SIAPAKAH penonton film Indonesia? Berbagai tulisan mengisyaratkan bahwa hampir sebagian besar penonton film Indonesia adalah mereka dari kelas bawah. Ini dapat dilihat dari banyaknya karcis yang terjual habis di bioskop-bioskop murah di berbagai kota di Indonesia.
Film-film yang laku di kelas bawah ini biasa disebut sebagai film murah yang murahan, baik ongkos produksinya, tema ceritanya, maupun teknik pembuatannya. Kurang lebih 60% perfilman nasional diisi dengan film-film semacam ini, yang tema ceritanya jarang sekali menunjukkan pembelaan terhadap kaum miskin. Di pihak lain, film-film yang menceritakan kehidupan golongan bawah dengan baik, disukai oleh kaum terpelajar, tetapi justru tidak menarik perhatian kaum miskin. Hal ini sering diartikan bahwa selera penonton film Indonesia masih rendah, sehingga film Indonesia yang diproduksi pun juga rendah kualitasnya. Film pertama kali dibuat di Indonesia pada tahun 1926, dan setelah lebih dari 50 tahun, orang masih membicarakan film Indonesia dengan nada yang mencemoohkan.
Edisi Prisma kali ini menurunkan tema tentang film Indonesia. Diawali dengan artikel Krishna Sen yang menganalisa bagaimana kekuasaan dan kemiskinan digambarkan dalam film Indonesia dan mempertanyakan milik siapakah film Indonesia itu sebenarnya? Ryadi Gunawan menulis tentang sejarah perfilman Indonesia yang menunjukkan bahwa film Indonesia selalu dianggap sebagai barang dagangan sehingga penilaiannya berdasarkan laba-rugi semata-mata.
Asrul Sani melengkapi edisi film kali ini dengan menulis artikel tentang kritik dan sensor film serta usaha orang film dalam pengembangan film nasional. Kritik dan sensor film serta beban kepada film Indonesia untuk menjadi tontonan sekaligus tuntutan menyebabkan film nasional tidak leluasa bereksperimen dan menyuarakan pengalaman-pengalaman masyarakat. Asrul Sani juga berpendapat bahwa tidak adanya kritik film yang baik menyebabkan apresiasi masyarakat terhadap film juga rendah, dan keadaan ini tidak akan mendukung munculnya film-film yang baik. Sita Aripurnami mengakhiri pembicaraan tentang film dengan menuliskan bagaimana film Indonesia menggambarkan peranan wanita.
Untuk menguak persoalan film dari sisi lain, rubrik dialog Prisma menurunkan serangkaian hasil wawancara dengan orang-orang film: Misbach Jusa Biran, direktur Sinematek, Eros Djarot, sutradara, Chalid Arifin, pengajar pada Fakultas Film dan Televisi, IKJ, dan Budiati Abiyoga, produser film.
Rubrik tokoh kali ini menampilkan Yap Thiam Hien, pejuang hak asasi Indonesia. Dan Prisma edisi ini juga menyajikan hasil survai pembangunan terakhir yang ditulis oleh Mari Pangestu dan Manggi Habir serta rubrik Tinjauan Buku.
Secara keseluruhan Prisma dengan tema tentang film Indonesia ini, dirancang dan diolah oleh Binny Buchori.
__________________________________________________________________________
Pemimpin Umum: Arselan Harahap ● Pemimpin Redaksi: Ismid Hadad ● Pemimpin Perusahaan: Maruto MD ● Dewan Redaksi: Aswab Mahasin, Ismid Hadad, Masmimar Mangiang, M. Dawam Rahardjo, Vedi Renandi Hadiz ● Staf Redaksi: Ade Armando, Nur Iman Subono ● Sekretaris Redaksi: Tri Emi Lestari ● Tata Usaha/Sirkulasi: Sudartoto, M. Sholeh, Jinan Mohammad ● Iklan/Promosi: Anda Z. Noerzy ● Produksi: Awan Dewangga, Idjas Shaham, Suradi Suprapto.
Penerbit: PT Pustaka LP3ES Indonesia, SIUPP: No. 072/SK/MENPEN/SIUPP/D.I/1986, 4 Maret 1986. Alamat: Jl. S. Parman 81, Jakarta 11420, Telepon, 597211. Tromol pos 493, Jakarta 10002 Indonesia. Bank: BUKOPIN, Cabang S. Parman, Jakarta, Nomor Rekening 004.00105 Pencetak: PT Temprint; IBM Setting: Bagian Penerbitan LP3ES Jakarta; Anggota SPS. ISSN 0301 – 6269.