Prisma

Pengantar Redaksi

Pemukiman adalah titik awal tetapi sekaligus titik akhir. Dari sana kegiatan sehari-hari dimulai dan di sana pula diakhiri. Relevansi dari pemukiman terletak di sini. Dan barangkali karena itulah maka perkataan “pulang” mengandung suatu pesona kejiwaan tertentu. Di sana terbayang suatu kedamaian, ketenteraman, kebebasan dan kelepasan dari hiruk pikuk hidup. Pesona ini telah menjadi nyanyian bocah sehari-hari: “Gelang si patu gelang”, “home sweet home” atau “monggo sami kondur … sega liwet jangan terong”.

Barangkali memang benar bahwa naluri bermukim ini merupakan kelanjutan dari kebudayaan pertanian, yang memuja kampung halaman dan sawah ladang. Tetapi bahkan dalam masyarakat yang beranjak ke kebudayaan kota kebutuhan akan sebuah rumah tinggal dan lingkungan yang tenteram tak pernah hilang. Mungkin itu telah menjadi semacam mimpi baru, ketika makhluk bertani itu terpaksa hijrah untuk menjadi massa kota dan pekerja upahan. Pemukiman telah menjadi makin ruwet, karena ledakan jumlah penduduk, juga karena kegiatan ekonomi yang menjadi sumber sesuap nasi mulai terpusat di kota-kota. Akhirnya semuanya terpaksa bergulat dengan tanah sempit dan ruang yang menghimpit. Naluri bermukim mencari pemecahan dengan menciptakan kultur pencakar langit, jaringan jalan bertingkat atau lorong kereta bawah tanah yang justru memperkuat hiruk pikuk. Manusia menyekap diri dalam kotak-kotak semen, berdempet dengan manusia lain, yang walaupun masih disebut tetangga tetapi telah saling tak kenal, asing dan bisu. Suatu dunia baru telah diciptakan oleh “technoculture”, otomatisasi, industrialisasi dan “by product” pertumbuhan ekonomi.

Akan ke sanakah kita semua? Akan ke sanakah negeri ini? Atau adakah jalan lain lagi? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang mendorong Prisma menyajikan suatu nomor khusus tentang pemukiman. Sejarah dan naluri insaniah kita telah memaksa kita semua merenungkan soal ini. Sebab semuanya mulai berubah: struktur masyarakat kita, tata nilai dan impian-impian kita. Persaingan untuk mendapatkan sejengkal tanah mulai tampak di mata: untuk keperluan pertanian, lokasi industri, jalan dan lorong serta sekedar tempat bernaung keluarga dan anak-anak manusia. Dan seperti semua persaingan, drama adu kekuatan dan konflik-konflik mulai menuntut penyelesaian.

Segelintir manusia telah keluar sebagai pemenang dalam pertandingan ini: mereka menghuni “wisma indah”, memenuhi jalan raya dengan mobil pribadi yang mewah dan mereguk yang terbanyak dari rahmat modernisasi. Sementara di bagian lain timbul gubug-gubug liar, lingkungan yang jorok, dan pejalan kaki yang mencari sesuap nasi. Pandangan Darwin mungkin tak bisa memberi maaf lagi: mereka telah keluar sebagai pihak yang kalah, dan karenanya patut menerima hukuman dan kutukan modernisasi. Tetapi apakah ini merupakan logika yang tak bisa dihindari? Sungguh tak mudah menjawab pertanyaan ini. Tidak juga dengan semua tulisan dalam nomor ini. Akan tetapi suatu hal adalah pasti: kita telah tiba di persimpangan jalan dan tak ada lagi jalan kembali. Kita harus menentukan pilihan; dan ini tak bisa ditunda lebih lama lagi.

* * *

Penyajian nomor ini dimungkinkan berkat kerjasama dengan Ditjen Cipta Karya Departemen PUTL, untuk mana Redaksi menyampaikan penghargaan dan terima-kasih. Pada saat terbit, Ir. Tawang Alun telah memangku jabatan baru di LPEM-UI, dan jabatan Direktur LP3ES telah diserah-terimakan kepada Ismid Hadad, yang ex-officio menjabat pula Pemimpin Umum Prisma.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan