Nomor ini adalah penerbitan nomor ekstra. Artinya di luar enam kali nomor standard terbit Prisma dalam setahun. Selain itu isi dan ruang-lingkup pembahasannya juga bersifat ekstra, karena tidak terbatas pada persoalan Indonesia, tetapi mencakup pembahasan masalah masyarakat dunia. Prisma kali ini datang tidak dengan problem-problem pembangunan ekonomi dan perkembangan sosial secara khusus, melainkan mengetengahkan usaha pengkajian model dan falsafah pembangunan secara umum tapi aktuil; masalah kegawatan keadaan ummat manusia di mana-mana, di pandang dari kacamata budaya dan sejarah, dari segi hakekat hidup manusia sendiri. Ini kedengarannya agak muluk-muluk dan abstrak, namun setelah pembaca nanti ikut menghayati pemikiran para cendekiawan dunia melalui risalah-risalah diskusi mereka dalam dua kelompok yang terpisah – untuk singkatnya kita sebut saja Kelompok Roma dan Kelompok Bellagio – yang kami muat dalam nomor ini, segera akan terasa bahwa problem dan pemikiran yang mereka kemukakan itu sebenarnya cukup riil, relevan dan dekat sekali dengan permasalahan yang kita hadapi sehari-hari dan di masa mendatang.
Seberapa jauh relevansinya dan mengapa masalah-masalah itu menjadi penting bagi kita di Indonesia sekarang, telah dengan jelas digambarkan dalam kata-pengantar Dr. Soedjatmoko yang telah bertindak sebagai redaktur tamu Prisma nomor ekstra ini, tidak saja dalam penyediaan dan pemilihan bahan-bahan tulisan serta maksud nomor ekstra ini tapi juga sampai pada pemeriksaan dan editing naskah-naskah yang diterjemahkan oleh sastrawan Taufiq Ismail dan juga Sedhono. Dengan demikian Prisma mendapat kehormatan dan sumbangsih yang sangat berharga dari sumber yang paling otentik dan seorang yang paling kompeten dalam hal ini. Karena redaktur tamu kita nomor ekstra ini adalah seorang cendekiawan Indonesia yang bukan kebetulan menjadi anggota dari kedua kelompok studi internasional tersebut di atas, yaitu Kelompok Colloquium Bellagio dan juga sejak awal 1973 anggota Club of Rome. Bahkan dalam Colloquium Bellagio, Soedjatmoko bersama dengan Paul J. Braisted, bekas Presiden Hazen Foundation dan Kenneth Thompson, Wakil Presiden Rockefeller Foundation, adalah penulis dan penyusun laporan utama kelompok tersebut, “Reconstituting the Human Community”, yang disini kami muat selengkapnya dengan judul “Pembudayaan Masyarakat Dunia”. Laporan ini telah memperoleh sambutan positif yang cukup luas mengingat sifat khas permasalahannya. Terbitan orisinilnya telah dua kali di cetak di Amerika Serikat, juga telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa nasional di Timur Tengah, Muang Thai, India dan Jepang, serta digunakan sebagai bahan pemikiran dan perumusan kebijaksanaan oleh berbagai konferensi internasional dan negarawan/cendekiawan terkemuka. Di Indonesia sendiri, laporan Colloquium Bellagio ini telah banyak di manfaatkan khususnya oleh Menteri Mashuri, yang telah mereproduksi teks aslinya untuk keperluan intern Departemen P & K, maupun kini menggunakannya sebagai bahan kebijaksanaan serta pidato umum selaku Menteri Penerangan RI.
Di tengah gejolak perkembangan masyarakat kita dewasa ini yang sedang berada di ambang pintu Repelita Kedua, di mana masalah-masalah bantuan luar negeri, penanaman modal asing, eksploitasi sumber-sumber alam, serta model dan strategi pembangunan negeri ini sedang dipersoalkan kembali dan menjadi hangat lagi oleh suara-suara lantang angkatan muda menjelang akhir tahun 1973 ini, maka munculnya pemikiran kontemplatif dan usaha pengkajian oleh cendekiawan dunia yang kami sajikan dalam nomor ini pasti akan ada manfaatnya bagi usaha pencarian kita bersama. Namun harus segera kita sadari, bahwa sementara kita mencari model pembangunan yang tepat, sementara kita mengkaji dan menyelusuri berbagai eksperimen dan usaha hubungan kebudayaan untuk masa depan yang belum jelas pola dan bentuknya itu, pada saat yang bersamaan kita dihadapkan pada kenyataan masyarakat luas yang miskin dan terbelakang yang menuntut jawaban dan tindakan sekarang juga. Proses dan hasil pembangunan kita sampai sekarang memang masih penuh kepincangan. Tapi usaha pembangunan itu sendiri tak bisa dan tak boleh dihentikan, hanya karena kita harus menunggu pencarian alternatif model yang lebih baik. Sebab menunda pembangunan berarti membawa stagnasi dan menunda kemelaratan. Sebaliknya, meneruskan pembangunan dengan model, cara dan arah yang sekarang, jelas tidak menutup kemungkinan kita akan meluncur ke jurang kegagalan. Disinilah kejamnya dilemma pilihan yang kita hadapi dewasa ini. Bagaimanapun juga, usaha-usaha pengkajian mungkin akan tetap merupakan suatu keharusan. Soalnya, berapa cepat kita akan sanggup berpacu dengan mendesaknya waktu dan makin menggawatnya problim-problim dunia?