ADAKAH regenerasi intelektual Islam di Indonesia selama sepuluh tahun terakhir ini? Apakah pemikiran Islam dari generasi pasca-Nurcholish Madjid telah melahirkan isu baru dengan tema yang berbeda dari tema 1970-an? Benarkah ICMI kini sedang membuka percaturan baru untuk sebuah Indonesian-Islamic dialogue yang lebih terbuka?
Ada banyak jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut. Bukan saja karena pertanyaan semacam itu menyimpan begitu banyak variasi masalah di baliknya, tetapi juga karena jawaban yang mungkin tersedia, bagaimana untuk pertanyaan sosiologis lain, juga akan mengandung sekian perspektif, cara-pandang, dan nuansa pendekatan.
Tapi tentu ada satu titik tolak bersama untuk melihat agenda yang terdapat di balik pertanyaan itu, dengan sebuah asumsi bahwa apapun yang terjadi dalam percaturan intelektualisme Islam di Indonesia sekarang, sesungguhnya hanya merupakan kelanjutan logis dari perkembangan yang berlangsung sejak dekade-dekade sebelumnya.
Dengan mengamati perkembangan yang terjadi belakangan ini, kita melihat bahwa kini mulai muncul peserta-peserta baru dalam percaturan pemikiran Islam; juga bahwa isu-isu yang mereka kembangkan telah semakin memperkaya perbendaharaan intelektual Islam dalam suatu konteks problematik yang lebih luas. Apa yang menarik dari perkembangan ini ialah bahwa gejala tersebut seakan menyadarkan kita tentang adanya suatu dinamika inheren di dalam keterlibatan Islam di Indonesia. Pertanyaannya kemudian ialah, jika agenda Indonesia menjadi bagian permanen dalam perkembangan pemikiran Muslim Indonesia, maka bilakah dan bagaimanakah intelektualisme Islam akan menjadi bagian dari agenda Indonesia?
Ini bukanlah pertanyaan dikotomis yang menghendaki jawaban dikotomis. Menyadari bahwa konvergensi intelektual antara konsep Keindonesiaan dan Keislaman sudah menjadi bagian dari warisan historis kita, kali ini Prisma mengangkat tema tersebut untuk sekali lagi melihat perkembangannya yang paling mutakhir.
Dalam nomor ini, secara khusus Prisma mengundang wakil-wakil dari generasi terbaru intelektual Islam Indonesia untuk mempresentasikan kandungan pemikiran mereka secara reflektif. Ada enam tokoh muda yang bisa dikatakan mewakili variasi-variasi baru kecenderungan pemikiran Islam di kalangan generasi muda Indonesia sekarang. Mereka berbicara untuk mewakili pengalaman intelektual mereka sendiri, komitmen mereka, dan sekaligus konteks empiris yang mereka persepsikan sebagai latar obyektif dari mana gagasan mereka dilahirkan.
Jika bisa dikatakan bahwa apa yang mereka ungkapkan itu mewakili variasi perkembangan intelektual yang sebenarnya terjadi tentulah bisa dikatakan juga bahwa seberagam itu pula varian yang akan muncul dalam peta intelektual Islam Indonesia di masa depan. Ini karena mereka sebenarnya juga mewakili pemikiran generasi mereka.
Sayang, Prisma kali ini tidak berhasil mengangkat pengamatan khusus dari kalangan yang lebih senior untuk menilai pemikiran-pemikiran “baru” dari kalangan muda itu. Mungkin saja kesibukan dan kemapanan mereka sudah berkembang menjadi kendala baru yang menyulitkan mereka memantau dengan dekat perkembangan baru di kalangan yuniornya.
Meskipun demikian tulisan M. Dawam Rahardjo tampak akan mewakili suatu pengamatan makro mengenai pemikiran Islam Indonesia kontemporer. Taufik Abdullah yang membahas terjadinya berbagai “gelombang sejarah” pemikiran Islam di Nusantara juga menyumbangkan dimensi-dimensi pemahaman yang lebih historis untuk memahami situasi sekarang. Demikian juga penilaian Fachry Ali mengenai perkembangan Islam di Indonesia dalam kerangka perubahan struktural sejak Orde Baru, yang dirangkai dengan tulisan Muhammad A.S. Hikam dengan pendekatan serupa, kiranya bisa memberikan gambaran mengenai latar empiris dari perkembangan intelektual Islam Indonesia saat ini.
Dalam rangkaian yang bertepatan Ramadhan 1411 H, Prisma edisi Islam ini dikerjakan oleh AE Priyono sebagai Redaktur Tamu.
Redaksi
Pemimpin Umum: Arselan Harahap • Pemimpin Redaksi: Ismid Hadad • Pemimpin Perusahaan: Maruto MD • Dewan Redaksi: Aswab Mahasin, Ismid Hadad, Masmimar Mangiang, M. Dawam Rahardjo, Vedi Renandi Hadiz • Staf Redaksi: Nur Iman Subono •
Penerbit: PT Pustaka LP3ES Indonesia. SIUPP: No. 072/SK/MENPEN/SIUPP/D.I/1986, 4 Maret 1986. Alamat: Jl. S. Parman 81, Jakarta 11420; Telepon, 597211. Tromol pos 493, Jakarta 10002 Indonesia. Bank: BUKOPIN, Cabang S. Parman, Nomor Rekening 004.00105 Pencetak: PT Temprint: IBM Setting: Bagian Penerbitan LP3ES Jakarta: Anggota SPS. ISSN 0301 – 6269.