Ada tiga penemuan penting yang berpegangaruh besar terhadap peradaban manusia: api, roda dan bank sentral. Ini dikatakan oleh Will Rogers, yang diangkat menjadi motto oleh Paul A. Samuelson dalam bukunya untuk para calon teknokrat.
Api dan roda tidak menjadi monopoli suatu kelompok dalam masyarakat; tetapi bank sentral harus diletakkan di bawah pengawasan pihak yang berkuasa, karena ia memegang monopoli pengedaran uang. Uang sejak semulanya memang membawa benih kekuasaan: semuanya harus menyatakan diri dalam nilai uang, kalau mau berharga. Tak peduli apakah itu benda, jasa atau tenaga kerja. Uang jadi penentu nilai, dewa baru, yang bahkan bisa jadi ukuran nilai orang, seperti ternyata dari ungkapan “ada uang, abang disayang”.
Uang memandai perubahan yang mendasar dalam perekonomian, dari ekonomi yang berpusat kepada tanah menuju ekonomi yang didominir oleh modal dan perdagangan. Ia mampu merubah ikatan induk semang menjadi hubungan kontraktual antara majikan dan buruh atau antara mandor dan kuli. Munculnya uang sejalan dengan proses individuasi, ketika kolektivitas mulai mengendorkan ikatannya digantikan oleh individu-individu yang saling bertemu hanya karena alasan keuangan dan kendaraan.
Sementara itu uang sendiri terus menerus mengalami perubahan bentuk: dari benda nyata seperti gigi ikan paus, tembikar atau emas dan perak menjadi uang kertas atau rekening di bank. Nilainya tak lagi ditentukan oleh harga intrinsik bendanya, tetapi oleh nilai yang dituliskan orang di atasnya. Uang menandai lahirnya zaman abstraksi, yang kata orang menjadi ciri dari modernisasi.
Barangkali karena itulah uang senantiasa menjadi teka-teki. Yang melarat tertegun karena uang begitu sulit didapat, yang kaya pusing dalam menanamkan atau membelanjakannya. Sementara itu para ekonom terus saja berdebat tentang bagaimana sebaiknya menjaga bangunan kertas itu agar tak merosot nilai dan kekuasaannya. Di antara teka-teki yang tidak saja membingungkan kita di sini tetapi juga para ekonom dunia, adalah inflasi. Kita telah merasakan bagaimana ia mengganas di tahun 1960-an, dan dunia telah merasakannya hampir serentak di tahun 1970-an. Ada berbagai sebab yang ditunjuk orang, mulai dari gejala sinkronisasi konjungtur negara-negara industri, meningkatnya peruntukan terhadap bahan-bahan mentah, atau ditinggalkannya sistem kurs tetap oleh beberapa negara. Defisit neraca pembayaran Amerika juga ditunjuk sebagai sebab merosotnya nilai “uang dunia” itu, yang melalui berbagai cara diekspor ke dunia ketika.
Tetapi inflasi rupanya tak hanya bersangkut paut dengan sebab-sebab moneter dan struktural saja. Ia juga berhubungan dengan melebarnya “celah aspirasi” antara negara maju dan terbelakang, atau antara berbagai lapisan masyarakat di suatu negara. Celah aspirasi itu jelas lebih lebar lagi di negara-negara di mana pendapatannya sangat tidak merata. Itulah sebabnya tingkat inflasi di negara-negara berkembang senantiasa lebih tinggi dari negara-negara maju, sebagaimana pernah diperbandingkan secara statistik untuk 15 negara antara tahun 1959 sampai 1974. Demikian menurut seorang ekonom pada jawatan pertumbuhan ekonomi nasional Inggris, M. Panic, dalam Lloyds Bank Review baru-baru ini.
Barangkali saja hal itu akan makin menginsafkan kita, bahwa soal perataan pendapatan ternyata tak bisa diabaikan, juga dalam hal-hal yang tampaknya bersifat teknis ekonomi seperti soal-soal moneter ini.