Pengantar
Masalah pengembangan masyarakat mencakup banyak dimensi. Tapi barangkali pengertiannya yang paling sederhana adalah bagaimana menciptakan suatu tingkat kelayakan hidup yang harmonis lahir batin bagi anggota masyarakat itu sendiri.
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih luas tentang aspek-aspek manakah yang terpokok dalam pengembangan suatu masyarakat serta apa saja yang menjadi hambatan-hambatannya, maka dalam Dialog kita kali ini tampil tiga orang dari latarbelakang profesi yang berbeda, tetapi bergerak di bidang yang sama: pengembangan masyarakat, khususnya pengembangan masyarakat desa. Yang pertama, dr. Muhtadi, seorang dokter yang hidup di desa dan bercita-cita untuk mengembangkan masyarakat desa berdasarkan kondisi atau kemampuan rakyat desa itu sendiri. Yang kedua, Scott W. Morris, orang asing yang memimpin Kelapa Dua Human Development Project, salah satu proyek dari Institute of Cultural Affairs (ICA) yang dijalankan di tiga desa: Asam, Dahung dan Nurdin, yang letaknya 6 km sebelah selatan Tangerang. Dia berbicara tentang prinsip pengembangan masyarakat, yaitu “to help people to help themselves”, menolong orang untuk menolong dirinya sendiri. Yang ketiga, K. H. M. A. Sahal Mahfudh, kiyai dari Pesantren Maslakul-Huda, di Kajen, Pati. Menarik mengikuti pandangannya, karena kenyataan, pesantren sekarang tidak hanya memusatkan perhatiannya pada soal-soal keagamaan atau pendidikan saja. Ia juga telah banyak berperan dalam masalah pengembangan masyarakat.
Secara umum, ketiganya memiliki pandangan-pandangan yang tidak jauh berbeda, bahwa pengembangan masyarakat itu harus dimulai dari bawah, dan bagaimana menggerakkan partisipasi yang kreatif dari anggota masyarakat itu sendiri. Redaksi.
Pola dari Jakarta tidak selalu cocok, Muhtadi, Dokter Puskesmas Margoyoso, Pati
Setiap program pembangunan desa yang dibuat seharusnya memperhatikan terlebih dahulu kondisi tiap-tiap desa. Jangan dibuat generalisasi dengan melaksanakan suatu program atau pola yang sama di setiap desa. Dalam kenyataannya, tiap-tiap desa memiliki banyak perbedaan yang tidak bisa disamaratakan begitu saja, misalnya perbedaan kondisi geografis, kondisi sosial ekonomi maupun perbedaan sistem nilai atau kebudayaan. Faktor-faktor seperti ini ikut memberikan ciri yang khas bagi pola perkembangan serta ikut membentuk watak penduduknya.
Dengan menyadari perbedaan ini, kita tidak seharusnya selalu mengulangi kesalahan yang sama yang hanya menimbulkan kegagalan dalam melaksanakan program pembangunan desa, yaitu dengan memaksakan suatu program atau pola yang sama di setiap desa.
Pembangunan dari bawah
Secara umum pola atau program pembangunan yang dijalankan di tiap-tiap desa merupakan hasil rumusan para ahli di Jakarta melalui lokakarya dan seminar-seminar tentang pedesaan. Mereka berbicara tentang kemiskinan, tentang rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan yang wajar (garis kemiskinan), kemudian dikeluarkan berbagai peraturan atau kebijaksanaan. Tetapi apakah kebijaksanaan hasil lokakarya dan seminar para ahli ini cocok untuk dilaksanakan di setiap desa, dengan mengabaikan realitas masyarakat setempat?

Dari keputus-asaan ke partisipasi kreatif, Scott W. Morris, Direktur Kelapa Dua Human Development Project
Tiap masyarakat pada hakekatnya memiliki unsur-unsur untuk memulai suatu human development project. Sudah terbukti, bahwa di mana ada masyarakat di sanalah pula dijumpai kesediaan dan kebutuhan untuk mengadakan perubahan-perubahan sosial yang kreatif.
Prinsip yang kami anut dalam pembangunan masyarakat (khususnya masyarakat desa) ialah untuk membantu orang untuk membantu diri mereka sendiri, jadi tidak sekedar memberikan bantuan tetapi juga membuat mereka bisa berdiri sendiri. Jadi, ibaratnya memberikan alat pancing kepada mereka sehingga dengan alat itu mereka bisa mendapatkan ikan. Dalam pembangunan masyarakat, prinsip ini juga dapat mendorong terwujudnya swasembada ekonomi dan kemandirian sosial.
