Dasawarsa terakhir ini merupakan masa pertumbuhan yang spektakuler bagi perbankan di Timur Tengah, terutama di sekitar Teluk Arab. Ada dua hal yang sangat membantu pertumbuhan yang luar biasa itu, yakni menumpuknya dollar minyak yang memerlukan pemutaran kembali dan menurunnya peran Beirut sebagai akibat perang saudara yang berkepanjangan. Beirut semula merupakan perantara finansial bagi wilayah itu dan sebagian besar dari investasi Arab semula disalurkan lewat 70 bank asing dan domestik di Beirut. Sekarang walaupun beberapa bank sudah dibuka kembali di Beirut, namun bisnis di sana hanyalah merupakan tetesan kecil saja dibandingkan dengan sebelumnya. Beberapa pusat keuangan baru telah mencoba mengganti peranan Beirut ini; Kairo, Amman dan Bahrein tampaknya sedang merintis jalan ke arah itu. Kairo misalnya telah berhasil menarik beberapa bank asing sebagai hasil politik pintu terbukanya akhir-akhir ini. Masa bebas pajak selama lima tahun, dan kebebasan mengirimkan laba ke negara asal diberikan kepada usaha-usaha baru ini, demikian juga batas maksimum bunga 7% dari zaman Nasser dulu telah ditiadakan. Beberapa bank asing yang kini beroperasi di Kairo antara lain adalah FNCB, Chase Manhattan dan Credit Lyonnais.
Amman, yang menawarkan kelebihan dalam birokrasi yang bersih, fasilitas komunikasi yang baik sekali dan tiadanya kongesti yang kronis seperti Kairo, juga mulai mencoba ke arah sana. Ada kebebasan mutlak dalam transfer mata uang, tak ada pajak untuk keuntungan yang diperoleh di luar negeri dan tak ada pula bea pendaftaran untuk berbagai bisnis. Namun dengan semua tawaran ini Amman hanya berhasil menarik beberapa gelintir bankir Beirut saja.
Perbankan “lepas-pantai” di Bahrein
Dari semua pesaing ini tampaknya Bahrein lebih mendekati peranan Beirut di masa lalu. Sejak diundangkannya peraturan tentang “perbankan lepas pantai” (off-shore banking) di tahun 1975, jumlah bank yang mendapat izin operasi meningkat secara dramatis; 16 bank pada pertengahan tahun 1976, 33 di tahun 1977 dan diharapkan mencapai 40 bank ditahun 1978.
Bank-bank lepas pantai ini tidak dibenarkan berhubungan langsung dengan penduduk Bahrein, tetapi harus lewat bank lokal atau badan-badan pemerintah. Namun bank-bank itu bebas beroperasi di wilayah itu, termasuk di Arab Saudi, negara-negara sekitar dan melakukan transaksi-transaksi internasional. Pada akhir 1977 yang lalu, aktiva total bank-bank lepas pantai ini mencapai 15 milyar dollar, yang sama besarnya dengan Pasar dollar Asia di Singapura. Bank-bank itu umumnya harus membayar biaya tahunan sebesar 25.000 dollar untuk memperoleh izin, dan di antara yang telah beroperasi penuh adalah Lloyds dan the Midland dari Inggeris, Commerzbank dari Jerman, Algemene Bank Nederland, Societe Generale dan Banque National de Paris dari Perancis, di samping bank-bank raksasa Amerika. Bank-bank lepas pantai ini harus melaporkan neracanya setiap bulan, meskipun tidak diwajibkan menyimpan cadangan pada Penguasa Moneter Bahrein atau menjaga ratio likwiditas tertentu.
* Laporan ini diikhtisarkan dari tulisan Peter Finch, “Growth of Inter-Gulf Banking Operations” dalam Middle East Annual Review (1978); R. J. Wilson, “Perbankan: Persaingan untuk Peran Beirut”, Buku Tahunan Timur Tengah 1978; Alan E. Moore, “Pengembangan Perbankan Teluk”, dan Nancy A. Shiling, “Pertumbuhan Perbankan Investasi di Kuwait” dalam The Arab Market 1978.