Prisma

PENGANTAR REDAKSI

Suasana suram, tidak hanja membajangi prospek masalah-masalah perekonomian dan kondisi hidup Indonesia jang makin pelik dilihat dari dalam, tapi juga dan terutama telah mentjekam keadaan dunia pada umumnja. Dalam bulan-bulan terakhir ini perkembangan situasi kehidupan internasional jang pintjang dan menjedihkan itu, terasa sekali. Presiden Bank Dunia Robert S. McNamara akhir September 1972 jang lalu melaporkan pesimisme kegagalan Strategi Pembangunan Dasawarsa Kedua PBB, karena negara-negara kaya ternjata tak bisa menaikkan bantuan bersjarat ringan kepada negara miskin mendjadi 0,70 pCt dari GNP mereka dalam tahun 1975. Bahkan kenaikan bantuan sampai 0,37 pCt dari GNP sadja sulit ditjapai, sehingga dalam lima tahun jang akan datang, negara-negara sedang berkembang dipersilahkan bergelut dengan dirinja sendiri, karena kekurangan jang besar dalam djumlah bantuan pembangunan dari negara-negara madju. Tragisnja kekurangan ini akan paling keras menimpa negara-negara jang termiskin dengan penduduk lebih dari satu miljard manusia dan pendapatan dibawah $200,— setahun per kapita dan diantaranja 800 juta penduduk hanja menerima kurang dari$ 100,— setahun. Ratusan juta diantara mereka bahkan belum pernah merasakan perbaikan nasib, dirongrong terus oleh kemelaratan massal, di tengah hamburan kemewahan negara-negara kaya jang makin makmur menikmati pendapatan per kapita $ 8.000,— lebih setahun pada akhir abad ini.

Negara-negara kaya, kekuatan blok-blok ekonomi besar di Eropa dan Amerika, tidak tjuma enggan menjisihkan prosentase ketjil sadja dari pendapatan mereka jang kian meningkat untuk membantu negara dan rakjat miskin, tetapi dewasa ini mereka juga lebih sibuk mengurus kepentingan dan kemakmuran negeri masing-masing. Usaha-usaha pendekatan dan peningkatan hubungan diplomasi dan perdagangan jang dewasa ini gentjar dilakukan antara AS—RRCina, AS—Uni Soviet dan Djepang—RRCina, serta AS—MEE—Djepang, memang mempunjai aspek positif dalam meredakan ketegangan international. Namun tidak boleh dilupakan bahwa sasaran pokok usaha-usaha itu adalah justru bagaimana melangsungkan hegemoni kekuatan ekonomi masing-masing negara besar atau sebagai blok kekuatan raksasa baru, dengan tentu kurang mempedulikan nasib dan kebutuhan negara-negara miskin jang mendjadi korban.

Dilain fihak dapat kita saksikan bahwa negara-negara sedang berkembang masih merupakan tetap kekuatan ekonomi jang tertjetjer, dan setiap hari dihadapkan kepada problim ledakan penduduk dan pengangguran massal, anak-anak terlantar, kebocoran kas negara, sumber alam dan devisa jang terus terkuras, serta kemelaratan tanpa harapan untuk kehidupan jang lebih baik di hari esok. Pendek kata, lingkaran kerepotan negara-negara berkembang untuk merangkak madju mendekati “sempurna”: di dalam negeri dikepung gunung-gunung persoalan jang makin musykil, diluar dihadang oleh kekuatan ekonomi dunia jang kian tak peduli akan nasib si miskin.

Menyadari keadaan pahit ini, bagi Indonesia dan negara-negara berkembang lainnja, tak ada pilihan lain ketjuali mengerahkan kekuatan sendiri dan bersama negara-negara ketjil jang senasib, mentjoba menjerang masalah kemelaratan massal serta barikade tindakan-tindakan egoistis negara-negara kaya. Dalam kerangka masalah, inilah mungkin kita harus melihat kegiatan Menteri Keuangan RI, Ali Wardhana memimpin “Kelompok 20” dalam forum Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional dewasa ini untuk memperbaiki sistim moneter internasional serta mentjoba kemungkinan jang lebih baik bagi negara-negara miskin. Dalam hubungan ini juga penting sekali kita ikuti langkah-langkah di bidang perdagangan, potensi dan prospek komoditi ekspor kita, kemungkinan-kemungkinan pembinaan modal dalam negeri serta bagaimana menghadapi situasi perdagangan internasional, jang sedang dirintis oleh Menteri Perdagangan Sumitro Djojohadikusumo. Pokok-pokok fikiran kebidjaksanaan jang diutarakannja dalam nomor PRISMA ini, sekalipun tidak banjak mengandung hal-hal baru, sedikitnja dapat memberi tambahan horison pandangan dan dimensi masalah-masalah jang kita hadapi kini, sebagaimana disinggung di atas. Tentu saja optimisme Prof. Sumitro dalam melihat problim-problim sekarang ini patut dimanfaatkan oleh mereka jang menganut pandangan jang lebih kritis. Menghadapi kekuatan ekonomi internasional dan membina daya kemampuan bangsa-bangsa senasib, tentu tak bisa dilepaskan dari upaya Indonesia bersama ASEAN dewasa ini merintis jalur hubungan jang tak mudah dengan Masjarakat Ekonomi Eropa, sebagaimana diuraikan oleh penulis muda H.S. Kartadjoemena. Demikian pula berapa besar harapan dapat kita andalkan dari kekajaan alam & sumber devisa kita jang terbesar: minjak bumi, dapat diikuti dari analisa Dahlan Thalib jang melandjutkan uraian nomor jang lalu.


Apabila PRISMA No. 6 sampai ke tangan pembatja, perlu ditjatat bahwa madjalah ini mulai mengindjak umur setahun. Belum banjak jang berhasil ditjapainja dari usia sependek enam kali terbit itu. Tapi paling tidak, PRISMA sebagai jurnal berkala jang serius, telah mampu hadir setjara teratur dan kontinyu, telah memenuhi sebagian dari hasrat mereka jang berselera profesionil, juga mulai dirasakan sebagai batjaan jang dibutuhkan oleh universitas, dan sebagian dunia usaha serta kalangan pemerintahan. Hanja masih banjak keluhan bahwa PRISMA terlalu berat pada pembahasan bidang ekonomi, terlalu “Jakarta-sentris”, dan banjak masalah-masalah sosial dan kulturil dilewatkan begitu saja. Pasti ini bukan soal jang mudah, mengingat penulis-penulis kreatif kita di bidang non-ekonomi dan dari daerah-daerah, memang belum banjak tertarik atau belum sempat menjumbang untuk PRISMA. Karena itu untuk menundjukkan bahwa PRISMA bukan semata-mata madjalah ekonomi, dan guna memantjing minat penulis-penulis muda jang berbakat menjelang usia setahun madjalah ini, kami muatkan artikel dari rekan-rekan ITB jang berhubungan dengan soal “Kreativitas”. Semoga ini merupakan sematjam isyarat bagi kelangsungan PRISMA di masa mendatang, jang hanja mampu hidup terus, bila Indonesia tjukup memiliki insan-insan kreatif.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan