Siapa bilang berkah teknologi tak sampai ke desa. Puteri paman petani—yang oleh Koes Plus dinamai “Diana”—kini bisa juga menyaksikan Marini membawakan lagu “Ratu Disco”. Berikut lenggangnya, tentu saja. Sebab mana ada penyanyi pop menyanyi tanpa gaya. Bocah-bocah gunung pun mulai biasa dengan dendang “dodolibret” Chicha daripada tembang panembrama atau pangkur. Dan remajanya? Ah, mereka bisa beli Levi’s di kota setelah menjual kambingnya ke pasar.
Ada banyak jalan yang memungkinkan sajian konsumen kota ini menjalar ke mana-mana. Pesawat televisi yang dipasang di sudut “operation room” pak lurah mungkin merupakan penyebar yang paling efektif. Memang, kata orang abad kita ini abad polesan. Tidak hanya pil pahit yang dipolesi gula, atau pintu dan perabot rumah dilapisi formika, tetapi juga bumi kita inipun dilapisi elektronik. Dan sementara lapisan lainnya tidak mengubah isi, lapisan elektronik bisa melahirkan semacam revolusi.
Begitulah dalam sekejap saja sajian negara maju sampai juga ke negara berkembang. Sudah barang tentu di dalamnya terselip falsafah masyarakat yang sudah berkelimpahan—falsafah konsumen. Di mana-mana orang diajar jadi konsumen, sebab hanya dengan cara itu mereka layak menyebut dirinya “modern”. Bukankah minyak rambut, sabun mandi sampai bumbu masak dijajakan dengan tema modernitas?
Tragisnya, kultur konsumen itu berkembang sebelum kapasitas produksi sendiri memadai. Maka, kalau terjadi frustrasi karena mimpi yang dirangsang ini, komunikasi modern tak bisa begitu saja berlepas tangan. Persis seperti pernah dikatakan Soekarno di Hollywood beberapa tahun yang lalu: “… di negeri yang panas seperti negeri saya, sebuah lemari es bisa jadi lambang revolusioner. Dalam dua jam saja, film kalian bisa merangsang keinginan akan lemari itu, yang baru bisa dibikin Indonesia dalam tempo dua puluh tahun”. Begitu kutip McLuhan dalam The Medium Is the Massage.
Peranan sebagai konsumen itu nyata benar dalam bidang kulturil. Kita tak lagi menyanyi bersama, karena grup pop setiap hari menjajakan lagunya. Kita tak lagi ikut serta menari, karena tari rakyat sekarang sudah jadi tontonan juga. Bahkan tari pujaan pun jadi tontonan. Kita harus jadi penonton, penikmat, bukan peserta.
Telah lahir di sekitar kita produk kulturil yang dibikin secara massal. Dan sebagai produksi massa, ia membawa serta sifat kodian dan kreasi musiman. Ia melahirkan keseragaman di mana-mana, dari model rambut, celana sampai lagu-lagu yang digemari. Secara tiba-tiba jutaan orang disekap dalam arus sub-kultur dunia, yang karena luasnya pengaruh dan cepatnya berubah disebut orang “pop”. Begitu hebatnya badai “pop” ini, hingga seringkali sulit menguasai kemudi. Kadang-kadang goncangannya begitu memabokkan, sampai-sampai orang tak sanggup lagi mengenali diri.
Dalam badai begini, mereka yang tanyakan diri tampaknya tak lebih dari pulau-pulau kecil di tengah lautan. Asing, terpencil, kesepian dan tak dihiraukan orang. Barangkali saja lampu suar di sana sudah mati. Tapi, tak bisakah dinyalakan lagi?