Prisma

PENGANTAR REDAKSI

ADALAH W.W. Rostow yang memperkenalkan resep model pertumbuhan ekonomi, yang kemudian dikenal dengan teori “Tahap-tahap Pertumbuhan Ekonomi” ((The Stages of

Economic Growth)). Menurutnya, perekonomian suatu masyarakat akan berubah dari situasi tradisional menuju modern melalui tahap-tahap tertentu, yakni diawali dari tahap tradisional, terus prasyarat untuk lepas landas, menuju lepas landas, dan kemudian ke arah kedewasaan dan puncaknya diakhiri dengan tahap konsumsi tinggi.

Tersurat maupun tersirat, model pertumbuhan ekonomi ini begitu diyakini kebenarannya oleh banyak pihak ketika saat diperkenalkan. Diakui atau tidak, gemanya secara khusus sangat terasa bagi negara-negara dunia ketiga yang baru saja memperoleh kemerdekaan politiknya. Seolah-olah model ini, terutama pada tahun 1950an dan 1960an, dianggap sebagai doktrin yang harus dialami oleh semua negara jika mereka ingin maju. Indikator-indikator perubahan masyarakat dalam menapak tahap-tahap tersebut dilihat antara lain dalam masalah komposisi pembentukan tabungan masyarakat untuk keperluan investasi, lalu adanya pandangan hidup yang lebih berorientasi ke luar, dan juga bagaimana memanfaatkan alam serta simbol keberhasilan manusia yang diukur oleh kerja dan bukan warisan apalagi turunan. Singkat kata, tingkat modern dan tradisionalnya suatu masyarakat akan terpantul dalam tahap-tahap yang akan, sedang dan telah mereka lewati.

Bagi Indonesia, sebagai bagian dari negara-negara yang sedang membangun, kelihatannya model pembangunan ala Rostow yang di sini lebih dikenal dengan sebutan Ekonomi Lepas Landas, juga terasa sebagai salah satu agenda dalam Rencana Pembangunan Lima Tahun kita. Dan ini tercermin dalam regulasi dan rekomendasi para perencana pembangunan yang terungkap melalui seminar, diskusi, dan tulisan-tulisan ilmiah dari insan-insan akademisi dan intelektual, dan juga tersosialisasi lewat jalur media massa dan bentuk-bentuk komunikasi lainnya. Terpesona akan keberhasilan negara-negara industri maju (negara-negara Barat) dan selanjutnya ada godaan untuk menirunya, terutama sangat terasa dalam awal-awal pembangunan nasional era Orde Baru. Namun kemudian, pengalaman-pengalaman empiris pun mengajarkan pada kita bahwa kerangka pemikiran Rostow sebenarnya diangkat dari pengalaman sejarah ekonomi negara-negara industri maju, sehingga tidak mengherankan di saat konsep ini dicoba diterapkan di Indonesia maka kita berhadapan dengan kondisi sosial-ekonomi yang tidak kondusif untuk menopangnya. Lain daripada itu, konsep Rostow itu sendiri bukan tidak kebal terhadap kritik, dan bahkan banyak hal dari argumen-argumen teoritisnya sangat dipertanyakan kemampuannya sebagai resep pembangunan. Untuk itu bagi kita bangsa Indonesia, harus dilakukan pemahaman yang lebih mendalam dan hati-hati terhadap konsep Rostow tersebut, dan secara sederhana ini dapat didekati dari dua cara. Pertama, pemahaman yang kritis terhadap konsep Rostow sendiri, dan ini ditambah dengan analisa sosiologis dan ekonomi-politik dari perkembangan masyarakat di mana konsep tersebut dilahirkan. Dalam kosa kata bahasa ilmiah, yang belakangan ini disebut sebagai sosiologi ilmu pengetahuan (sociology of knowledge). Kedua, dengan memahami dinamika dan perkembangan masyarakat Indonesia sendiri, dan ini dilihat dari aspek sosial-politik, ekonomi maupun budayanya. Dari sana, kita bisa mengambil pilihan-pilihan apa yang baik buat bangsa kita, dan tentu saja meninggalkan atau mengeliminasi distorsi-distorsi yang dianggap merugikan.

Edisi PRISMA kali ini mencoba mengangkat tema Ekonomi Lepas Landas, dengan menampilkan beberapa tulisan yang dianggap kompeten dengan tema tersebut. Peter Gardiner dan Mayling Oey, dengan jernih memperlihatkan keterkaitan masalah antara ekonomi lepas landas dengan kesenjangan regional, dan khususnya pembangunan yang dijalankan di Luar Jawa. Kemudian, Riwanto Tirtosudarmo, memaparkan masalah aspek pusat dan daerah dalam hubungannya dengan soal transmigrasi, dengan merujuk Riau sebagai studi kasusnya. Sementara itu, peneliti senior LIPI, Thee Kian Wie, melihat perubahan kebijakan perdagangan dan industrialisasi dari model yang berorientasi ke dalam menjadi berorientasi ke luar. PRISMA kali ini juga dilengkapi dengan artikel lepas, tinjauan buku serta hasil survai pembangunan terakhir yang ditulis oleh Sjahrir dan Jamie Mackie.

___________________________________________________________________________________________________________________

Gambar sampul dan vignet oleh GM Sudarta

Pemimpin Umum: Arselan Harahap ● Pemimpin Redaksi: Ismid Hadad ● Pemimpin Perusahaan: Maruto MD ● Dewan Redaksi: Aswab Mahasin, Ismid Hadad, Masmimar Mangiang, M. Dawam Rahardjo, Vedi Renandi Hadiz ● Staf Redaksi: Ade Armando, Nur Iman Subono ● Sekretaris Redaksi: Tri Erni Lestari ● Tata Usaha/Sirkulasi: Sudartoto, M. Sholeh, Jinan Mohammad ● Iklan/Promosi: Anda Z. Noerzy ● Produksi: Awan Dewangga, Idjas Shaham, Suradi Suprapto.

Penerbit: PT Pustaka LP3ES Indonesia, SIUPP: No. 072/SK/MENPEN/SIUPP/D.I/1986, 4 Maret 1986. Alamat: Jl. S. Parman 81, Jakarta 11420, Telepon, 597211. Tromol pos 493, Jakarta 10002 Indonesia. Bank: BUKOPIN, Cabang S. Parman, Jakarta, Nomor Rekening 004.00105 Pencetak: PT Temprint; IBM Setting: Bagian Penerbitan LP3ES Jakarta; Anggota SPS. ISSN 0301 – 6269.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan