Masalah cendekiawan sudah lama menjadi pokok diskusi dalam masyarakat Barat. Diskusi-diskusi ini telah menghasilkan berbagai definisi tentang hakekat, peranan serta kepentingan cendekiawan. Menurut Lewis Coser, cendekiawan adalah orang-orang, “yang kelihatannya tidak pernah puas menerima kenyataan sebagai mana adanya … Mereka mempertanyakan kebenaran yang berlaku pada suatu saat, dalam hubungannya dengan kebenaran yang lebih tinggi dan lebih luas”.1 Edward Shils membuat perumusan yang serupa. Menurut pandangannya, kaum cendekiawan adalah orang-orang yang mencari “kebenaran”; mencari prinsip-prinsip yang terkandung dalam kejadian-kejadian serta tindakan-tindakan, atau dalam proses penjalinan hubungan antara Pribadi (the Self) dan Hakekat (the Essential), baik hubungan yang bercorak pengenalan (cognitive) penilaian (appreciative) atau pun pengutaraan (expressive).2
Apakah motif orang-orang yang berperan sebagai cendekiawan? Kaum ilmiawan non-Marxist mengemukakan bahwa motif mereka adalah kegairahan untuk berbakti kepada kebenaran. Ini sehubungan dengan asal-usul keagamaan dari peranan cendekiawan itu. Karena memang kaum pendetalah yang dahulu memainkan peranan cendekiawan itu. Cendekiawan keagamaan tidak mempunyai kepentingan duniawi, tidak boleh menarik keuntungan sosial ataupun politis. Karena itulah, Julien Benda berbicara tentang pengkhianatan cendekiawan pada awal abad ke dua puluh ini, ketika kaum cendekiawan mulai terlibat dalam percaturan politik. Menurut Benda, cendekiawan seharusnya adalah “orang-orang, yang kegiatan hakikinya bukan mengejar tujuan-tujuan praktis. Cendekiawan adalah orang yang mencari kegembiraan dalam lapangan kesenian, ilmu pengetahuan atau teka-teki metafisika; singkatnya dalam hal-hal yang tidak menghasilkan keuntungan kebendaan, dan dengan demikian dalam arti tertentu, bisa mengatakan bahwa: “Kerajaanku bukanlah di dunia ini”.3 Mennheim mengemukakan pandangan serupa ketika ia mengatakan bahwa cendekiawan sebagai suatu kelompok merupakan semacam lapisan yang terapung bebas dalam masyarakat, tanpa pertalian dengan suatu kelas tertentu.
* Artikel ini merupakan terjemahan dari paper dalam Bahasa Inggeris yang disampaikan oleh penulis dalam Seminar tentang Peranan Kaum Cendekiawan dalam Masyarakat Asia dewasa ini di Mexico, 3-8 Agustus 1976.
1 Lewis A. Coser, Men of Ideas (New York: The Free Press, 1965), hal. viii.
2 Edward Shils, The Intellectuals and the Powers and Other Essays, (Chicago & London: The University of Chicago Press, 1972), hal. 16.
3 Julien Benda, The Treason of the Intellectuals, (New York: William Morrow & Company, 1928), hal. 43.
