Memasuki tahun 1976 ini, Prisma menampilkan wajahnya yang serba baru. Bukan hanya wajah kulit depannya yang—mudah-mudahan—lebih menarik, juga penyajian isi dan intensitas terbitnya mengalami perbaikan. Kalau selama empat tahun pertama jurnal ini berhasil secara kontinyu dan teratur terbit setiap dua bulan sekali, maka menginjak tahun penerbitannya yang kelima ini Prisma memastikan diri menjadi jurnal bulanan. Dengan frekwensi terbit yang dua kali lebih besar dari biasanya itu, Prisma bermaksud memberi bahan informasi dan pengetahuan yang lebih banyak dan lebih aktuil kepada pembaca. Di samping artikel-artikel yang seringkali panjang dan berat, mulai nomor ini bisa dibaca beberapa rubrik baru yang agak pendek dan populer: Tinjauan Buku, Kegiatan Ilmiah & Seminar, Kritik & Komentar pembaca, dan juga Dialog. Rubrik baru yang disebut terakhir ini dimaksudkan sebagai forum pembahasan secara langsung terhadap tema atau topik utama Prisma, melalui tokoh dan ahli yang tidak sempat menulis.
Dengan perubahan-perubahan ini barangkali timbul kekhawatiran bahwa bobot mutu dan kadar ilmiah Prisma akan menurun. Kekhawatiran itu sebenarnya kurang beralasan. Pengetahuan dan kebenaran ilmiah justru akan memberi manfaat lebih besar, bila dapat disajikan dengan cara yang mudah dan cepat difahami oleh banyak kalangan. Bukan sebaliknya. Karena tujuan kita adalah menyebar-luaskan informasi dan ilmu pengetahuan itu sebanyak dan secepat mungkin kepada lapisan masyarakat terbanyak yang mungkin dijangkau oleh jurnal ini, hingga proses mencerdaskan kehidupan bangsa bisa berlangsung sebagaimana kita harapkan.
Demikianlah nomor pertama Prisma bulanan ini kami antarkan kepada pembaca dengan hidangan masalah yang pasti mampu menyentuh hati dan fikiran setiap warga negara. Judulnya: perataan pendapatan masyarakat. Bahwa judul itu menyangkut masalah dasar yang menjadi salah satu tujuan pokok usaha pembangunan kita, tentu tak perlu dipersoalkan. Karena GBHN tegas sekali mencantumkan hal itu. Sedangkan REPELITA II dengan sadar dan jelas pula menyebutkan bahwa salah satu ciri pokok dan sasaran masalah yang akan digarap adalah peningkatan usaha-usaha pembangunan ekonomi yang makin memperhatikan perataan hasil-hasil pembangunan dalam rangka pencapaian keadilan sosial. no, sejauh mana prinsip dan tujuan pembangunan itu telah dan akan dilaksanakan? Sepanjang usaha membuat dan memperbesar “kue” nasional, tak perlu diragukan kemajuan yang telah dicapai dalam sembilan tahun belakangan ini. Laju pertumbuhan ekonomi kita terus meningkat, rata-rata sekitar 6-8% per tahun. GNP juga terus membesar. Tapi bagaimana dengan soal pembagian “kue” nasional itu? Siapa saja yang telah menikmati hasil usaha pembangunan tersebut, di mana, berapa banyak?
Masalah yang begitu esensiil bagi hidup kita semua itu, sayangnya belum terlalu banyak diungkapkan. Bahkan bagi masyarakat umum, masih diliputi kabut tanda-tanya. Ternyata hampir tak ada penelitian dan pengamatan yang terorganisir tentang itu. Data-datanya sulit dicari. Keterangan resmi jarang diberikan. Sementara yang terasa ialah adanya semacam kepincangan dalam pembagian pendapatan masyarakat. Khususnya di kota-kota besar, jurang perbedaan antara si kaya dan si melarat seperti begitu menyolok. Tapi apa betul begitu pincang secara nasional? Sekitar masalah yang kompleks inilah fokus pembahasan nomor ini di arahkan. Karena pada pidato penutup tahun 1975, Presiden Suharto memberi peringatan: “Kita semua perlu sekali lagi merenungkan arti dan keharusan hidup sederhana, terutama bagi mereka yang telah mampu. Gaya hidup mewah dan berlebih-lebihan, meskipun mungkin terpikul secara perorangan oleh segolongan tertentu masyarakat kita, jelas tidak konstruktif dan tidak sesuai dengan semangat pembangunan. Gaya hidup mewah terang tidak akan terpikul oleh bangsa yang sedang membangun, yang hanya memiliki kemampuan serba terbatas; sebaliknya dapat mengakibatkan kegagalan pembangunan itu sendiri”.