SEORANG pejabat kolonial Hindia Belanda pernah berujar, “Indonesia yang telah dijajah selama tiga setengah abad akan tetap berada dalam naungan Belanda selama tiga ratus tahun lagi.” Dia berbicara sesuai konteks zaman ketika kaum pergerakan nasional Indonesia sedang gencar mengintip peluang kemerdekaan. Anak-anak zaman sekarang dengan fasih menjawab Belanda menjajah selama tiga setengah abad terhadap pertanyaan berapa lama Belanda bercokol di Indonesia. Secara sadar kita menanam pengertian kepada mereka bahwa belenggu penjajahan harus dilenyapkan dengan menunjukkan banyak “negara” di Indonesia ketika memasuki abad ke-20 yang masih berdaulat.
Belum lagi menyinggung “pembinaan nasion” yang belakangan tidak berhenti didengungkan. Seorang ilmuwan pernah berargumen menetapkan ciri-ciri suatu nasion dengan sangat mementingkan faktor kejiwaan hasrat ingin bersatu. Ilmuwan ini melupakan faktor-faktor penting lainnya, termasuk wilayah. Mustahil membayangkan adanya nasion tanpa wilayah tempat berpijak, berkembang, atau berjuang. Gagasan lain menunjukkan nasion sebagai kategori historis yakni persekutuan yang mantap dari orang-orang yang tersusun menurut sejarah, terbentuk berdasarkan satu bahasa, wilayah, kehidupan ekonomi bersama dan susunan kejiwaan yang terjelma dalam satu kebudayaan bersama.
Bagaimana meletakkan nasion dalam wilayah yang sekarang dinamakan Indonesia? Sangat tepat bila dikatakan berkumpulnya beberapa pemuda yang merangkum hasil diskusi mereka sebagai Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 tentang “Satu Tanahair, Bangsa, dan Bahasa,” memenuhi keperluan penting bagi kelengkapan suatu nasion. Identitas yang ditegaskan berhadapan langsung dengan pengalaman sebagai rakyat jajahan. Mereka memberi sesuatu pada zamannya dan “diaktualisasikan” hingga kini.
Semangat Oktober 1928 telah menjadi sejarah. Semangat itu pula yang kini harus dipikul “generasi penerus” untuk mengisi kemerdekaan yang telah direbut generasi sebelumnya. Hal serupa dialami oleh hari dan bulan yang dianggap bersejarah. Sekian banyak peristiwa dalam satu hari tidak dapat begitu saja diperingati setiap tahun. Peristiwa yang mempunyai bobot mendalam, seperti Sumpah Pemuda, serta melalui seleksi sosial politik disahkan sebagai hari bersejarah.
Kontroversial dalam penulisan sejarah belakangan ini di Indonesia muncul karena pelaku, saksi dan pengamat sekaligus lebur menjadi penulis yang ingin berdiri bebas di atas semua peristiwa. Namun yang jelas persoalan yang menimbulkan kontroversial semakin membuktikan sejarah Indonesia tidak “sekering” menurut anggapan sebagian orang. Sejarah memang tidak sekadar dipakai untuk menjelaskan masa lampau. Sejarah bergerak makin maju ke depan dan mustahil kembali ke belakang. Redaksi
___________________________________________________________________
Penerbit: PT Pustaka LP3ES Indonesia, Anggota SPS. ISSN 0301-6269. SIUPP: No. 072/SK/MENPEN/SIUPP/ D.I/1986, 4 Maret 1986.
Pemimpin Umum: Arselan Harahap. Pemimpin Perusahaan: Maruto MD. Pemimpin Redaksi: Ismid Hadad. Dewan Redaksi: Daniel Dhakidae (Ketua), Taufik Abdullah, M. Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin, Rizal Ramli, Didik J. Rachbini, Vedi R. Hadiz. Redaktur Pelaksana: Paulus Widiyanto Staf Redaksi: E. Dwi Arya Wisesa, Harry Wibowo Sekretaris Redaksi: Eriko Sustia.
Produksi: Bambang Soetedjo (Manajer), Awan Dewangga, Yahya Sukaria, Idjas Saham, Teguh Supriyanto. Pemasaran: Arys Sutarman (Manajer), Anda Z. Noerzy, M. Sholeh, Jinan Muhammad. Iklan: Maruto MD. Tata Usaha: Soetadi Rahardjo (Kepala), Sudartoto, M. Jayani SA, Achmad Rifai. Alamat: Jl. S. Parman 81, Jakarta 11420 Kotak Pos 6275/11062 Telefon Redaksi: 5663525 Pemasaran/Iklan: 5663527 Tata Usaha: 5667139, 5667141, 5674211. Fax.: (021) 5683785. Bank: BUKOPIN Cabang. S. Parman Jakarta No. Rekening 14.0010. 2.003 BNI Cabang Senayan Jakarta No. Rekening 001.284.001. Pencetak: PT. Temprint (isi di luar tanggungjawab percetakan)