jika permintaan agregat sektor pertanian terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi secara menyeluruh. Untuk menghindari peta kritis, sebagaimana digambarkan Myrdal sebelumnya, laju pertumbuhan sektor pertanian harus dipercepat. Dan ini dimungkinkan dengan melakukan injeksi teknologi dan usaha intensifikasi yang maksimal. Tetapi biasanya sektor pertanian hanya akan tumbuh pada tingkat moderat, meskipun usaha yang dilakukan telah maksimal. Sebabnya jelas, ada ciri-ciri dan hambatan yang melekat pada produknya seperti elastisitas yang rendah, adanya miniaturisasi dan kecenderungan kebutuhan barang-barang primer yang menurun.
Permintaan domestik akan barang-barang pertanian menjadi bagian integratif yang dipandang akan memacu pertumbuhan sektor pertanian melalui peningkatan lapangan kerja. Meskipun demikian, sektor pertanian tidak dapat berdiri sendiri sehingga sektor-sektor lain tetap harus bersedia menampung kelebihan tenaga kerja di sektor ini. Usaha melanjutkan gerakan revolusi hijau secara lebih arif tetap merupakan alternatif bagi negara-negara sedang berkembang untuk memacu pertumbuhan ekonominya, yang bukan berdasarkan proses industrialisasi. Singkatnya, sektor pertanian pun bisa dijadikan landasan untuk memacu ketangguhan ekonomi tanpa harus memaksakan diri untuk ikut serta mewujudkan proses industrialisasi secara besar-besaran. Jadi jelas, masih ada harapan yang terbentang di sektor ini.
___________________________________________________________________________
Pemimpin Umum: Arselan Harahap ● Pemimpin Redaksi: Ismid Hadad ● Pemimpin Perusahaan: Maruto MD ● Dewan Redaksi: Aswab Mahasin, Ismid Hadad, Masmimar Mangiang, M. Dawam Rahardjo, Vedl Renandi Hadiz ● Staf Redaksi: Ade Armando, Nur Iman Subono ● Sekretaris Redaksi: Tri Erni Lestari ● Tata Usaha/Sirkulasi: Sudartoto, M. Sholeh, JInan Mohammad ● Iklan/Promosi: Anda Z. Noerzy ● Produksi: Awan Dewangga, Idjas Shaham, Suradi Suprapto.
Penerbit: PT Pustaka LP3ES Indonesia, SIUPP: No. 072/SK/MENPEN/SIUPP/D.I/1986, 4 Maret 1986. Alamat: Jl. S. Parman 81, Jakarta 11420, Telepon, 597211. Tromol pos 493, Jakarta 10002 Indonesia. Bank: BUKOPIN, Cabang S. Parman, Jakarta, Nomor Rekening 004.00105 Pencetak: PT Temprint; IBM Setting: Bagian Penerbitan LP3ES Jakarta; Anggota SPS. ISSN 0301 – 6269.