Untuk keberhasilan growth-cum-debt strategy, diperlukan peningkatan ekspor yang cukup untuk membayar hutang luarnegeri, kenaikan penerimaan pemerintah dari pajak, adanya cadangan luar negeri yang memadai, serta jangka waktu pembayaran hutang luar negeri sepanjang mungkin. Namun, berbagai perkembangan ekonomi internasional telah menggoyahkan strategi ini, dan harus dihadapi Indonesia dengan melakukan berbagai penyesuaian internal.
Pendahuluan
PERKEMBANGAN eksternal yang kurang menggembirakan sejak awal 1980-an telah menggoyahkan landasan pokok growth-cum-debt strategy Indonesia. Dalam strategi seperti itu, pemerintah mengandalkan pemasukan modal asing sebagai suplemen tabungan domestik dalam membiayai pembangunan nasional. Pemasukan modal asing tersebut terutama dalam bentuk bantuan serta pinjaman luar negeri. Penanaman modal asing hanya menonjol di sektor pertambangan, khususnya penambangan minyak dan gas bumi (migas). Undang-Undang dan peraturan tentang penanaman modal sangat membatasi peranan modal asing di sektor pertanian, sektor industri manufaktur dan sektor industri jasa-jasa.
* Makalah ini merupakan perbaikan dari makalah penulis, dengan judul “Prospek Neraca Pembayaran 1988-1990”, yang disampaikan sebagai makalah utama dalam Seminar Sehari untuk memperingati Hari Ulang Tahun ke-5 Harian Jakarta Post, Hyatt Aryaduta Hotel, Jakarta, 25 Mei 1988. Penulis mengucapkan terimakasih kepada Dr. Hadisusastro, Willem A. v/d Wall Bake, Dr. Djisman Simanjuntak beserta para peserta Seminar tersebut yang telah memberikan kritik dan masukan balik.