Prisma

Pengantar Redaksi

Redaksi Prisma kali ini ingin mengajak sidang pembaca untuk membahas, setidaknya mengkaji suatu topik khusus mengenai kaum wanita. Tetapi mengapa soal wanita? Bukankah masih banyak soal-soal lain yang lebih penting dalam pembangunan kita dewasa ini? Mengapa Prisma ikut-ikutan majalah dan media massa lain yang sudah begitu banyak atau sering membuat lembaran khusus tentang kewanitaan? Atau begitu pentingkah masalah wanita itu sekarang, hingga Prisma perlu menyajikannya sebagai suatu nomor khusus pula? no, pertanyaan-pertanyaan itu sendiri justru menunjukkan betapa kita tidak tahu proporsi masalah sebenarnya dari kaum wanita itu, khususnya di Indonesia pada zaman pembangunan mutakhir ini. Padahal, masalahnya menyangkut nasib dan peranan dari 50,8% warga negara Republik ini. Sedangkan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa menyatakan bahwa kita saat ini sedang hidup dalam Tahun Wanita Internasional: apa gerangan sebabnya, apa pula relevansinya dengan Dasawarsa Pembangunan II dewasa ini? Setelah tiga puluh tahun merdeka, wanita Indonesia makin maju atau tetap di belakang kaum pria? Upaya-upaya pembangunan sekarang ini telah mampu mengangkat martabat dan peranan kaum wanita, ataukah sebaliknya? Sungguh, bagi sebagian besar kita (termasuk bagi kaum wanita sendiri) dunia wanita masih merupakan kabut gelap, paling tidak remang-remang, di tengah terang-benderangnya sinar surya pembangunan bangsa modern. Dan mengingat hidup kita sehari-hari begitu tergantung pada kaum Hawa itu, jurnal ini tentu tidak ingin membiarkan masalahnya hanya terbenam dalam kabut tanda tanya belaka.

Sekalipun demikian, bukan maksud Prisma untuk mengunyah kembali seruan dan dengungan klise sekitar masalah wanita—yang seringkali diperbincangkan dan diperdebatkan dalam berbagai forum. Tidak juga terkandung maksud untuk menjadikan wanita sebagai daya tarik penghias majalah atau mengangkatnya menjadi issue politik yang menghebohkan. Yang kami coba usahakan hanyalah sekedar mengemukakan segi-segi permasalahan wanita yang selama ini terasa diabaikan atau kurang disoroti secara serius, namun begitu besar artinya bagi kaum wanita sendiri, karena menyangkut bagian kehidupan mereka yang hakiki. Dalam dimensi yang lebih luas, hal ini tentu saja besar implikasinya bagi kelangsungan pembangunan sosial ekonomi negara kita.

Dalam rangka inilah, kita memperoleh manfaat bantuan dan pelajaran yang berharga sekali dari Dr. Mely G. Tan yang telah bersedia menjadi redaktur tamu nomor ini. Keahliannya dalam bidang sosiologi, dan pengamatannya yang teliti terhadap masalah-masalah wanita di negeri ini telah membawa Prisma kepada penyusunan kerangka permasalahan nomor khusus ini—suatu kerangka yang dimaksudkan untuk mendukung tema pencarian suatu “cakrawala baru” bagi kaum wanita di balik peranan dan kodratnya sebagai isteri, ibu dan ratu rumah tangga. Pencarian cakrawala baru itupun sebenarnya masih terbatas pada beberapa bidang pokok dan umum seperti status sosial, pendidikan, kerja dan karir serta persepsi dan peranan mereka dalam masalah kependudukan. Di sinipun sebenarnya tidak terlalu banyak yang bisa diungkapkan, sebab wilayah ini sejak semulanya memang kurang dijelajahi, dan apa yang disajikan di sini lebih banyak bersifat merintis pembahasan. Karena kita merasa perlu untuk memulai usaha menguak tabir di atas wilayah permasalahan yang selama ini kelihatannya seperti diliputi kabut. Apakah di balik kabut itu tampak cakrawala baru—kiranya kaum wanita sendirilah yang mampu melihat dan memberi jawab. Dan apakah cakrawala itu hanya bersifat semu atau patut disongsong, mereka jugalah yang harus memutuskan. Namun, apapun keputusan mereka, kita semua akan terkena impaknya.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan