Prisma

PENGANTAR REDAKSI

Tidak ada karya besar yang dijadikan tumpuan harapan dari begitu banyak orang seperti halnya pembangunan dewasa ini. Masing-masing orang meletakkan arti tersendiri terhadap aspek dan manfaat pembangunan yang mereka harapkan. Bagi teknokrat ahli ekonomi, pembangunan berarti meningkatkan GNP, laju pertumbuhan yang lebih pesat, investasi modal — asing atau domestik — yang kian membesar. Bagi ABRI berarti taruhan utama dari kepemimpinannya sekarang. Sedang bagi rakyat awam, pembangunan tak lain dari cukup sandang dan pangan, rumah yang layak, tersedia sekolah, mesjid, klinik, jalan raya, saluran irigasi, dan sebagainya. Tetapi hanya ada satu segi saja dari pembangunan itu dimana sekarang semua pihak — hampir tanpa kecuali — bertemu dalam skala harapan dan keprihatinan yang paling peka: soal kesempatan kerja. Maklumlah semua orang — tanpa kecuali — butuh kerja, dan sangat tidak tentram batinnya menyaksikan betapa langkanya lapangan kerja yang ada sekarang di negeri ini. Hingga kegawatan aspek pembangunan yang satu ini makin deras dipersoalkan dan dipertaruhkan oleh masyarakat maupun oleh pemerintah sendiri, di dalam negeri ataupun di dunia internasional.

Tentu saja ini suatu pertanda dan arah yang baik. Sebab sudah menyangkut persoalan yang menjadi harkat pokok kehidupan manusia. Tetapi sudah berapa jauhkah masalah ini ditanggapi? Atau bagaimana kesadaran dan usaha pemerintah mengatasi masalah kesempatan kerja tersebut? Untuk itu PRISMA kali ini mengandung seorang anggota team ahli ekonomi Presiden Suharto mengungkapkan strategi kesempatan kerja yang ditempuh pemerintah Indonesia serta tertanganannya selama ini. Uraian Prof. Moh. Sadli dalam nomor ini — yang dikemukakan pada minggu terakhir dari jabatannya sebagai Menteri Tenaga Kerja RI — kiranya menunjukkan kadar tanggapan pemerintah yang cukup berarti, langkah-langkah kebijaksanaan yang sudah mulai terarah, sekalipun dimensi-dimensi permasalahan yang dihadapi ternyata tidaklah sederhana, khususnya bila dihubungkan dengan penerapan teknologi yang dapat menunjang strategi penyediaan kesempatan kerja tersebut.

Kebijaksanaan yang ditempuh oleh teknokrat Indonesia memang bukan cara pendekatan yang radikal atau secara struktural seperti misalnya yang dianut oleh Mahbul ul Haq, figur internasional yang pandangan-pandangannya tentang pembangunan dan kesempatan kerja belakangan ini banyak merangsang berbagai tanggapan dan pemikiran dikalangan para perencana ekonomi, dan karenanya kami muatkan di sini sekedar sebagai bahan pengetahuan bagi pembaca yang belum sempat mengikutinya. Sekalipun mungkin kita bisa setuju dengan titik tolak dan asumsi-asumsi pandangannya yang memang punya landasan argumentasi kuat, tetapi kesimpulan dan model pembangunan yang disarankan oleh ahli ekonomi Pakistan yang kini bermukim di Washington itu tidak dengan sendirinya bisa cocok untuk Indonesia. Apalagi pandangan sangat extrém dari Denis Goulet tentang pembangunan di Amerika Latin yang juga kami muat pada bagian akhir nomor ini, adalah masalah yang dewasa ini mungkin tidak relevan dengan pembangunan kita, namun tidak ada salahnya kita pakai sebagai bahan renungan untuk studi perbandingan kasus dalam jangka panjang. Dalam nomor-nomor yang akan datang, PRISMA akan terus berusaha memberi tempat dan prioritas pada masalah-masalah dasar dan problem-problem aktuell yang menyangkut soal kesempatan kerja.

Pada nomor ini pembaca dapat mengikuti dua artikel mengenai masalah Masyarakat Tionghoa Perantauan, masing-masing dari pandangan seorang anggota ABRI yang melihatnya dari kacamata hankamas, dan satu lagi menurut pengamatan wartawan yang menggambarkan pola-pola perdagangan kelompok tersebut di daerah Semarang. Masalah ini diketengahkan, sebagai usaha untuk melihat aspek lain dari pembangunan dan masalah kesempatan kerja, ataupun terhadap soal golongan “pribumi — non pribumi” (betapapun tidak tepatnya istilah itu) yang akhir-akhir ini banyak dipersoalkan masyarakat. Tanggapan dan analisa selanjutnya, masih diharapkan dari penulis lain yang lebih ahli.

Catatan penting yang perlu dikemukakan di sini ialah bahwa sebagian besar artikel-artikel PRISMA nomor ini merupakan hasil sumbangan dan partisipasi spontan dari pembaca dan peminat PRISMA, tanpa diminta sebelumnya oleh redaksi. Dua diantaranya dikirim oleh sarjana Indonesia yang sedang belajar di luar negeri, yaitu saudara Mochtar Naim dari Universitas Singapura, dan Sadono Sukimo dari Universitas Malaya di Kuala Lumpur. Sedangkan artikel sumbangan Ny. Sunaryati Hartono membahas aspek bidang hukum dalam pembangunan yang baru pertama kali ini dimuat PRISMA, dan kebutuhan untuk pertama kalinya ditulis oleh sarjana wanita Indonesia. Dengan sendirinya redaksi sangat berterima kasih atas sumbangan serta partisipasi aktif dari pembaca dan peminat PRISMA tersebut.

***

Sedikit penjelasan yang menyangkut penerbitan PRISMA perlu kami sampaikan disini. Yaitu bahwa majalah ini diterbitkan oleh Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) yang sejak berdirinya pada 1971 dipimpin oleh saudara Nono Anwar Makarim selaku Direktur LP3ES dan secara ex-officio menjabat pula sebagai Pimpinan Umum PRISMA. Pada akhir April 1973 masa jabatan Nono Anwar Makarim telah berakhir dan digantikan oleh Direktur baru yaitu Ir. Tawang Alun dan dengan demikian menjabat pula Pimpinan Umum PRISMA mulai nomor ini. Ada satu lagi penjelasan mengenai perubahan harga. Sebagai penerbitan ilmiah yang tidak mengejar keuntungan komersil, majalah ini diedarkan dengan harga yang memperoleh subsidi dari LP3ES, sampai pada waktu naanti PRISMA dapat membiayai penerbitannya sendiri. Tapi sementara itu harga-harga kertas dan biaya cetak telah naik dengan sangat menyokok akhir-akhir ini, sementara jumlah subsidi makin berkurang, sehingga dengan berat hati mulai nomor ini harga jual dan langganan PRISMA terpaksa juga mengalami kenaikan. Semoga hal ini dapat pembaca maklumi.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan