SELAMA ini Bank Dunia senantiasa memberikan penilaian positif terhadap pembangunan ekonomi Indonesia. Laporan khusus Bank Dunia yang terakhir bahkan menyebutkan bahwa selama 25 tahun Indonesia mencapai pertumbuhan Produk Domestik Bruto rata-rata 6 persen per tahun dan tingkat inflasi rata-rata kurang dari 10 persen. Sedangkan utang pemerintah, baik yang bersifat jangka panjang maupun jangka pendek, sampai akhir 1992 berjumlah $ 18,2 milyar untuk jangka pendek dan $ 16,9 milyar untuk jangka panjang.
Bagaimana kenyataan ekonomi tahun 1994? Tampaknya kekhawatiran terhadap bakal naiknya angka inflasi menjadi double digit pada tahun 1994 cukup beralasan, mengingat meningkatnya harga beberapa komoditi, misalnya harga semen di dalam negeri akhir-akhir ini. Ekspor nonmigas pada Semester I tahun 1994 juga merosot bila dibandingkan dengan angka ekspor pada tahap yang sama tahun yang lalu. Defisit transaksi berjalan pun membengkak dua kali lipat. Utang luar negeri sampai Juni 1994 dikabarkan telah mencapai $ 86,5 milyar, meliputi 66,1 persen pinjaman pemerintah dan 33,9 persen pinjaman swasta/BUMN. Debt Service Ratio pun telah mencapai 32 persen. Bagi kita, fakta ini memang cukup mengkhawatirkan.
Konsep pembangunan ekonomi Indonesia memang disusun berdasarkan model pembangunan versi Bank Dunia. Konsep ini bahkan telah dianggap sakral sehingga jarang muncul gugatan terhadap model tersebut. Industrialisasi yang dilaksanakan di Indonesia dengan menerapkan konsep Bank Dunia ternyata menghasilkan jurang pemisah antar kelompok-kelompok masyarakat, juga antara usaha skala besar dan usaha skala menengah/kecil di Indonesia. Sampai sekarang dari konsep Bank Dunia itu belum muncul pemikiran yang jitu bagi pengembangan industri kecil, suatu jenis usaha yang pada kenyataannya merupakan sektor yang menyerap banyak tenaga kerja. Kita memang mengimpikan berkembangnya kelompok usaha kecil sehingga dapat berperan sebagai suatu instrumen peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Konferensi internasional tentang usaha kecil baru saja berlangsung di Jakarta. Namun ternyata gemanya tidak terlalu bergaung di tengah masyarakat. Dia kalah dibandingkan dengan gegap gempitanya rencana penyelenggaraan konferensi APEC di Bogor bulan November 1994 mendatang. Dalam hal ini masyarakat usaha kecil Indonesia masih perlu bersabar lagi untuk melihat munculnya perhatian yang lebih besar terhadap dirinya.
Kiat baru apalagi yang akan diterapkan bagi pengembangan usaha kecil, kalau sumber dana tampaknya kian sulit diperoleh mengingat keadaan perekonomian Indonesia yang masih kurang menentu? Redaksi
—————————————————————————————————-
Penerbit: PT Pustaka LP3ES Indonesia, Anggota SPS. ISSN 0301-6269. SIUPP: No. 072/SK/MENPEN/SIUPP/ D.I/1986, 4 Maret 1986.
Pemimpin Umum: Arselan Harahap. Pemimpin Perusahaan: Maruto MD. Pemimpin Redaksi: Ismid Hadad. Dewan Redaksi: Daniel Dhakidae (Ketua), Taufik Abdullah, M. Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin, Rizal Ramli, Didik J. Rachbini, Vedi R. Hadiz. Redaktur Pelaksana: Paulus Widiyanto Staf Redaksi: E. Dwi Arya Wisesa, Harry Wibowo Sekretaris Redaksi: Eriko Sustia.
Produksi: Bambang Soeteojo (Manajer), Awan Dewangga, Yahya Sukaria, Idjas Saham, Teguh Supriyanto. Pemasaran: Arys Sutarman (Manajer), Anda Z. Noerzy, M. Sholeh, Jinan Muhammad. Iklan: Maruto MD. Tata Usaha: Soetadi Rahardjo (Kepala), Sudartoto, M. Jayani SA, Achmad Rifai. Alamat: Jl. S. Parman 81, Jakarta 11420 Kotak Pos 6275/11062 Telepon Redaksi: 5663525 Pemasaran/Iklan: 5663527 Tata Usaha: 5667139, 5667141, 5674211. Fax.: (021) 5683785. Bank: BUKOPIN Cabang. S. Parman Jakarta No. Rekening 14.0010. 2.003 BNI Cabang Senayan Jakarta No. Rekening 001.284.001. Pencetak: PT. Temprint (isi di luar tanggungjawab percetakan)