Kemiskinan rasanya sudah menjadi senandung. Ia diratapi, diraungi dan didengungkan sebagai malapetaka kemanusiaan. Mungkin karena ia dirasakan menodai kepercayaan kita yang paling dasar tentang persamaan umat manusia. Kemiskinan terasa mengganggu kedamaian batin kita yang telah menerima “egalitarianisme” sebagai prinsip hidup yang elok.
Agama-agama besar dunia hampir semuanya mengajarkan persamaan manusia. Setidak-tidaknya begitulah di hadapan Tuhan, kalaupun dunia ini enggan memberikan persamaan itu. Anehnya, sejak lama kemiskinan telah dianggap sebagai soal kodrat. Kinipun, dengan gaya bahasa yang berlainan, orang telah memandang kemiskinan sebagai sebuah lingkaran setan. Kemiskinan memang berarti kekurangan pangan. Kurang pangan menyebabkan orang tidak giat bekerja. Dan karena itu orang tetap saja miskin. Diterapkan dalam negara, ini akan membawa kita kepada “rumus sederhana” dari Ragnar Nurkse, bahwa “sesuatu negara itu miskin, karena ia miskin”. Ujung dan pangkal, sebab dan akibat, bertemu pada satu titik. Dan orang menamakannya lingkaran setan.
Nafas egalitarianisme konon juga menjiwai teori ekonomi klasik. Persamaan individu dianggap sebagai hal yang alamiah, dan karena itu tak perlu ada pagar-pagar bagi kebebasan perorangan dalam mengejar kemakmuran. Sebab diasumsikan pengejaran keuntungan individuil ini nantinya toh akan bermanfaat juga untuk umum, melalui “tangan tak terlihat” atau “hukum keseimbangan” yang selalu mengoreksi dirinya sendiri. Jalan fikiran serupa itu juga yang masih sering kita dengar satu dasawarsa yang lampau. Muslihat untuk mengakhiri keterbelakangan adalah pengejaran laju pertumbuhan yang optimum. Dari sana akan dihasilkan kenaikan kemakmuran, yang nantinya akan menetes ke bawah melalui mekanisme tetesan. Enak didengar, sejuk dirasa, sebab jalan fikiran demikian memang memungkinkan kita menerima prinsip “egalitarianisme” sembari mengingkari konsekwensinya. Jalan fikiran demikian memungkinkan orang meratapi kemiskinan dari balik kaca buram mobil Volvo, suatu keprihatinan yang romantis atau malahan semacam cinta kasih yang platonis.
Ketika kemudian terbukti bahwa “tangan tak terlihat” dan “mekanisme tetesan embun” itu tidak bekerja, romantisme itu terpaksa menghadapi realisme yang kasar: kemakmuran ternyata kumulatif sifatnya. Ia cenderung menumpuk pada sementara kalangan, dan menyebabkan kalangan yang justru lebih banyak jadi tertinggal dalam kemelaratan. Yang menjadi pertanyaan sekarang bukanlah “hakekat dan sebab-sebab kemakmuran bangsa-bangsa” seperti tertera dalam The Wealth of Nations, tetapi “sebab-sebab kemiskinan bangsa-bangsa” seperti dicanangkan dalam Asian Drama. Maka, sejak dasawarsa ini, dunia mulai melihat pembangunan dengan paradigma baru, dengan menjungkir-balikkan bingkai penglihatan lama. Pemberantasan kemiskinan diangkat jadi sasaran utama pembangunan. Kemiskinan dilihat dengan lebih realistis. Petabumi kemiskinan dibuat orang di mana-mana, dengan perhitungan kebutuhan minimum, indeks Gini atau alat-alat pengukur ketidakmerataan pendapatan lainnya. Dan pertanyaan berikutnya adalah bagaimana pemberantasan kemiskinan itu akan dilakukan, lalu seberapa besar sebenarnya kesediaan kita semua—terutama yang tidak tergolong miskin—untuk membiayai ongkosnya.