Pengantar
Peranan pers yang diharapkan dapat menyuarakan kepentingan publik dipertanyakan kembali oleh sekelompok editor muda – generasi kemerdekaan – dari berbagai media massa dan penerbit di Jakarta, yang berkumpul dalam “sarasehan” yang diselenggarakan Prisma, Jum’at malam, 26 Juli 1985 yang lalu. Setidak-tidaknya pertanyaan itu berkembang dalam pembicaraan “santai” tapi serius. Muncul “gugatan” terhadap pola pendekatan pers nasional – dan tentu juga kepada diri para editor muda – yang kadangkadang boleh jadi mengabaikan kepentingan publik.
Pers Indonesia menghadapi dilema: mempertahankan idealisme dan pendiriannya sebagai penyalur kepentingan publik atau sekedar menjadi lembaga bisnis yang hanya menjual berita. Sebagai salah satu subsistem dari seluruh sistem yang ada di Indonesia, pasang naik dan pasang surut pers tampaknya tidak terlepas dari sistem politik yang berlaku.
Karena sulit berkelit, maka pers pun sering bersifat “semu” dalam pola pemberitaannya. Ini makin mengental, sehingga oleh beberapa editor muda ini pers Indonesia dipandang tidak mencerminkan keadaan sebenarnya dari masyarakat, dan masih jauh dari peran yang dapat dimainkannya sebagai pengelola pendapat umum.
Mampukah pers Indonesia memperbaiki citranya? Para editor peserta “sarasehan” ini disatu pihak, tampaknya mengalami “kebingungan”, di pihak lain masih berkembang keinginan mencari terobosan di tengah kesulitan yang dihadapinya – dan ini berarti mereka harus kreatif. Tapi justeru kreativitas inilah yang belum muncul di kalangan wartawan: apa dan bagaimana bentuknya yang pas.
Sarasehan ini tak sampai menyimpulkan sesuatu dan memang bukan berkeinginan ke arah itu. Pertemuan pendapat ini hanya sekedar merenungkan dan mengajak para peserta mawas diri tentang peranan pers dan perkembangannya setelah Indonesia merdeka selama 40 tahun. Atau lebih tepat untuk disebut, para editor ini menggugat dirinya sendiri. Tapi dari suasana “bingung” ini paling tidak, bisa dipahami, demikianlah antara lain wajah pers Indonesia.
“Dialog” Prisma kali ini dipetik dari hasil sarasehan editor muda di Jakarta itu, yang dipandu oleh Aswab Mahasin. Urutan nama pembicara dalam laporan ini tidak persis seperti urutan kesempatan berbicara dalam sarasehan tersebut. Para peserta (lihat box) datang sebagai pribadi-pribadi dan mengemukakan pendapat yang bukan mewakili pendapat media atau penerbitan tempat mereka bekerja. Dalam laporan ini disisipkan pula tulisan peserta yang diberikan setelah sarasehan usai. Redaksi
Soal Kepentingan Publik
Aswab Mahasin
Dalam bulan Agustus ini, Republik Indonesia akan berusia empatpuluh tahun. Banyak media dan lembaga swasta lain yang menyelenggarakan diskusi sehubungan dengan ulangtahun ke-40 negara kita ini. Pertemuan dengan para editor muda – yang lahir pada masa pasca kemerdekaan atau sekitar tahun 1940-an – yang diselenggarakan Prisma ini pun berada dalam semangat seperti itu. Tetapi pertemuan ini, atau “sarasehan” ini, tidak memilih topik diskusi yang jelas, dan karena itu pula di sini tidak ada panelis.

Idealisme, Birokrasi dan Kemunafikan
Persoalan yang disampaikan Saudara Masmimmar juga saya rasakan dalam kehidupan sehari-hari sebagai wartawan. Setelah saya membaca tulisan saya sendiri, sering timbul pertanyaan: Mengapa laporan saya “lembek”, tidak kenyal dan melingkar-lingkar? Barangkali hal itu merupakan akibat dari kepentingan tertentu dalam pekerjaan jurnalistik. Kadang-kadang di dalamnya terkait kepentingan ekonomi, atau sekedar memenuhi “bakat” sebagai seorang jurnalis: merasa mampu membuat berita dalam media, lalu tulisan itu dibaca orang, kita merasa puas.
Peranan Pers, Dilema Perjuangan dan Perusahaan,
Ignas Kleden
Kenapa pers Indonesia sekarang berbentuk demikian, dari pembicaraan terdahulu, saya melihat adanya tiga hambatan: kebudayaan, birokrasi/kekuasaan dan perubahan dalam sikap dan perjuangan pers. Tentang hambatan yang muncul dari dalam tubuh pers, tampaknya pers berada dalam suatu dilema. Di satu pihak pers dituntut untuk mempertahankan sikapnya dalam memperjuangkan suatu ide atau isyu; ini berarti secara bersama-sama mereka harus mengonsentrasikan diri pada satu pemberitaan yang vokal. Di pihak lain, terjadi persaingan antara pers sebagai usaha bisnis, dan karena itu ia ingin menyajikan berita yang berbeda demi kelangsungan hidup mereka. Jadi, seakan-akan persaingan ini justeru mencegah kemungkinan kerjasama pers dalam mengembangkan suatu topik atau isyu.
Mencari Terobosan dalam Kesulitan, M. Dawam Rahardjo
Saya teringat akan polemik kebudayaan yang dimuat pada penerbitan tahun 1950-an. Seorang budayawan menulis; bahwa kebudayaan yang tinggi dihasilkan oleh masyarakat yang makmur. Tapi seorang seniman, B. Sutiman, membantah pernyataan itu. Sebab banyak karya sastera yang baik justeru dihasilkan pada situasi yang sulit, menyedihkan dan penuh tantangan. Tantangan inilah yang mengilhami lahirnya karya yang hebat.
