Prisma

Perekonomian Indonesia 1995*

BAGAIMANA prospek perekonomian Indonesia tahun 1995? Bagi saya yang tidak mempunyai “bola kristal” ataupun kemampuan paranormal, satu-satunya cara untuk menjawab pertanyaan ini adalah dengan melihat kembali perkembangan akhir-akhir ini, mengindentifikasi kecenderungan yang mungkin berlanjut, memperkirakan perkembangan baru yang mungkir terjadi 12 bulan mendatang, kemudian mensintesaskan semua hal itu, dan sepanjang logika mampu, selanjutnya menarik kesimpulan yang sedikit lebih konkret mengenai trayek perekonomian Indonesia tahun 1995. Ini tentu mengandung kemungkinan bahwa kesimpulan dapat meleset dari kenyataan. Tetapi karena ini satu-satunya cara yang saya ketahui, dengan segala kerendahan hati saya mencobanya.

Kondisi Ekonomi Tahun 1994 Cukup Baik

Perkembangan perekonomian Indonesia selama tahun 1994 dapat dikatakan baik. Indikasi sementara menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional dapat mencapai sekitar 7%. Hampir semua sektor mengalami peningkatan kegiatan, dengan pengecualian utama pertanian pangan yang harus bergulat dengan adanya kemarau panjang. Ekspor nonmigas mengalami stagnasi pada bulan-bulan pertama tahun 1994, namun kemudian bangkit kembali sejak pertengahan tahun, antara lain karena menguatnya harga berbagai komoditi ekspor Indonesia di pasar dunia. Sementara itu minat investasi, seperti tercermin pada persetujuan PMDN dan PMA, melonjak tajam.

Impor meningkat seiring dengan meningkatnya kegiatan ekonomi dan daya beli masyarakat di dalam negeri. Impor beberapa kelompok barang seperti bahan kimia, kendaraan bermotor dan bahan bangunan meningkat tajam, menggambarkan bidang-bidang usaha mana yang memimpin peningkatan kegiatan ekonomi tahun (kalender) 1994. Untuk seluruh tahun tersebut, impor meningkat lebih cepat daripada ekspor, sehingga defisit transaksi berjalan dalam neraca pembayaran sedikit melebar menjadi US$ 3,3 miliar atau 2,1% dari PDB. Defisit transaksi berjalan sebesar ini umumnya dianggap masih aman.

Inflasi dalam tahun 1994 cukup tinggi meskipun masih single digit, yaitu 9,24%. Sebagai pelipur lara, angka ini masih sedikit lebih rendah daripada angka inflasi tahun 1993 yang lalu (9,77%). Penyumbang utama terhadap inflasi tahun 1994 adalah kelompok

bahan makanan dan kelompok perumahan. Harga beras merupakan penyebab utama kenaikan harga kelompok bahan makanan. Produksi beras di dalam negeri berkurang karena kemarau panjang melanda daerah-daerah penghasil beras penting di tanah air. Beberapa bahan makanan seperti kopi, teh, minyak sawit, lada, mengalami kenaikan harga di pasar dunia dan ini segera diiringi oleh peningkatan harganya di dalam negeri. Pada putaran selanjutnya, kenaikan harga dunia berbagai komoditi ini dan komoditi lain seperti karet meningkatkan penghasilan para petani komoditi-komoditi ini dan selanjutnya meningkatkan belanja mereka untuk makanan dan berbagai barang kebutuhan lainnya. Dalam pada itu kenaikan harga dalam kelompok perumahan, terutama disebabkan oleh peningkatan yang luar biasa dalam kegiatan di bidang properti dan real estates. Gejolak harga dan kelangkaan semen menjadi berita, tetapi pesatnya peningkatan kegiatan di bidang properti ini sebenarnya memberi tekanan kepada harga bahan-bahan bangunan secara umum dan mengakibatkan kenaikan impor barang-barang yang berkaitan dengan kegiatan ini. Dengan meningkatnya daya beli masyarakat secara luas, tahun 1994 merupakan tahun yang baik bagi perdagangan berbagai barang konsumsi, termasuk barang konsumsi tahan lama (durable consumer goods) seperti mobil.

Bulan-bulan pertama tahun 1994 yang lalu ditandai oleh dua peristiwa yang kurang menyenangkan. Pertama, dalam bulan Februari mulai santer beredar desas-desus, yang tidak jelas sumbernya, bahwa akan ada devaluasi Rupiah, karena pada waktu itu berbagai indikator ekonomi (harga minyak, ekspor nonmigas, laju inflasi, ketekoran APBN dan sebagainya) menunjukkan perkembangan yang tidak terlalu baik. Suasana diperburuk dengan timbulnya keresahan pekerja di ber-

bagai daerah yang sebagian kemudian berkembang menjadi kericuhan dan aksi pengrusakan. Meskipun benar bahwa beberapa indikator ekonomi tidak sesuai dengan yang diharapkan, kondisi fundamental perekonomian Indonesia sebenarnya cukup baik dan mantap. Namun kenyataannya adalah tidak sedikit kelompok masyarakat di dalam negeri yang termakan isu devaluasi tersebut dan beramai-ramai membeli dolar. Borongan dolar berlanjut cukup lama, sampai bulan Juni, dan kemudian mereda (dengan sendirinya karena isu tidak menjadi kenyataan) dan bahkan mulai berbalik menjadi penjualan dolar ke pasar atau kepada Bank Indonesia. Saya yakin tidak sedikit diantara mereka yang setelah melakukan introspeksi, merasa rugi karena ikut-ikutan arus. Tapi saya percaya pula bahwa ada sementara pihak, di dalam dan di luar negeri, yang justru senyum-senyum dan memperoleh untung dari kekeruhan dan dari melonjaknya dana yang mondar-mandir dari Rupiah ke dolar dan sebaliknya. Yang sampai sekarang saya kurang mengerti adalah mengapa masyarakat, termasuk mereka yang tergolong “canggih”, mudah termakan isu seperti itu. Demam pembelian dolar ini tidak berpengaruh banyak terhadap cadangan devisa karena jumlah cadangan devisa yang ada di tangan Bank Indonesia dan di bank-bank sebelum demam itu mulai cukup tinggi. Ini disebabkan oleh adanya aliran dana masuk dari luar negeri yang cukup besar jumlahnya selama tahun 1993.


* Tulisan ini berisi pandangan pribadi penulis dan sama sekali tidak merupakan pandangan dari suatu instansi.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan