DEBAT tentang strategi kebudayaan seakan-akan tak punya ujung. Atau, mungkin ia selalu akan ditangguhkan begitu diskusi jadi macet, dan mereka yang terlibat di dalamnya kian lelah. Kini, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyusun persiapan bagi sebuah kongres — suatu pertanda bahwa gagasan serta argumen untuk masalah besar ini tetap diharapkan tumbuh, buat dihidupkan.
Tetapi, sampai kapan soal ini hanya akan menjadi agenda seminar, simposium dan kongres-kongres? “Kita akan terlalu banyak membuang waktu, dan mengawang-awang, kalau hanya berbicara,” kata Menteri P dan K, Prof. Fuad Hassan, dalam interview dengan Prisma. Karena itulah dia segera memilih. Dua masalah pokok yang pengembangannya kini ditaruh paling atas dalam daftar Menteri Fuad, adalah “kesenian” dan “bahasa”. Pilihan yang lebih kongkrit inilah yang diuraikan Menteri P dan K, ketika Ignas Kleden, Masmimar Mangiang dan Arselan Harahap datang menemui dia dengan membawa “pertanyaan-pertanyaan” (lihat “Dialog”).
Isi edisi yang Anda pegang ini sebetulnya dirancang lebih luas dari apa yang Anda temukan dalam nomor ini. Seperti dikatakan Ignas Kleden, editor tamu kita untuk edisi ini, tema strategi kebudayaan yang disajikan di sini merupakan perpaduan antara “strategi yang menyangkut basis material dan basis sosial kebudayaan” dengan “strategi yang menyangkut basis mental-cognitif kebudayaan”. Tapi sayang, artikel dengan tema “Agama: Norma Pribadi ataukah Norma Sosial?” karena satu dan lain hal tak dapat kami sajikan. Begitu juga dengan artikel “Seni sebagai Ekspresi Individual, Ekspresi Sosial, dan Ekspresi Universal”. Mudah-mudahan, dengan tak termuatnya dua artikel tersebut, Anda tidak merasakan betul adanya kekurangan. Dan mudah-mudahan pula, artikel yang absen kali ini dapat kami sajikan nanti dalam nomor-nomor selanjutnya, sebagai artikel bebas, yang berada di luar tema edisi.
Dalam edisi ini, yang tetap lebih tebal dari biasa — 120 halaman — kami sajikan pula sebuah “Laporan Khusus”, tentang sebuah pedukuhan, di Daerah Istimewa Yogyakarta, yang warganya begitu sabar menghadapi kemiskinan sembari menadahkan tangan sebagai peminta-minta. Ini adalah laporan yang mengisahkan kehidupan desa, tema yang beberapa waktu belakangan ini sering lepas dari perhatian kita.
Dan seperti yang kami janjikan dulu, pada edisi bernomor ganjil ini, Anda dapat menemukan kisah tentang seorang tokoh pengusaha Indonesia. Pilihan kali ini jatuh pada Abdul Latief.
Latief “ditokohkan” bukan karena dia adalah salah seorang dari sedikit pengusaha pribumi yang berhasil, tetapi lebih karena dia mengukir riwayat bisnisnya dengan merangkak dari bawah, dan memiliki kesetiaan pada industri rakyat, di mana kehidupan masyarakat lapisan bawah langsung terlibat. Hanya saja, seperti yang Anda maklumi sendiri, penulisan riwayat orang yang perannannya belum selesai, atau masih berlangsung di masyarakat, tidaklah semudah menelaahkan biografi tokoh yang sudah “pergi”, almarhum, yang telah meninggalkan jejak-jejaknya di sekitar kita. Laporan kami tentang ini tetap berada dalam kawasan yang dipagari hak-hak pribadi yang harus kita hormati, etika, dan — tentu saja — rahasia-rahasia bisnis yang perlu dilindungi.
Dalam edisi No. 4/1987 nanti, kita berjumpa dengan tema pokok “Alih Teknologi dan Hak-hak Industri.”
Pada edisi yang sama, di dalam rubrik “Tokoh” kami sajikan riwayat, cita-cita dan perjuangan Moh. Sjafei, pendiri INS Kayutanam, Sumatera Barat, yang ditulis oleh Ali Akbar Navis.
Pemimpin Umum: M. Dawam Rahardjo, Wakil Pemimpin Umum: Arselan Harahap, Pemimpin Redaksi: Ismid Hadad, Wakil Pemimpin Redaksi: Masmimar Mangiang, Pemimpin Perusahaan: Aswab Mahasin, Wakil Pemimpin Perusahaan: Maruto MD, Sidang Redaksi: Aswab Mahasin, Edward S. Simandjuntak, Ismid Hadad, Masmimar Mangiang, M. Dawam Rahardjo, Paulus Widiyanto, Sekretaris Redaksi: Poppy Soeyono, Tata Usaha/Sirkulasi: Sudartoto, M. Sholeh, Jinan Mohammad, Iklan/Promosi: Anda Z. Noerzy, Produksi: Awan Dewangga, Idjas Shaham, Suradi Suprapto.
Penerbit: PT Pustaka LP3ES Indonesia; SIUPP: No. 072/SK/MENPEN/SIUPP/D.1/1986, 4 Maret 1986. Alamat: Jl. S. Parman 81, Jakarta 11420, Telepon, 597211, Tromolpos 493, Jakarta 10002 Indonesia. Bank: Bukopin, Jakarta, Nomor Rekening 004 2457 4. Pencetak: PT Temprint; Pengaturan IBM; Bagian Penerbitan LP3ES Jakarta; Anggota SPS. ISSN 0301 – 6269.