Prisma

Pengantar Redaksi

Dalam primbon kuno Plato, Republik, ada dicatat pesan Socrates mengenai bagaimana sebaiknya membangun mental para pengawal negara. Filsuf tua itu mengatakan bahwa “… tugas kita yang pertama adalah mengawasi penulisan fabel dan legenda serta menolak semua yang tidak memuaskan”. Demi pembangunan watak anak-anak, “harus kita perintahkan semua ibu dan inang pengasuh agar menceritakan dongeng-dongeng yang telah kita setujui saja…”.

Selama berabad-abad kebijakan tua ini telah menjadi cara satu-satunya dalam mengukur masa lampau. Dongeng dan sejarah telah berbuat, dan fungsinya tidak lain dari membangun pemujaan terhadap masa lampau yang keemasan sebagai bagian dari penyesyahan konsepsi, mimpi dan cita-cita hari ini. Lebih dari itu, para pujangga dan literati telah menggunakannya untuk memperkokoh legitimasi raja, mahkota dan pemegang kedaulatan. Ia telah menjadi batu penyangga dan sanksi, pengukur baik buruk, pemujaan kepahlawanan dan penistaan pengkhianatan. Sejarah telah diangkat dari kenyataan dan dinobatkan menjadi mitos bangsa.

Ada beberapa kekhawatiran bahwa sejarah dalam pengertian seperti ini justru tidak memperkuat penghayatan generasi yang kemudian. Pertama, penafsiran yang berlebihan atas fakta-fakta sejarah—atau mungkin juga penggelapan fakta-fakta itu—bisa menghilangkan arti sejarah sebagai alat untuk memperjelas perspektif hari ini dan visi masa depan. Sejarah tidak lagi menjadi cermin yang terang untuk mengenali diri, tetapi telah menjadi buram oleh berbagai penafsiran dan tinggal sebagai nyanyian pujaan atau penghibur. Lambang-lambang masa lampau diundang untuk menyembunyikan kepahitan hari ini dan menunda masalah-masalah yang seharusnya dipecahkan esok hari.

Kedua, sejarah dalam bentuk demikian justru akan mengurangi dinamiknya sendiri. Generasi kemudian hanya bisa terpesona oleh masa lampau yang gemilang itu, terpendam oleh kesilauan terhadap generasi sebelumnya dan memastikan diri sebagai pengekor yang tak perlu lagi merencanakan bangunan mereka sendiri. Berhadapan dengan kesempatan-kesempatan sejarah, generasi yang silau itu cenderung untuk kembali kepada nostalgia dan rumus-rumus lama, sebab mereka tak lagi tahu apa yang harus dilakukan. Jadilah mereka seperti apa yang pernah dilukiskan dalam metafora Toynbee, “memberikan jawaban yang tetap pada tantangan yang sudah berubah”.

Sejarah memang berlanjut. Dan dalam wawasan demikian, maka generasi kemudian memang akan menyambung apa yang telah dirintis oleh generasi yang mendahului. Tetapi tidak dalam cara yang sedemikian rupa, hingga daya ciptanya sendiri tak lagi berfungsi. Generasi yang kemudian tidak selayaknya dibiarkan menjadi peserta pasif, membiarkan saja sejarah berlalu karena mereka tidak merasa sebagai bagian daripadanya. Ada saatnya ketika mereka harus dibesarkan hatinya untuk memberikan reaksi kulturil atas lingkungan dan zamannya, sebab di sinilah kiranya letak hakiki dari suatu penghayatan sejarah: setiap generasi harus mampu menjawab tantangan zamannya sendiri.

Dengan nafas dan semangat seperti inilah diantarkan nomor sejarah ini, yang merupakan persembahan khusus Prisma untuk memperingati ulang tahun ke tigapuluh satu dari Republik yang kita cintai.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan