PRISMA nomor ini terbit dengan pembahasan chusus terhadap bidang dan masalah2 jang disebut Pendidikan. Sampai saat ini, orang Indonesia atau masjarakat kita umumnja, masih selalu gandrung dan besar sekali ketjenderungan minat dan harapannja, terhadap bidang jang bernama Pendidikan tsb. Tentu sadja didalamnja termasuk “pengagungan”, anggapan2 sutji dan muluk serta gagasan2 serba normatif dan ideal dari pengertian “pendidikan” itu, maupun hasil2/produk jang diimpikan mampu ditelorkannja. Segala pandangan atau langkah jang ditudjukan atau menggunakan alasan untuk “pendidikan”, biasanja otomatis diterima dan dianggap “baik” atau “bermanfaat” oleh masjarakat tanpa melihat atau memperintji lebih dulu pendidikan untuk apa, dengan tjara bagaimana, berapa biaja & waktunja, dsb-nja. Lebih salah kaprah lagi bahwa konsep dan persepsi masjarakat kita tentang pendidikan itu masih diasosiasikan selalu dengan: bangku sekolah, djendjang tingkat, kehebatan sang guru, idjazah/diploma, gelar atau titel akademis, simbol status masjarakat, kartjis untuk tjari kedudukan, serta berbagai atribut2 formalitas dan konvensionil lainnja. Djarang sekali kita temui pandangan2 jang menganggap bahwa sebenarnja pendidikan hanja sekedar sarana untuk membuat “kwalitas dan makna hidup” jang lebih baik, untuk merangsang kreatifitas seseorang agar sanggup madju menghadapi tantangan2 alam, masjarakat, teknologi dan kehidupan jang makin pelik dan kompleks dewasa ini. Tudjuan atau hal2 sematjam ini, seringkali djustru tidak ada hubungannja dengan sekolah, idjazah, titel ataupun pak Guru. Untuk proses penjesuaian pandangan2 masjarakat seperti inilah, diantara faktor penting jang mendorong PRISMA menjadjikan Nomor Chusus Pendidikan.
Disamping itu, kita lihat bahwa proses perkembangan penduduk dunia dewasa ini sudah demikian dahsjat, ledakan2 manusia penghuni bumi jang menjerbu pekerdjaan, rumah, makanan, serta alam semesta jang mulai pengap menjesakkan dan sumber2nja menipis habis ini, membawa tantangan masalah penduduk — jang seperti diuraikan Dr. Winarno Surachmad — harus segera didjawab oleh peranan pendidikan, jang sejogjanja menjiapkan manusia2 jang mampu menghadapi kompetisi dunia nan makin kedjam dimasa mendatang.
Namun jang paling mendesak untuk mendjoroti masalah pendidikan sekarang djuga, adalah kenjataan bahwa bidang dan masalah ini paling banjak diperbintjangkan, diperdebatkan dihampir semua forum masjarakat kita, bahkan sering djadi issue politik ataupun alasan dan sasaran demonstrasi2, tetapi toch, paling sedikit diketahui duduk perkara sebenarnja. Lebih gawat lagi, paling mendesak dirasakan oleh masjarakat, tapi dirasakan paling kurang memperoleh urgensi tanggapan, prioritas ataupun peranan jang berarti dalam proses pembangunan jang dilakukan Kabinet Suharto sekarang. Berbagai “perasaan2” ini timbul, untuk sebagian karena soal informasi. Barangkali bahan2 informasi jang lengkap, djelas dan akurat oleh orang2 jang kompeten, masih merupakan sesuatu jang mewah buat masjarakat kita. Oleh karena itu PRISMA mentjoba mendjembatani problim ini, dengan mengundang Menteri Mashuri mendjelaskan masalah2 pokok jang dihadapi pendidikan Indonesia, sasaran jang hendak ditjapai, serta langkah2 rentjana dan program jang sedang dan akan dilakukannja sebagai Menteri P & K. Ternjata Menteri Mashuri tidak hanja menjumbang tulisan disertai data2, tabel dan skema untuk pembatja PRISMA, tapi djuga bahan2 informasi latar-belakang serta green-light untuk Staf Departemen & Badan Pengembangan Pendidikan guna melengkapi bahan dan artikel, jang semuanja itu sangat besar arti dan hasilnja dalam menjusun Nomor Chusus Pendidikan ini.
Demikianlah misalnja, gagasan2 segar dan kontroversial dari Dr. Umar Kayam sebagai orang non-pemerintah jang melihat kepintjangan kehidupan sekolah dengan dunia-njata dewasa ini, dalam arti dan batas2 tertentu setjara tidak langsung dibahas oleh Staf BPP Ir. S. Sudarmadi M.Sc. jang didalam hal ini dibantu oleh expert UNESCO Dr. L.L. Suhm, dalam uraiannja tentang azas pendidikan seumur hidup. Implementasi dari azas tersebut untuk melaksanakan pembaharuan sistim pendidikan dalam bentuk projek “Sekolah Pembangunan”, diulas oleh Prof. Dr. Ir. Bachtiar Rifai bersama Ir. S. Sudarmadi, masing2 selaku ketua dan sekretaris panitia Sekolah Pembangunan. Agaknja prinsip pendidikan komprehensif jang kini mulai dintrodusir Dept. P & K dari konsep Barat itu, perlu kita bandingkan dengan prinsip dan pengalaman serupa dalam kehidupan Pesantren2 Indonesia, jang ditulis oleh Drs. Sudjoko Prasodjo. Kritik dan perasaan2 tidak puas terhadap sekolah jang kita rasakan disini, sebenarnja sudah lama diselidiki oleh Ivan Illich di Mexico, hingga kemudian ia sampai pada kesimpulan ekstrim: hapuskan sekolah sebagai sistim pendidikan jang sudah usang dan tidak ada manfaatnja. Bukunja jang terkenal “Deschooling Society” dibahas dalam nomor ini oleh Drs. Juwono Sudarsono.
Semoga nomor ini merangsang inspirasi dan langkah2 baru bagi kita semua.