Bagi mereka yang terbiasa dengan kajian pembangunan yang konvensionil, nomor ini mungkin akan terasa ganjil, sebab kajian selama ini selalu saja berundan dengan besaran-besaran (agregates) seperti tabungan, investasi, pendapatan dan sebagainya. Dari besaran-besaran itu diukur sampai seberapa jauh kita melangkah, berapa kecepatan langkah kita setiap tahunnya, dan berapa besar tambahan pendapatan per kepala. Sasaran-sasaran rencana juga menggunakan besaran-besaran ini; misalnya saja untuk “tinggal–landas” diperlukan penanaman modal sebesar sekian persen dari pendapatan nasional. Atau agar tambahan hasil tidak habis termakan oleh tambahan bayi, kecepatan mesin pembangunan harus berada pada tingkat sekian persen, dan seterusnya.
Entah mengapa, kajian yang bersangkut-paut dengan besaran dan persenan ini juga cenderung memilih skala-skala besar. Barangkali karena sektor-sektor berskala kecil dianggap terlalu lambat, maka pilihan orang banyak jatuh ke industri-industri besar. Tak jadi soal rupanya, apakah industri itu berkaki di luar negeri, atau di dalam negeri. Juga tak jadi soal benar, apakah industri yang tidak berkaki di negeri sendiri itu lalu menghisap dayabeli petani tanpa mengalirkannya kembali. Ada kesan, bahwa yang penting adalah deru mesin yang kencang dan naiknya angka-angka besaran.
Dalam iklim begitu, tentu akan terasa ganjil kalau orang bertanya: adakah manusia masuk hitungan? Mungkin akan terasa aneh kalau dalam membahas soal-soal pembangunan, kita mempersoalkan bayi-bayi yang kurang gizi. Barangkali karena mereka ini tidak ada dalam besaran-besaran model Harrod–Domar, maka jadi tak lazim untuk dibicarakan. Atau karena soal-soal kwalitatif itu tak bisa dihitung, maka tak perlu diperhitungkan. The uncountable does not count, kata orang sana.
Tetapi bukankah kita ini membangun untuk masa depan yang lebih baik? Artinya, bukankah kita melakukan semuanya ini agar penderitaan yang kita alami kini tidak usah menimpa anak-anak kita lagi? Barangkali justru di sanalah letak arti dari apa yang kita lakukan sekarang. Jika misalnya pembangunan ini tidak mampu memberikan gizi yang lebih baik, pendidikan yang lebih baik dan hal-hal lain yang berhubungan dengan kesejahteraan anak-anak kita sekarang, rasanya kita tidak bisa banyak berharap agar di kemudian hari muncul angkatan kerja yang mutu dan produktivitasnya lebih baik lagi dari kita sekarang. Dan kalau begitu, rasanya apa yang kita lakukan sekarang seperti tidak banyak artinya.
Maka, kita layak bertanya tentang apa yang bisa dilakukan oleh pembangunan untuk kesejahteraan anak-anak serta keluarga manusia. Dan untuk melihat nasib mereka yang sebenarnya, kita tidak bisa menggunakan besaran-besaran abstrak saja. Kita perlu melihat satuan-satuan kecil, di mana kelaparan tampak sebagai kelaparan, di mana kemiskinan tampak sebagai kemiskinan. Di wilayah-wilayah kecil ini manusia tak hanya tampak sebagai kepala. Di sana kenyataan tidak dikaburkan oleh deretan angka-angka.
Barangkali dari sana juga strategi harus disusun, perubahan harus mulai–kalau memang pembangunan ini hendak bertolak dari manusia.
Dengan kesadaran semacam itulah redaksi merasa berbesar hati beroleh bantuan dan kerjasama dari Perwakilan UNICEF di Indonesia dalam mengetengahkan edisi ini. Semoga persembahan kecil ini membawa sesuatu hasilguna, selagi kita semua sekarang sedang berada di ambang pilihan untuk menentukan haluan pembangunan.