Prisma

Pengantar Redaksi

PERSOALAN keluarga tampaknya telah menjadi perhatian utama, baik di tingkat nasional maupun tingkat internasional. Kedua tataran itu bertemu secara koinsidental dalam tahun 1994. Di Sidoardjo Jawa Timur, pada 29 Juni 1994 diperingati Hari Keluarga Nasional. Sedangkan tahun 1994 ini telah dicanangkan oleh PBB sebagai Tahun Internasional Keluarga. Badan dunia ini tentu punya alasan tertentu kenapa tahun 1994 diputuskan demikian, seperti halnya tahun-tahun pada dekade 70-an juga pernah diputuskan sebagai Tahun Internasional Wanita atau pun Tahun Internasional Anak.

Paling tidak kita menangkap kesan bahwa masalah keluarga merupakan pokok hal penting yang perlu diberi perhatian khusus. Ambillah contoh nasib keluarga di Timur Tengah, Afrika, Kamboja, Bosnia Herzegovina, Rwanda, Yaman dan tempat lain. Banyak keluarga hancur akibat perang, bencana alam, kelaparan, penyakit dan peristiwa lain. Banyak anak menjadi yatim piatu. Bagaimana pula nasib para pengungsi yang terbuang dari negaranya dan akhirnya menjadi beban dunia?

Ternyata dunia terus bergolak dan menjurus ke arah runtuhnya sendi-sendi kehidupan manusia. Keluarga miskin terus dihimpit masalah. Keluarga kaya pun dirundung musibah akibat penyalahgunaan obat terlarang. Keutuhan keluarga terancam karena setiap anggota keluarga — ayah, ibu dan anak — sibuk dengan urusannya sendiri, dan tak ada waktu lagi untuk berkumpul dan bercengkerama antarkeluarga. Televisi pun kian berperan untuk menjadi “ibu elektronik” atau “orangtua baru” bagi anak-anaknya. Memang serba dilematis, anak-anak tetap asyik berada di rumah bersentuhan dan diterpa segala informasi dan budaya baru, tetapi hampa kasih sayang orangtua.

Di Indonesia pun sering terjadi musibah, terakhir misalnya ratusan warga dan keluarga di Jawa Timur dilanda badai tsunami yang mengenaskan. Kemalangan keluarga memang datang tanpa perlu diundang. Bagaimanapun hati kita tersentuh, karena keluarga itu juga adalah bagian dari diri kita sebagai keluarga besar bangsa Indonesia. Keprihatinan seperti itu juga mengusik hati bila mendengar berita banyak perceraian, bunuh diri, broken home dan perilaku negatif lain yang melanda keluarga di kota.

Hari Keluarga Nasional tampaknya perlu dijadikan tonggak penting untuk mengukur persoalan makro keluarga besar bangsa Indonesia dan masalah keluarga kita masing-masing secara mikro. Kalau 22 indikator digunakan untuk mengukur tahap-tahap pencapaian keluarga sejahtera, apakah masih perlu dikembangkan lagi indikator lain untuk mengukur kesejahteraan lahir dan batin? Pembangunan Keluarga Sejahtera patut dijadikan komitmen politik bersama. Redaksi

_________________________________________________________________

Penerbit: PT Pustaka LP3ES Indonesia, Anggota SPS. ISSN 0301-6269. SIUPP: No. 072/SK/MENPEN/ SIUPP/ D.I/1986, 4 Maret 1986. Pemimpin Umum: Arselan Harahap. Pemimpin Perusahaan: Maruto MD. Pemimpin Redaksi: Ismid Hadad. Dewan Redaksi: Daniel Dhakidae (Ketua), Taufik Abdullah, M. Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin, Rizal Ramli, Didik J. Rachbini, Vedi R. Hadiz. Redaktur Pelaksana: Paulus Widiyanto Staf Redaksi: E. Dwi Arya Wisesa, Harry Wibowo Sekretaris Redaksi: Eriko Sustia.

Produksi: Bambang Soetedjo (Manajer), Awan Dewangga, Yahya Sukaria, Idjas Saham, Teguh Supriyanto. Pemasaran: Arys Sutarman (Manajer), Anda Z. Noerzy, M. Sholeh, Jinan Muhammad. Iklan: Maruto MD. Tata Usaha: Soetadi Rahardjo (Kepala), Sudartoto, M. Jayani SA, Achmad Rifai. Alamat: Jl. S. Parman 81, Jakarta 11420 Kotak Pos 6275/11062 Telepon Redaksi: 5663525 Pemasaran/Iklan: 5663527 Tata Usaha: 5667139, 5667141, 5674211. Fax.: (021) 5683785. Bank: BUKOPIN Cabang. S. Parman Jakarta No. Rekening 14.0010. 2.003 BNI Cabang Senayan Jakarta No. Rekening 001.284.001. Pencetak: PT. Temprint (isi di luar tanggungjawab percetakan)

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan