Apabila jurnal nomor ini sampai ke tangan pembaca, REPELITA I sudah sampai di ambang titik akhir, sementara puncak kesibukan persiapan fase baru REPELITA II, semakin ditandai oleh berbagai gejolak perasaan, gagasan dan tindakan yang cukup ramai: pencerminan pengalaman masyarakat dan pemerintah selama lima tahun proses pembangunan. Memang banyak pelajaran yang bisa ditarik dari jerih payah PELITA I ini. Berbagai keluhan, kelemahan dan kepincangan PELITA I telah dibahas, dicatat dan dirumuskan perbaikannya dalam REPELITA II. Usaha mengatasi masalah kesempatan kerja, pendidikan, kesejahteraan sosial, pembinaan generasi muda, perbaikan aparatur, pengelolaan sumber alam dan lingkungan hidup akan ditingkatkan dalam PELITA II. Maka tidak sia-sia usaha penerbitan Jurnal Prisma yang selama tahun 1972–1973 telah mengarahkan sorotannya atas masalah-masalah “non-ekonomi” tersebut. Jurnal inipun merasa telah memenuhi sebagian fungsinya dalam usaha komunikasi dan pembaharuan sosial: beranjaknya orientasi pembangunan yang bersifat tehnis-ekonomis dengan ukuran-ukuran kwantitatif ke orientasi yang lebih komprehensif dengan keseimbangan kwalitas hidup yang lebih baik.
Oleh karena itu pada penerbitan nomor pertama jurnal ini — yang sekarang menginjak tahun ke III (1974) — Prisma ingin mengajak sidang pembaca untuk lebih mengamati masalah-masalah pembangunan dalam hubungannya dengan lingkungan hidup kita, suatu masalah pokok yang bukan hanya menjadi keprihatinan jurnal ini sejak terbitnya, namun kini malahan telah dicantumkan dalam Garis-garis Besar Haluan Negara yang juga akan dituangkan dalam program-program REPELITA ke II. Dalam usaha ini, redaksi merasa berterima kasih dan kita semua menarik banyak manfaat dari forum “Pekan Lingkungan Hidup” yang diselenggarakan di Bogor & Jakarta tanggal 21–26 Januari 1974 oleh Panitia Perumus dan Rencana Kerja Bagi Pemerintah di bidang Lingkungan Hidup bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Karena pada forum Pekan Lingkungan Hidup itulah untuk pertama kalinya Indonesia membahas secara luas, intensif dan terarah masalah tersebut di kalangan para ahli dan peminat dari berbagai bidang dan keahlian, serta dari forum itu pula Prisma memperoleh sebagian bahan pemikiran dan tulisan untuk nomor ini.
Bagi Indonesia dan negeri sedang berkembang lainnya, masalah lingkungan hidup yang dirumuskan sebagai pencerminan dari “akibat keterbelakangan pembangunan” dan juga “akibat pelaksanaan pembangunan itu sendiri”, jelas memiliki multi-dimensi permasalahan yang amat kompleks dan tidak mungkin dirangkum dalam satu-dua nomor khusus Prisma sekalipun. Apa yang bisa disajikan di sini hanya sekedar cukilan dari beberapa gambaran masalah dan policy umum serta beberapa kasus kecil dari problim lingkungan hidup yang sudah mulai kita hadapi. Demikianlah misalnya kami sajikan tulisan Prof. Dr. Bachtiar Rifai untuk sedikit memberi bayangan tentang masalah pembangunan dan lingkungan hidup itu dalam hubungannya dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kertas karya Rio Rachwartono sedikit banyak mencerminkan pemikiran konsep dan arah kebijaksanaan yang mungkin akan ditempuh Pemerintah Indonesia didalam menyusun program pembangunan yang sekaligus akan mencoba mengatasi masalah-masalah lingkungan hidup yang dihadapi. Tulisan Prof. Otto Soemarwoto adalah kasus contoh kongkrit dari usaha pembangunan waduk dan bendungan yang mutlak perlu didekati dari segi ekologi lingkungan daerah aliran sungai, sedangkan masalah pencemaran lingkungan di daerah padat penduduk serta problema permukiman penduduk dengan kasus DKI Jakarta diuraikan sedikit oleh Soetjipto Wirosardjono. Kasus-kasus masalah lainnya yang mendesak seperti pencemaran di lautan, perlindungan dan pengawetan sumber-sumber alam, pencemaran air dan udara, kerusakan tanah-tanah pertanian dan hutan, dan lain sebagainya, kami harapkan dapat dibahas oleh penulis lain pada nomor-nomor mendatang. Namun untuk memperoleh gambaran secara global dari masalah besar yang dihadapi dunia modern dewasa ini, kami persilahkan pembaca menengok kembali penerbitan Prisma Nomor Ekstra 1973: “Membudayakan Masyarakat Dunia”.
Nomor ini juga kami lengkapi dengan dua tulisan mengenai masalah Pariwisata, mengingat dalam bulan April 1974 nanti Indonesia akan menyongsong peristiwa kepariwisataan yang cukup penting dengan dilangsungkannya Konferensi PATA 1974. Tentu saja jurnal kita ini tidak ingin sekedar latah dengan “demam” optimisme sekitar industri pariwisata dan prospek PATA tersebut. Hanya sayang sekali bahwa beberapa tulisan yang mencerminkan pandangan dan analisa yang lebih kritis terhadap masalah kepariwisataan ini tidak dapat siap pada waktunya, sehingga yang dapat disajikan sekarang barulah artikel Hari Hartono yang sangat membantu kita dalam memahami bidang pendidikan dan kesempatan kerja. Bahwa pariwisata erat hubungannya dengan masalah kebudayaan, secara ringkas dilukiskan sekedarnya oleh Prof. Selo Soemardjan. Diharapkan penulis lain akan terpancing untuk ikut membahas masalah pariwisata tersebut secara lebih mendalam.
Akhirnya kami anjurkan pembaca mengikuti saduran artikel dari Prof. Hans-Dieter Evers dan Daniel Regan yang secara menarik sekali telah melaksanakan survey dan analisa mengenai pengaruh pendidikan spesialisasi dari kelompok profesi — khususnya profesi dokter di Malaysia dan Indonesia — terhadap tingkat partisipasi mereka dalam masyarakat serta usaha pembaharuan sosial.