Prisma

Pengantar Redaksi

Semar, tokoh yang benar-benar merupakan kreasi Jawa dalam pewayangan yang diimpor dari India itu, dalam mitologi rakyat konon dianggap sebagai danyang Tanah Jawa. Seorang dalang menceriterakan, bagaimana ia menggugat pendeta sakti yang datang dari negeri Rum: “Mengapa kau datang ke sini dan mengusir anak cucuku? Kesaktian dan ilmumu telah menyebabkan mereka terusir sampai ke kawah-kawah gunung berapi dan laut selatan. Mengapa kau lakukan itu?”

Konon, pendeta sakti itu menjawab bahwa semua itu adalah perintah rajanya. Ia bermaksud mengisi Jawa dengan manusia. Membabat hutan, membangun desa dan membawa duapuluh ribu keluarga sebagai kolonis pertama. Singkatnya, membawa peradaban. Ditegaskan, bahwa Semar dan turunannya–sekalian para danyang–tak akan sanggup melawan dia. Pendek cerita, jadilah Semar yang sebenarnya tergolong dewa itu punakawan setia dari para pangeran manusia.

Demikian dongeng rakyat itu diceriterakan kepada Clifford Geertz yang cenderung menganggapnya tidak semata-mata sebagai genesis Tanah Jawa, tetapi juga suatu mitologi tentang kolonisasi. Hal ini tidak mengherankan, karena secara beruntun Jawa telah mengalami invasi Hindu, Islam dan Barat. Sikap Semar mungkin melambangkan sikap penghuni Jawa pertama, yang curiga, marah dan geram karena terdesak, tetapi tidak bisa berbuat lain.

Semar adalah lambang dari pemaduan berbagai pertentangan. Tubuhnya menunjukkan ciri-ciri bentuk fisik pria dan wanita bersama-sama. Wajahnya kekanak-kanakan, sekalipun ia dikisahkan sama tuanya dengan jagad raya ini. Ia penjelmaan dewa yang berkuasa, tetapi berperan sebagai punakawan. Dalam tokoh Semar, agaknya Ki Dalang ingin melukiskan sikap masyarakatnya yang mendua terhadap segala sesuatu yang datang dari luar. Kita bersikap curiga terhadap segala sesuatu yang datang dari luar.

Kita bersikap curiga terhadap segala yang asing, tetapi kita ingin bersahabat juga. Kita cemas terhadap ketergantungan kepada luar negeri, tetapi tak urung kita tokh “terpaksa” minta dukungan atau bantuan mereka. Tidak saja untuk membangun, tetapi juga ketika kita merasa perlu dukungan internasional itu untuk pengakuan kemerdekaan kita. Kita khawatir terhadap pengaruh kebudayaan asing; tetapi apakah yang tidak kita tiru dari mereka?

Kepada anak-anak kita tanamkan kepercayaan bahwa kita adalah bangsa yang besar dari suatu negeri yang makmur. Tetapi kita memerlukan uluran modal dan teknologi dari luar, untuk merealisir kemakmuran itu. Lebih dari itu, kita sadari benar, bahwa negeri ini masih tergolong miskin dan terbelakang. Kita menatap dunia luar dengan kekaguman. Berapa banyak pelajar kita yang masih membangun mimpi melanjutkan studi ke luar negeri? Berapa banyak nyonya besar yang berbangga hati karena bisa berbelanja ke Paris, London atau Singapura? Luar negeri hampir menyerupai sebuah dongeng: segalanya istimewa, segalanya luar biasa. Sementara itu, kita diajak untuk percaya, bahwa di sana ada subversi. Di sana ada usaha meraih hegemoni atau dominasi. Kita terjepit dalam pilihan yang sulit antara politik luar negeri yang benar-benar bebas dan aktif dengan keharusan untuk mencari bantuan. Sebab ada banyak pemimpin yang menganggap pembangunan tanpa bantuan adalah omong kosong. Kita juga bergoyang antara politik luar negeri yang misionaristis–menjadi pemimpin dari bangsa-bangsa tertindas–dan politik yang pragmatis. Potret diri kita sebagai bangsa bergoyang dari potret anak nakal yang suka menantang dan anak manis yang penurut. Kita memadu sekian banyak pertentangan

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan