Mengingkari peranan angkatan muda dalam politik barangkali sama saja dengan mengingkari keperiadaan negeri ini. Sebab ada begitu banyak bukti tentang besarnya peranan mereka pada babakan-babakan yang menentukan dalam sejarah kita. Ia hadir ketika ikatan kebangsaan kita dicetuskan untuk pertama kalinya, ia hadir ketika proklamasi kemerdekaan di ambang pintu, dan ia selalu hadir ketika lingkungan sekitar terasa sedang dicekam krisis. Politik angkatan muda, rasanya sudah menjadi bagian dari tradisi politik kita. Resminya, angkatan muda bukanlah suatu fraksi politik. Tak ada suatu partai pemuda atau partai mahasiswa. Dalam hal ini barangkali ia sama saja dengan tentara: ia bukan partai politik. Bedanya, angkatan muda bukan suatu institusi permanen, tidak memiliki “girik” dalam parlemen (kecuali ketika tenaga mereka diperlukan untuk minta tanggungjawab Sukarno), dan kalau pun berpolitik, ia tidak memperjuangkan kepentingan yang sudah mapan.
Angkatan muda berpolitik karena panggilan psiko-ethis. Ia dirasuki gagasan-gagasan ideal, cita-cita luhur, yang barangkali diperolehnya dalam keterasingan, ketika ia harus menuruti kehendak masyarakatnya untuk meninggalkan tetek-bengek hidup dan belajar tentang kebenaran. Barangkali karena itu juga maka gagasan dan cita-citanya tidak selalu membawa warna kelas, kadang-kadang malahan bertentangan dengan nilai-nilai kaum tua. Sebab sekalipun ia berasal dari kelas menengah, ia selalu terdorong untuk membela yang ditindas, untuk me-“rakyat”. Itu sebabnya gerakan mahasiswa di Rusia tahun 1860-an konon menyuarakan semboyan “V narod“—untuk rakyat; jadilah rakyat. Itu juga sebabnya Jonathan Myrick Daniels yang terbunuh dalam membela hak-hak orang Negro dan karena itu dijuluki white niggah mengatakan tentang dirinya: “… tangan saya memang putih. Tetapi hati saya hitam.”
Tampaknya dorongan idealisme pada gerakan orang muda ini begitu universil, hingga Lewis E. Feuer mengatakan bahwa pada mereka ini kesadaranlah yang menentukan keperiadaan, dan bukan sebaliknya. Ideologi mereka mungkin bukan materialisme historis, tetapi idealisme historis. Namun lepas dari benar tidaknya pandangan ini, cengkeraman idealisme pada anak muda kadang-kadang memang romantis: idealisme itu hampir terasa sebagai sebuah cinta pertama yang kudus, membakar, bergelora, dihayati dengan kerinduan dan kedambaan, tetapi juga menantang pengorbanan. Seperti sebuah cinta, ia melahirkan sikap altruis. Tetapi seperti juga sebuah cinta, terkadang ia buta. Apa yang dimulai dengan gelora, terkadang berakhir dengan penghancuran diri sendiri. Dan corak gerakan yang demikian memang cenderung meninggalkan kesan-kesan yang sakral. Ia melahirkan sebuah mitos.
Tetapi sebuah mitos tidak lahir dalam hampa. Ia muncul ketika harapan-harapan yang bergelora tidak memperoleh jalan pemecahan. Mitos hampir menyerupai sebuah janji, yang pada waktunya akan ditagih kembali. Dalam konteks ini mitos berfungsi sebagai semacam indikator. Orang harus membaca pertanda itu untuk menduga ke arah mana badai bertiup. Sebab, kata sebuah pepatah Budha, “Kalau sebuah jari menunjuk ke bulan, hanya orang tolol saja yang akan memandang jari itu”.