Masalah remaja dan anak-anak terlalu dahsyat untuk sekedar dibiarkan menjadi kerepotan rutin orang tua, para pendidik, polisi ataupun dinas sosial. Sebab lebih dari 61% jumlah penduduk republik ini justru terdiri dari anak-anak, remaja dan pemuda di bawah umur 24 tahun. Karena itu bertepatan dengan Hari Kanak-kanak Sedunia, dalam penerbitannya tahun 1973 ini sekali lagi PRISMA mengemukakan persoalan kaum muda — kali ini dengan fokus masalah pengembangan sumber daya manusia usia muda — dengan maksud untuk lebih menggugah dan mendorong Pemerintah serta mengajak segala unsur dan kekuatan masyarakat agar makin menyadari urgensi, segera mencari jalan untuk ikut mengatasi masalah lapisan masyarakat yang kritis ini.
Meledaknya problematik penduduk berusia muda tidak hanya dirasakan oleh Indonesia. Fenomena dahsyat ini pada waktu sekarang bahkan sedang melanda bagian terbesar penduduk dunia, yaitu pada hampir seluruh negara-negara sedang berkembang — khususnya mereka yang berdiam di kampung-kampung miskin dan pelosok-pelosok pedesaan — sebagaimana bisa diikuti dari Laporan Unicef dalam nomor ini. Sebaliknya bagi Indonesia, sekalipun masalah pengembangan sumber daya usia muda (pengembangan sumber daya manusia muda) ini telah tercatat dalam Garis-garis Besar Haluan Negara, namun dalam perencanaan pembangunan nasional belum lagi dijabarkan dalam strategi dan program pemecahan secara kongkrit. Bahkan data-data kuantitatif, usaha-usaha penelitian, ataupun lembaga dan para ahli yang secara khusus menangani masalah tersebut masih jauh dari memadai. Tetapi mengingat bahwa usaha kearah itu bagaimanapun harus dimulai sekarang juga, maka LP3ES sebagai lembaga muda yang memang berurusan dengan masalah pemuda dalam menghadapi tantangan masa depannya, merasa perlu membahas, menyoroti dan melakukan kegiatan-kegiatan dibidang kepemudaan ini secara terus-menerus. Demikianlah nomor khusus PRISMA kali ini disiapkan oleh LP3ES dengan bekerjasama dan atas bantuan Saudara Soeleman Soemardi dan S. Mursjid dari staf BAPPENAS serta Steve H. Umemoto dari perwakilan UNICEF di Jakarta. Dengan sendirinya tidak semua aspek dan masalah pokok dari pengembangan sumber daya usia muda berhasil diungkapkan dalam nomor ini. Aspek penting seperti kesehatan, malnutrisi, kesejahteraan dan kesempatan kerja misalnya, belum sempat diuraikan. Untuk sebagian hal ini karena belum adanya bahan dan data serta kurangnya tenaga ahli, disamping batasan tempat dan waktu. Mungkin dilain kesempatan PRISMA akan memperoleh sumbangan artikel dari mereka yang berminat di bidang tersebut.
* * *
Dalam nomor ini, pembaca dapat mengikuti sumbangan artikel Prof. Koentjaraningrat yang secara menarik memaparkan hasil penelitian yang dipimpinnya mengenai pengaruh industrialisasi dan perkembangan kota DKI Jaya terhadap keadaan dan kehidupan petani buah-buahan di daerah selatan Jakarta. Sedangkan J. Supranto mengungkapkan disini hasil-hasil survey terhadap keadaan sosial ekonomi masyarakat di kampung-kampung yang terkena proyek M. Husni Thamrin, sebagai suatu gambaran deskriptif pendahuluan yang mungkin bisa digunakan sebagai bahan penelitian yang lebih mendalam terhadap masyarakat dan proyek penting Pemda DKI Jaya tersebut.
* * *
Jurnal dwi-bulanan PRISMA yang pembaca nikmati sekarang ini adalah penerbitan yang ke-dua belas, sejak ia terbit pertama kali pada bulan November 1971. Selama proses waktu itu, banyak yang terjadi: PRISMA tidak saja berhasil terbit secara teratur dengan jumlah pembaca dan peminat yang makin meluas, tetapi juga dalam hal isi dan mutu jurnal ini terus menerus mengalami perbaikan. Mutu dan pelayanan kepada pembaca agaknya makin membaik; jumlah halaman tiap kali meningkat sedang wajah dan tata-rias jurnal ini diusahakan makin menarik. Kalau PRISMA terbitan pertama lahir hampir-hampir tanpa ilustrasi, maka sejak awal 1972 wajah halaman isi PRISMA makin dipercantik: Hal ini terjadi berkat sumbangan vignet, sketsa & ilustrasi oleh seniman-seniman Jakarta seperti Wim Nirahua, Djufri Tanisan dan Adi Munardi. Mulai nomor April 1973, staf artistik PRISMA diperkaya dengan bantuan Drs. T. Sutanto, dosen seni-rupa Institut Teknologi Bandung. Karena itulah, sejalan dengan usaha untuk meningkatkan pelayanan kepada pembaca, PRISMA kemudian merealisir gagasan membuat poster — terutama untuk dilampirkan pada penerbitan nomor khusus — yang diharapkan memiliki manfaat dalam melukiskan thema pokok atau gagasan utama dari isi penerbitan pada nomor yang bersangkutan.
Poster PRISMA ini mulai kami produsir pada nomor khusus “Prospek Masyarakat Desa” (Prisma no. 4/tahun ke-II/Agustus 1973). Keseluruhan isi dan thema nomor tersebut oleh T. Sutanto dilukiskan sebagai simbol ironi pembangunan Indonesia: berkembangnya masyarakat kota di atas punggung petani dan kehidupan desa yang justru belum menikmati hasil pembangunan tersebut. Poster PRISMA nomor ini — juga hasil design T. Sutanto dkk — mencoba melukiskan eksplosi angkatan muda yang dewasa ini harus berhadapan dengan tantangan polusi kegelapan masa-depan mereka yang penuh tanda tanya. Poster-poster itu tidak cuma penting untuk promosi PRISMA, namun — lebih penting dari itu — ia akan punya serba manfaat: sebagai alat komunikasi terhadap gagasan atau tujuan yang mungkin anda setujui dan karenanya perlu diperjuangkan bersama — untuk ditempel pada dinding kantor atau rumah, pada papan kampus atau ruang kelas, atau dimana saja tempat untuk berkomunikasi.
Akhirnya perlu disampaikan disini bahwa PRISMA yad (Nomor Desember 1973) akan menyajikan pembahasan khusus tentang masalah “HUKUM vs PEMBANGUNAN”, dan mungkin sebelum tutup tahun 1973 ini redaksi akan menyumbangkan sebuah nomor extra yang berisi fikiran-fikiran kontemplatif dari tokoh-tokoh cendekiawan dunia.