SUDAH 49 tahun Indonesia merdeka, dan syair lagu “Dari Sabang sampai Merauke, berjajar pulau-pulau, sambung menyambung menjadi satu, itulah Indonesia”, tampaknya tetap relevan untuk kita kemukakan. Secara fisik Sabang termasuk Kawasan Barat Indonesia dan Merauke terletak di Kawasan Timur Indonesia. Kalau orang-orang di ujung utara Sumatera itu berkulit sawo matang dan berambut lurus, maka orang-orang di ujung timur Indonesia itu berkulit hitam dan berambut kering. Memang berbeda sekali antara satu kutub dan kutub lain dari negara kita, tetapi itulah Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda-beda tapi tetap satu jua.
Apakah perbedaan dalam hal kesejahteraan dan pendapatan masyarakat antar kedua kawasan itu bisa ditoleransikan dalam pengertian Bhinneka Tunggal Ika? Tentu saja tidak. Pikiran itu harus dibuang jauh-jauh. Pembangunan Nasional memiliki makna pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan untuk seluruh rakyat Indonesia. Tidak boleh ada satu pun kelompok masyarakat yang tertinggal. Meskipun dalam realitasnya hanya sekelompok kecil rakyat Indonesia yang telah menikmati porsi terbesar hasil pembangunan, namun hal ini harus segera diakhiri. Apakah persatuan dan kesatuan bangsa dapat terus terpelihara dan lestari kalau ketimpangan antardaerah dan antarkelompok masyarakat masih menganga lebar? Bukan mustahil ideologi Pancasila sebagai perekat kesatuan bangsa dapat terkikis karena faktor kecemburuan sosial ini. Pastilah bukan hal ini yang dikehendaki oleh The Founding Fathers bangsa Indonesia.
Pilihan tema “Pembangunan Daerah” pada No. 8 – Agustus 1994 bertepatan dengan HUT ke-49 RI. Mungkin inilah cara Prisma memperingati hari kemerdekaan. Kita merdeka dari penjajahan, kemiskinan, ketertinggalan dan kebodohan. Sebagai media masa yang memiliki misi edukatif kiranya perlu juga mengedepankan masalah pendidikan. Bagaimana caranya memajukan tingkat pendidikan masyarakat di Indonesia Bagian Timur agar tidak terjadi gap intelektualitas antarkawasan di Indonesia? Para pengusaha besar yang telah membedah perut bumi, membabat kekayaan hutan, menyedot hasil laut dan kegiatan bisnis lainnya di kawasan Timur Indonesia mungkin dapat berperan aktif. Misalnya dengan membelikan buku dan majalah ilmiah kepada perpustakaan di berbagai perguruan tinggi di Indonesia Timur. Saudara-saudara kita di sana pasti akan gembira menerima bingkisan buku dan majalah.
Pengetahuan memang komoditi mahal, tapi amat vital dan strategis. Kita tidak menginginkan adanya gap atau ketertinggalan antarkawasan. Kitapun tidak mengharapkan bangsa Indonesia tertinggal dibandingkan dengan negara lain. Redaksi
_____________________________________________________________
Penerbit: PT Pustaka LP3ES Indonesia, Anggota SPS. ISSN 0301-6269. SIUPP: No. 072/SK/MENPEN/SIUPP/ D.I/1986, 4 Maret 1986.
Pemimpin Umum: Arselan Harahap. Pemimpin Perusahaan: Maruto MD. Pemimpin Redaksi: Ismid Hadad. Dewan Redaksi: Daniel Dhakidae (Ketua), Taufik Abdullah, M. Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin, Rizal Ramli, Didik J. Rachbini, Vedi R. Hadiz. Redaktur Pelaksana: Paulus Widiyanto Staf Redaksi: E. Dwi Arya Wisesa, Harry Wibowo Sekretaris Redaksi: Eriko Sustia.
Produksi: Bambang Soeteojo (Manajer), Awan Dewangga, Yahya Sukaria, Idjas Saham, Teguh Supriyanto. Pemasaran: Arys Sutarman (Manajer), Anda Z. Noerzy, M. Sholeh, Jinan Muhammad. Iklan: Maruto MD. Tata Usaha: Soetadi Rahardjo (Kepala), Sudartoto, M. Jayani SA, Achmad Rifai. Alamat: Jl. S. Parman 81, Jakarta 11420 Kotak Pos 6275/11062 Telepon Redaksi: 5663525 Pemasaran/Iklan: 5663527 Tata Usaha: 5667139, 5667141, 5674211. Fax.: (021) 5683785. Bank: BUKOPIN Cabang. S. Parman Jakarta No. Rekening 14.0010. 2.003 BNI Cabang Senayan Jakarta No. Rekening 001.284.001. Pencetak: PT. Temprint (isi di luar tanggungjawab percetakan)