Pembangunan ekonomi desa
Pembangunan ekonomi yang efektif di tingkat lokal/desa sekurang-kurangnya harus didasarkan pada beberapa prinsip pokok. Pertama, masyarakat harus digambarkan sebagai suatu kesatuan ekonomi yang berdiri sendiri yang mengutamakan pengembangan ekonomi. Tanpa pengarahan ini, usaha-usaha pembangunan ekonomi akan mudah terbengkalai. Kedua, usaha untuk meningkatkan peredaran uang ke dalam masyarakat harus direncanakan. Ini dilakukan dengan meningkatkan produksi bahan-bahan mentah dan menjual barang-barang ke luar daerah, membuka kesempatan kerja bagi penduduk setempat, berusaha menarik pedagang-pedagang luar ke dalam daerah, mengusahakan pinjaman-pinjaman kredit, berusaha memperoleh dana-dana pemerintah dan bantuan barang-barang. Ketiga, sebanyak mungkin dana dari luar dimasukkan ke dalam dan dipertahankan selama mungkin dalam masyarakat itu. Hal ini dapat dilakukan dengan mengusahakan sebanyak mungkin produksi barang-barang konsumsi dan pelayanan-pelayanan, pengembangan industri dan perdagangan setempat serta mempertinggi keterampilan penduduk. Keempat, dana-dana yang mengalir ke dalam dan telah dipertahankan itu, harus diedarkan secepat mungkin secara kontinu di dalam kesatuan ekonomi setempat. Hal ini sangat penting dan menentukan, karena uang itu harus beredar terlebih dahulu berkali-kali di dalam masyarakat itu sebelum mengalir ke luar. Terakhir, walaupun masyarakat harus memperkuat sistem perekonomiannya sendiri, usaha mereka pun harus diselaraskan dengan kesatuan ekonomi yang lebih luas, di lingkungan kota, propinsi bahkan pada taraf internasional.

Membangun harus dari bawah, K.H.M.A. Sahal Mahfudh, Pengasuh Pesantren Maslakul-huda, Desa Kajen, Pati, Jawa Tengah
Dalam pembangunan masyarakat desa, sesungguhnya kita tidak perlu memulai dengan membuat konsep-konsep besar, tetapi cukup dengan program-program sederhana yang kongkrit dan yang dapat dilaksanakan. Seringkali program-program pembangunan desa gagal justeru karena konsepnya terlampau bagus sehingga tidak cocok lagi dengan keadaan di desa.
Menurut pendapat saya pembangunan masyarakat desa, sebaiknya dimulai dengan bertitik-tolak dari kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat, atau jelasnya, pembangunan yang dimulai dari bawah.
Perbaikan kondisi sosial
Kita semua tahu bahwa masalah pokok dalam pembangunan desa adalah bagaimana memberantas atau minimal mengurangi kemiskinan yang sudah begitu jauh melingkar dalam seluruh kehidupan rakyat desa. Kemiskinan ini merupakan pangkalnya. Karena setiap kali program-program pembangunan yang dijalankan ternyata belum juga berhasil mengurangi kemiskinan, maka semakin menipislah harapan mereka akan hasil pembangunan itu. Mereka lalu menyerahkan dirinya kepada nasib, menjadi apatis.
Mereka bosan terhadap penyuluhan-penyuluhan yang sering diadakan karena ternyata tidak membawa perbaikan bagi taraf hidupnya. Daripada harus mendengar penyuluhan-penyuluhan, mereka merasa lebih baik melakukan pekerjaan lain yang dapat membawa tambahan pendapatan walaupun pendapatannya itu mungkin kecil. Banyak kasus membuktikan program-program pembangunan masyarakat desa yang datangnya dari atas, sedikit banyaknya selalu mengalami kegagalan atau kurang berhasil. Program-program yang dijalankan seperti Bimas, KUD, BUUD dan lain sebagainya itu memang pada dasarnya merupakan suatu yang baik, tetapi dalam pelaksanaannya di tingkat desa, dapat berubah menjadi lain. Kelainan ini disebabkan oleh banyak faktor yang saling melingkar. Karena itu, memang sulit dicari di mana letak kesalahannya. Tetapi yang jelas, program-program seperti itu bertujuan untuk mengalirkan modal ke desa, sehingga ada tambahan modal untuk meningkatkan produksi. Adanya peningkatan produksi berarti juga ada peningkatan pendapatan, sekaligus perbaikan taraf hidup. Memang benar desa membutuhkan modal. Tapi modal yang dibutuhkan ialah yang dapat dimanfaatkan oleh seluruh lapisan masyarakat atau
