Prisma

Pengantar Redaksi

Menteri Agama Prof. Mukti Ali beberapa waktu yang lalu menyampaikan kritik kepada Prisma. Bahwa sebagai jurnal pembahasan masalah-masalah sosial-ekonomi, Prisma justru belum pernah mengetengahkan masalah-masalah keagamaan dalam kehidupan sosial dan proses pembangunan dewasa ini. Ternyata Menteri Mukti Ali tidak sendiri dalam pendapatnya itu. Banyak lagi surat-surat dan angket pembaca Prisma menyebutkan kekurangan tadi.

Menyadari hal ini, redaksi segera melakukan beberapa penjajagan di antara kalangan yang lebih memahami soal-soal keagamaan dalam konteks pembangunan kita sekarang. Beberapa pendekatan dan diskusi kami lakukan dengan mereka yang ahli dan berminat di BAPPENAS, LEKNAS, IAIN, sekolah-sekolah teologia, kelompok-kelompok studi keagamaan serta beberapa pemuka masyarakat lainnya. Tetapi semuanya berbicara dalam kapasitas pribadi, tanpa membawa nama atau mengaitkan pendapatnya dengan lembaga atau organisasi yang bersangkutan. Hasil penjajagan dan diskusi tersebut kemudian direkam dan diolah lagi, untuk dijadikan suatu bahan pengantar bagi para calon penulis yang diharapkan membahas topik yang akan diterbitkan dalam nomor khusus ini. Demikianlah artikel bersifat memorandum pengantar dengan judul “Iman, Amal dan Pembangunan” yang disajikan sebagai tulisan pertama nomor ini merupakan hasil pemikiran bersama yang disusun oleh suatu dewan redaksi yang diminta Prisma khusus untuk itu. Maka bagi pembaca yang ingin mengetahui mengapa dan apa yang diharapkan Prisma dari nomor khusus ini, kami persilahkam membaca memorandum pengantar tersebut.

Sekalipun tidak semua calon penulis yang dihubungi menyatakan kesediaannya, namun sambutan dan tanggapan para penulis umumnya cukup menggembirakan. Enam penulis Indonesia, masing-masing sebagai penganut agama Islam, Kristen-Protestan, Katolik, Hindu-Dharma dan aliran kebatinan, telah mencoba memaparkan renungan dan responsnya secara pribadi terhadap masalah-masalah pembangunan dan perkembangan keadaan dewasa ini. Respons mereka itu belum tentu mencerminkan tanggapan sebagian besar umat atau pandangan masing-masing agama dan aliran kepercayaan yang bersangkutan. Respons itu juga menunjukkan adanya perbedaan kaca mata pandangan dan tingkat dialog yang terjadi dalam diri masing-masing orang dan masing-masing agama serta kepercayaan.

Namun semuanya memperlihatkan respons moril ataupun historis dari pergumulan agama dan kepercayaan terhadap masalah-masalah kemasyarakatan dan pembangunan dewasa ini. Suatu pergumulan yang dilandasi keprihatinan moral dan ditujukan bagi kebahagiaan umat manusia, dalam perkembangan masyarakat yang sedang berubah.

Berhubung dengan kesulitan untuk memperoleh penulis dari kalangan penganut agama Budha di Indonesia, maka sebagai gantinya kami muat dalam nomor ini sebuah tulisan Dr. E. F. Schumacher—seorang ahli ekonomi Eropa dan penganut ajaran Gandhi—yang kebetulan telah melakukan studi terhadap pandangan ekonomi Budha dalam perbandingannya dengan konsep ekonomi modern. Sedangkan tulisan terakhir dalam penerbitan nomor ini hanyalah suatu esei mengenai masalah partisipasi rakyat dalam proses pembangunan, sekedar untuk merangsang pemikiran dan pencarian alternatif-alternatif dari nilai-nilai budaya dan keagamaan yang mungkin bisa ditelaah dan dikembangkan.

Bagaimanapun, ini baru usaha pertama yang mampu dilakukan jurnal ini untuk mengetengahkan pembahasan masalah-masalah pembangunan ditinjau dan dalam hubungannya dengan aspek keagamaan dan kepercayaan masyarakat. Dengan sendirinya di sini masih banyak ditemui kelemahan dan kekaburan. Tetapi setidak-tidaknya, masalah-masalah dan pandangan-pandangan yang dikemukakan di sini terlalu fundamentil bagi kita untuk diabaikan begitu saja. Maka penjajagan, pembahasan dan kesimpulan-kesimpulan selanjutnya, kami serahkan sepenuhnya kepada sidang pembaca dan masyarakat yang berminat.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan