Prisma

PENGANTAR REDAKSI

GLOBALISASI ekonomi adalah satu kata yang kiranya secara tepat dapat mewakili situasi ekonomi internasional dalam dua dasawarsa belakangan ini. Begitu cepat, besar, kuat dan seringkali radikal, itulah yang dewasa ini dibawa oleh globalisasi ekonomi. Ia datang dengan menembus batas-batas kedaulatan perekonomian nasional setiap negara, baik itu dialami oleh negara-negara maju maupun lebih-lebih lagi terhadap negara-negara berkembang. Negara-negara semakin terkait satu sama lain dalam piramida ekonomis dan juga politis. Dari sana bisa dirasakan bagaimana distribusi dari human capital dan juga sumber-sumber teknologi serta informasi bergerak dan berpindah-pindah secara lebih deras dan lancar dari satu wilayah ke negara lainnya, atau dari satu wilayah ke wilayah yang lain. Sementara itu, gambaran mengenai pasar internasional tampil dengan begitu terbuka dan kondusif, walaupun acapkali rumit dan sulit ditebak dinamikanya, apakah ia mencerminkan kompetisi bebas yang adil atau sebaliknya ia justru menampilkan diskriminasi akses untuk berkiprah di dalamnya.

Satu karakteristik utama yang dimunculkan dari globalisasi ekonomi ini adalah, peran dari aktor non-negara dengan aktivitas internasional yang kemudian dikenal dengan sebutan Perusahaan Multinasional (PMN) atau Perusahaan Mancanegara. Keberadaannya dicirikan dengan aset modal yang begitu besar, kapabilitas teknologi dan informasi yang sangat canggih, kemampuan skill yang tinggi serta penguasaan pasar yang begitu akurat dan kokoh. Lain daripada itu, kehadirannya tidak hanya diwarnai dengan banyaknya perusahaan yang dimiliki, yakni antara perusahaan induk dengan berbagai anak cabangnya yang tersebar di seluruh dunia, atau juga aktivitas usahanya yang beraneka ragam dan terspesialisasi, tetapi yang lebih hebat lagi saat ini adalah, aliansi strategis antara beberapa Perusahaan Multinasional yang berasal dari berbagai negara dan juga beraneka bidang usaha. Aliansi strategis ini setiap tahunnya terus bertambah dan meluas di seluruh dunia. Sampai di sini, bisa dirasakan bagaimana raksasanya Perusahaan Multinasional tersebut, dan pada gilirannya juga tidak mengherankan apabila kehadirannya seringkali tidak bisa dikontrol atau tersentuh oleh kebijaksanaan pemerintah dari negara-negara di mana mereka berasal. Tidak terlalu salah juga apabila kemudian sering diungkapkan bahwa Perusahaan Multinasional adalah perusahaan yang tidak memiliki negara dan sebaliknya telah melampaui atau menembus kedaulatan setiap negara. Ia tidak hanya berkuasa dalam jaringan-jaringan ekonomi level atas, tetapi lebih jauh lagi ia juga telah memasuki lorong-lorong kehidupan politik tingkat elit dunia.

Bagi negara-negara dunia ketiga, khususnya Indonesia, menghadapi situasi globalisasi ekonomi seperti ini, maka persoalannya bukan lagi menerima atau menolak kehadirannya, tetapi bagaimana memanfaatkannya secara positif demi maksimalisasi keuntungan, dan mengurangi eks negatifnya demi minimalisasi kerugian. Karena jelas, proses-proses ekonomi seperti produksi dan perdagangan, penanaman modal dan juga pengalihan teknologi, setuju atau tidak setuju, semuanya pada gilirannya akan mengikuti kecenderungan globalisasi ekonomi. Bagi Indonesia sendiri posisi yang seperti terletak di antara bandul yang bergerak. Di satu sisi, merupakan kesempatan untuk memperoleh manfaat dari keunggulan komparatif yang dimilikinya agar dapat menikmati pertumbuhan ekonomi dunia. Sedangkan di sisi yang lain, sejauh mana di dalam kompetisi pasar dunia yang terbuka dan cepat ini bisa secara adil akan memperoleh manfaatnya.

Atas dasar gambaran singkat dari globalisasi ekonomi dunia dewasa ini, maka Prisma kali ini mencoba menampilkan isu tersebut dengan melihat aspek dan sudut pendekatan Anwar Nasution, Alex Irwan dan Umar Juoro akan melihat ini semua dari kacamata makro, baik itu dari pendekatan ekonomi makro atau liberal, maupun dari telaah ekonomi-politik. Sementara itu, Ivan A. Hadar secara khusus akan melihat masa depan pangan dunia dari sudut operasi Perusahaan Multinasional Andrifouf Ch. melalui kasus yang lain, IPTN, mengungkap masalah pengalihan teknologi dan peranan Amerika Serikat. Esai Kita kali ini oleh Suhono Sudarsono, yang akan bicara masalah globalisasi ekonomi dan proses demokrasi di Indonesia. Lain daripada itu, sebagai pelengkap, Prisma kali ini juga diisi dengan tulisan lepas dan juga tinjauan buku. Redaksi

_______________________________________________________________________________________________________________________

Pemimpin Umum: Arselan Harahap Pemimpin Redaksi: Ismid Hadad Pemimpin Perusahaan: Maruto MD Dewan Redaksi: Aswab Ismail, Ismid Hadad, Masmimar Mangiang, Dewi Renanid Hadiz Staf Redaksi: Nur Imam Subono Sekretaris Redaksi: Tri Emi Lestari Tata Usaha/Sirkulasi: Sudartoto, M. Sholeh, Irian Mohammad Iklan/Promosi: Anda Z. Noerzy Produksi: Anwar Degeng, Idjas Shahman, Sundjip Suparadi

Penerbit: PT Pustaka LP3ES Indonesia, SIUPP No. 072/SK/MENPEN/SIUPP/III/1986, 4 Maret 1986 Alamat: Jl. S. Parman Bl. Jakarta 11420, Telp. 5702511, Tromol pos 493, Jakarta 10002 Indonesia Bank: BUKOPIN, Cabang S. Parman, Jakarta, Nomor Rekening 004.00105 Pencetak: PT Temprint IBM Setting: Bagian Penerbitan LP3ES Jakarta Anggota SPS. ISSN 0301 – 6269.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan